Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Senin, 17/03/2008 08:53 WIB

Nasib AdamAir setelah ditinggal Bhakti

oleh : Hendra Wibawa

Pipi halus Imay, pramugari maskapai penerbangan AdamAir, langsung basah oleh air mata. Suara tangisnya mulai terdengar. "Bhakti tak bertanggung jawab," ucap Imay.

Kepalanya tertunduk, sedangkan tangan kanannya memegang tisu untuk mengusap air mata. Imay tak sendirian. Empat pramugari lain juga tertunduk, menangis.

Di sudut lain, Capt. Daniel Aditya, pilot pesawat AdamAir, tak percaya dengan kondisi tempat ia bekerja saat ini. "Sebelum Bhakti masuk, pesawat kami selalu bertambah, tetapi setelah masuk malah kayak begini," teriak Daniel.

Di Ruang Asean Hotel Sultan Jakarta, Jumat petang, pekan lalu, suasana haru itu terjadi. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sejumlah fotografer dan juru kamera televisi untuk mengabadikan suasana tersebut.

Bhakti yang dimaksud para pramugari dan pilot AdamAir adalah PT Bhakti Investama Tbk, pemilik 50% saham AdamAir melalui PT Global Transport Services (GTS) dan PT Bright Star perkasa (BPS). Proses akuisisi Bhakti melalui kedua anak perusahaannya itu resmi dilakukan pada 12 April 2007.

Di atas kertas, pemegang saham AdamAir ada tiga perusahaan, tetapi pada realitasnya hanya dua perusahaan. Keluarga Suherman menguasai sebesar 50%, sedangkan Bhakti memiliki 50%. Rinciannya, GTS memiliki 19% dan BPS 31%.

Di Ruang Asean itu, Adam Adhitya Suherman, Direktur Utama AdamAir, mengumumkan kondisi terakhir maskapai itu. Adam Adhitya selalu tampil ceria. Pria yang lahir di Cirebon, 29 Juli 1981, ini diberikan kepercayaan oleh keluarga untuk memegang kendali AdamAir.

Bungsu dari empat bersaudara ini membeberkan kondisi maskapai berwarna dominan orange itu yang tengah mengalami defisit keuangan. Ia telah merekomendasikan pemegang saham untuk menginjeksi dana segar guna menyelamatkan perusahaan. Namun, selama pertemuan manajemen dan pemegang saham yang digelar selama sepekan, tak diperoleh keputusan pasti.

"Sampai saat ini, manajemen baru mendapatkan komitmen dari keluarga Suherman yang memiliki 50% saham perusahaan," kata Adam Adhitya.

Di tengah kondisi sulit itu, tiba-tiba muncul berita Bhakti akan keluar dari maskapai yang baru mengalami musibah pesawatnya tergelincir di Bandara Hang Nadim, Batam, pada 10 Maret lalu.

Tidak transparan

Direktur GTS yang juga mantan Wakil Direktur Utama dan Direktur Keuangan AdamAir Gustiono Kustianto mengatakan rencana Bhakti keluar dari AdamAir karena tak ada transparansi dan keselamatan.

"Pertimbangannya terutama tidak ada perbaikan keselamatan semenjak GTS masuk," ujarnya.

Gustiono bahkan telah resmi menarik diri dari manajemen maskapai itu, termasuk Head of Corporate Communication AdamAir Danke Drajat yang kembali ke RCTI, salah satu televisi milik Bhakti.

Pengunduran diri Bhakti, tentu menyulitkan manajemen dalam menjawab pertanyaan 3.000 karyawan dan pihak ketiga, seperti lessor dan supplier pesawat.

Saat ini, sejumlah lessor pesawat telah menarik sejumlah pesawat yang dioperasikan AdamAir. Maskapai itu kini hanya mengoperasikan delapan pesawat Boeing 737 dari berbagai seri, dari sebelumnya 23 unit pesawat. Jumlah penerbangan AdamAir juga terus menyusut. Hasil penelusuran terakhir jumlah penerbangan menjadi tinggal 30-40 penerbangan per hari, dari sebelumnya mencapai 68 penerbangan per hari.

