Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Selasa, 25/03/2008 13:38 WIB
Strategi zig-zag the Fed
oleh : Yanuar Rizky
Bekerjanya skenario terburuk (doomsday) di pekan lalu, ditandai penurunan indeks pasar finansial global, adalah sesuatu yang tidak terlalu mengagetkan. Fakta Di balik kecemasan adalah adanya pihak yang memperoleh keuntungan (spreading) dari selisih transaksi finansial itu sendiri (financial netting).
Kolom saya tanggal 28 Januari 2008 (judul: "Menari Di Atas Kecemasan"), telah menguraikan fakta dibalik kejatuhan bursa global di tanggal 22 Januari 2008. Dimana, devisa Amerika Serikat (AS) di rekening The Fed justru mengalami kenaikan (24 Januari 2008: +USD 166 Juta, year on year). Kenaiakan diperoleh dari financial netting, melalui instrumen (1) Cash treasury atas Securities Lent To Dealer (SLTD); (2) Reversal Re Purchase Order (REPO) atas kontrak REPO sebelumnya dengan underlying surat berharga di pasar internasional.
Dalam tulisan yang sama, saya mengutarakan pula instrumen Term Auction Facilities (TAF) seri pertama (jatuh tempo 31 Januari 2008) dan TAF seri kedua mengakhiri masa lelangnya. Dimana, tatkala lelang TAF seri pertama berakhir (18 Desember 2007), indeks BEI mengalami puncak penurunan sekaligus membalik naik di hari berikutnya. Pengulangan tersebut pernah terjadi di 23 Januari 2008, seiring menguatnya kembali indeks BEI.
Bagi anda pembaca pertama kolom saya ini, untuk dapat mengikuti arus berpikir dari jurus teknikal The Fed, sebaiknya dapat membaca kolom-kolom terdahulu. Karena saat ini terjadi pengulangan fakta yang sama. Yaitu, dibalik penurunan indeks pasar finansial, cadangan devisa AS di rekening The Fed (kembali) menunjukan arus positif.
Devisa AS di rekening The Fed 20 Maret 2008 menunjukan angka pertumbuhan +USD 10,4 miliar (year on year). Bahkan 81,8% dari arus masuk tersebut diperoleh dari netting selama seminggu terakhir (week on week: +USD 8,5 miliar). Yang menarik, 41,4% (USD 3,5 Miliar) dari netting selama seminggu tersebut, diperoleh di hari Rabu 19 Maret 2008.
Menjadi menarik, indeks beberapa emerging market di tanggal 19 Maret 2008, khususnya BEI mengalami awan mendung penurunan indeks menjelang libur panjang (long week end: Maulid Nabi Muhamad SAW dan Paskah). Rayuan transaksi short tidak mampu memicu adrenalin para bandar lokal untuk mengangkat indeks. Karena biasanya momen pergeseran "time value of money" T+3 dari masa penyelesaian transaksi tak pernah terlewatkan (saat ini bergeser dari Senin-25 Maret 2008 ke Rabu-27 Maret 2008).
Perlu dicatat bahwa pertumbuhan positif rekening The Fed di 20 Maret 2008, telah memperhitungkan "bantuan likuiditas" terhadap (1) Primary dealer (di luar TAF) untuk operasi pasar dimulai 17 Maret 2008 sebesar USD 13,4 miliar; dan (2) Special credit extension sebesar USD 5,5 miiar untuk JP Morgan Chase & Co serta Bear Stearns Companies. Perolehannya luar biasa bukan?
Fakta tersebut memperkuat fenomena, bahwa saat ini kebijakan Moneter The Fed tidak murni berhaluan fundamentalis (ITF: Inflation Targeting Framework) dengan instrumen fine tuning suku bunga-nya (rate). Padahal framework Logika "text book" untuk keluar dari krisis adalah menurunkan rate, agar biaya modal (lending rate) dapat atraktif menghidupkan kembali sektor riil.
Itulah yang dipatahkan realita globaisasi pasar finansial. Otoritas moneter, suka atau tidak, harus keluar dari zona kenyamanan "text book literate". Menuju ke pemahaman komprehensif tentang "financial literate" beserta seluruh turunan kondisi psikologisnya (persepsi). Betapa tidak, The Fed sebagai "mainstream Bank Sentral", semakin hari semakin menunjukan jurus-jurus baru diluar kotak kenikmatan politik rate itu sendiri.
Proyeksi
Cina memegang peran penting merubah kutub tunggal dari mainstream kebijakan moneter dunia, yang selama ini dimonopoli The Fed. Seperti juga telah saya tulis di kolom-kolom sebelumnya, Bank Sentral Cina (PBC) terus menyerang dengan menaikan rate-nya saat The Fed menurunkan rate-nya.