Kasubdit Produksi Pesawat Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Ditjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan M. Alwi mengungkapkan tujuh unit pesawat yang dioperasikan AdamAir terancam ditarik lessor.

Beberapa perusahaan leasing pesawat, ucap Alwi, tak ingin memperpanjang sewa kontrak pesawat kepada Adam Air karena permasalahan bisnis. Di antara perusahaan leasing itu, yakni GE Commercial Aviation Services (GECAS) yang menyewakan dua pesawat Boeing 737.

Data Acas Database yang dirilis Flight Global, menyebutkan Aergo Capital juga memiliki lima pesawat di AdamAir, Airplanes Group tiga pesawat, Jetscape tiga, dan CIT dengan tiga pesawat.

Aviation Capital Group juga memiliki dua pesawat, Lease Flight Investment Trust dua pesawat, AWAS satu pesawat, dan Morgan Stanley Management Services satu pesawat. "Rencana penarikan pesawat itu karena ada masalah financial," ungkap Alwi.

Perseteruan Bhakti dengan Keluarga Suherman terjadi jauh sebelum insiden serius tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 AdamAir di Bandara Hang Nadim, Batam, awal pekan lalu.

Sulitkan kedua pihak

Perseteruan itu terjadi saat AdamAir mengalami kesulitan keuangan selama periode low season. Akuisisi saham AdamAir oleh Bhakti melalui GTS dan BPS pada 12 April 2007, membagi porsi kepemilikan saham sama antara Keluarga Suherman dan Bhakti, 50%:50%. Rumor yang berkembang kepemilikan saham yang berimbang inilah yang menyulitkan kedua belah pihak.

Akibatnya, setiap keputusan pemegang saham harus disetujui oleh Keluarga Suherman dan Bhakti. Saat para lessor pesawat AdamAir meminta kepastian perpanjangan masa sewa pesawat, kedua belah pihak tak mencapai kata sepakat, sampai akhirnya terjadi krisis keuangan.

Namun, Gustiono yang mewakili Bhakti di AdamAir menyebutkan dua alasan utama mundurnya Bhakti, yakni transparansi dan masalah keselamatan.

Kejadian serius tergelincirnya pesawat Boeing 737-400 yang disewa dari CIT di Bandara Hang Nadim, merupakan puncak dari sikap manajemen Bhakti untuk menarik investasinya. Dalam kejadian itu beberapa penumpang mengalami cedera sedangkan roda pendaratan dilaporkan patah.

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin menyayangkan kemelut yang terjadi di AdamAir. "Kami menyarankan agar maskapai penerbangan berhati-hati dengan investor baru," kata Burhanuddin.

Lantas bagaimana nasib karyawan AdamAir? Adam Adhitya berharap Bhakti menanggung separuh dari pesangon karyawan, jika perusahaan yang mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan itu setop operasi.

Gustiono menyatakan pihaknya telah menyerahkan rencana pengunduran diri GTS dan BPS dari AdamAir termasuk akibat yang timbul kepada penasihat hukumnya. "Silakan tanyakan ke penasihat hukum kami," kata Gustiono.

Jadi, Imay, Daniel, dan sekitar 3.000 karyawan AdamAir lainnya harus bersabar menunggu kepastian nasib mereka. Seperti judul lagu Menghitung Hari yang dilantunkan Krisdayanti, Duta AdamAir. (hendra.wibawa@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Sabtu, 11/10/2008 09:49 WIB

    Tundukkan irasionalitas agar survive di bursa

    Oleh : Pudji Lestari

    Sabtu, 11/10/2008 09:49 WIB

    Suburnya budaya berbagi pengetahuan di Internet

    Oleh : Muhammad Sufyan

    Jumat, 10/10/2008 11:41 WIB

    Menakar dampak krisis finansial global

    Oleh : Fauzi Ichsan (Senior Vice President, Standard Chartered Bank)

    Jumat, 10/10/2008 11:40 WIB

    Sektor pertanian memperlihatkan gejala demam

    Oleh : Martin Sihombing & Erwin Tambunan

Komentar

#5 - Jangan Menyerah

Mas Adam, Jangan Menyerah, Bangkit Lagi

Moshadd - Banjarmasin @ 26/03/2008 - 15:18 WIB dari 125.160.50.28 (28.subnet125-160-50.speedy.telkom.net.id)

#4 - ngga' berkah

kaga ada

Rudi - Jakarta/Indonesia @ 22/03/2008 - 17:08 WIB dari 202.80.210.30 (202.80.210.30)

#3 - eks karyawan adam air

gw adalah salah satu eks karyawan adam air.menurut gw hal yang patut di perhatikan adalah 3000 karyawan yang sekarang ga jelas nasibnya,terlepas dari buruknya manajemen air pada waktu itu,gw berdoa semoga para temen2 gw yang masih di adam bisa di berikan kesabaran dari yang diatas,good luck brothers.........gbu

erick - mataram/indonesia @ 20/03/2008 - 11:37 WIB dari 222.124.147.47 (cpi222-47.cp.co.id)

#2 - Adam Air Koq bisa?

Sangat disayangkan, jika berhenti beroperasi.Alangkah ironisnya nasip para karyawan yg jumlahnya mencapai 3000 org ,bisa dibayangkan dampak pada keluarga mereka. Alangkah bijaknya jika pemerintah juga turut campur menangani masalah ini. Kalau dilihat dari hengkangnya para investor,,,sangat gak masuk akal.Koq mereka lempar masalah kepada para pemilik lama yg juga punya saham sebanyak yg mereka punya?.. Apakah mereka yg punya agenda tertentu untuk mengusai seluruh aset perusahaan.Sebab tidak heran kasus ini sering terjadi,yg besar ingin menguasai disaat yg lain terlilit masalah.Namun di tentang pemilik lama.Ironis..

ganesha92 - jakarta @ 18/03/2008 - 10:17 WIB dari 202.154.176.11 (svr11.vip.net.id)

#1 - Inilah permainan kelas tinggi Manajer investasi

Seperti kita ketahui Grup Bhakti Investama adalah ahli dalam mengelola banyak usaha, dalam sekejap menguasai RCTI, dan banyak perusahaan-perusahaan besar yang tidak perlu disebutkan lagi. Kepiawaian grup ini cukup diakui dalam mengambil alih banyak usaha di Indonesia, tapi sayangnya tidak ada alasan suatu perusahaan investasi yang dikabarkan juga menguasai Indonesia Air Transport meninggalkan Adam Air karena alasan keselamatan dan transparansi. Kalau saya membaca alasan yang disebutkan ini terkesan sangat aneh dan janggal, apalagi diketahui Bhakti Investama selalu lolos dari berbagai macam kesulitan dan piawai membuat perusahaan sakit menjadi perusahaan sehat. Ada apakah di balik cabutnya Bhakti dari Adam Air? apakah karena faktor ketidakcocokan. Sementara Bhakti menguasai 50% saham melalui 2 perusahaan, seharusnya pula kontrol atas perusahaan ikut dikuasai oleh manajemen Bhakti. Mana mungkin masih tidak ada transparansi? mereka mengetahui seluk beluk perusahaan, tidak mungkin perusahaan ini tidak menempatkan wakilnya di dalam manajemen Adam Air. Saya kira bisa saja alasan yang disebutkan ini tidak tepat pada saat perusahaan di ambang kehancuran. Kesalahan dalam memperoleh partner kerja sama ikut mempengaruhi going concern suatu usaha. Saya yakin kalau ingin mengemukakan alasan cabut dari suatu usaha, sebaiknya menggunakan alasan yang lebih tepat. Mungkin karena faktor persaingan usaha dan margin keuntungan yang tidak menjanjikan. Saya pikir alasan ini lebih tepat. Jadi saya pikir permainan kelas tinggi ikut memberikan jalan keluar kepada Adam Air, yakni mungkin saja pailit atau masih menunggu investor yang bersedia ambil alih (tapi kemungkinan ini sangatlah kecil). Terima kasih

Widjaja Buana Thajeb - Sydney/Australia @ 17/03/2008 - 13:48 WIB dari 202.7.166.165 (syd-pow-pr3.tpgi.com.au)

Beri Komentar