PBC terus memperkuat disiplin pertahanannya. Dimana, 25 Maret 2008 PBC menaikan rasio cadangan minimum di sistem Perbankan Cina sebesar 0,5 persen. Kebijakan uang ketat Ini ditujukan untuk mempersulit arus keluar setelah dana diserap masuk ke penambahan financial netting Cina (yang sampai bulan lalu masih menunjukan peningkatan). Kebijakan tersebut memperkuat pola pertahanan sebelumnya, yaitu "regional swap agreement" antara PBC dengan BOJ (Jepang) serta kontrol administrasi ketat atas transaksi forward.
Disiplin pertahanan Cina, juga didukung manajemen persediaan cadangan energi alternatif. Sehingga, Cina belum "merasa" terjebak off side harga minyak dunia. Sikap kuat inilah, yang tampaknya mendorong naiknya harga emas. Karena rezim fix rate Yuan di-peg ke cadangan emas dengan jumlah besar di rekening devisa PBC.
The Fed menyedot financial netting dari fluktuasi pasar finansial global dan digunakan untuk menyuntik dana ke sistem keuangan yang tengah mengalami cerukan negatif (paska gagal bayar sub prime mortage). Sementara, PBC menggunakan financial netting untuk memberi stimulus ke kredit sektor riil terfokus dan memperkuat dana jaminan cadangan sosial.
Naasnya, besar indikasi Indonesia adalah stadion yang dipakai pertandingan moneter tersebut. Faktanya, (1) Saat penurunan indeks BEI di dua pekan terakhir, kembali terulang, didorong transaksi jual asing atas saham "index mover" di awal sesi, sebagaimana terlihat dari naiknya volume jual-beli dari asing ke asing tanpa diikuti kenaikan berarti frekuensi-nya; dan (2) posisi akhir hari saat indeks menurun menunjukan asing net buying, namun posisi kurs Rp-USD justru melemah, terlebih saat ini tren kurs regional menguat terhadap USD (posisi perdagangan kurs 19 Maret 2008 sempat menaik ke Rp9250, yang lalu terindikasi di-intervensi dalam 2 jam sebelum penutupan ke posisi Rp9180).
Pelemahan Rp-USD kembali mengulang kejadiaan pasar finansial 18 Desember 2007 dan 22 Januari 2008, yaitu dipicu oleh pola reversal (balik arah) instrumen teknikal The Fed (Reversal REPO International Market) dan open position lelang TAF seri 24 Maret 2008. Kalau kita cermati pula titik penurunan indeks 19 Maret 2008 (2.323,56) mendekati angka penurunan indeks (sekaligus angka arus balik naik kembali) di tanggal 22 Januari 2008 (2.294,52).
Jika dilihat dari sisi pola perdagangan, maka kemungkinan indeks BEI akan memasuki babakan baru kembali membalik arah menaik kembali. Terlebih sinyal itu telah terlihat dari indeks bursa utama dunia di tanggal 20 Maret 2008, telah menaik kembali. Satu yang harus dicermati adalah instrumen The Fed terbaru, yaitu Term Securities Lending Facilities (TSLF) yang merupakan komplomenter instrumen REPO dan kantong berbeda dengan TAF.
TSLF merupakan instrumen pinjam meminjam efek. Dimana, mortage (bond) bermasalah dapat diserahkan ke The Fed dengan kolateral Obligasi Pemerintah AS (instrumen aset The Fed). Sehingga, The Fed tampaknya ingin menghidupkan pasar obligasi, paska rendahnya kepercayaan pasar terkait obligasi berisiko gagal bayar.
Jika dealer yang juga pengelola global hedge fund mengurangi alokasi portopolio saham untuk mencari selisih dari pasar obligasi, maka bursa saham akan melesu. Sehingga, jika anda pemain di bursa, maka harus berhati-hati terhadap arah angin baru ini. Karena teori badarnomics muaranya adalah mencari selisih yang memicu perselisihan itu sendiri (doomsday scenario).
Sinyalnya belum ada, karena (1) volume di pasar saham global masih menunjukan tren menaik dan; (2) masih terdapat selisih antara bunga TAF dengan Fed rate. Itu pula berarti fluktuasi masih akan terjadi. Fluktuasi adalah financial netting bagi sang master mind. Jika anda termasuk yang beruntung di arus tersebut, belanjakanlah selisihnya di pasar riil. Agar rakyat banyak di luar stadion sedikit tersenyum dari madu belanja solidaritas para penonton di dalam stadion finansial.
Dari perspektif kebangsaan yang lebih luas, semoga pemimpin negeri ini mampu memberi inspirasi bagi bangsanya untuk cermat, matang dan akurat dalam menyikapi kedaan. Baik AS (The Fed) dan Cina (PBC) mengajarkan "menyerap financial netting jauh lebih penting daripada meratapi krisis itu sendiri". Itulah sejatinya tantangan Gubernur BI berikutnya.
Ben Bernanke (Gubernur The Fed) menurut Zhou Xiachuan (Gubernur PBC) adalah seorang yang lebih "mainstream" dibandingkan pendahulumya (Alan Grenspan). Faktanya, Bernanke lebih "out of the box" dibandingkan Grenspan. Itulah nilai seorang Gubernur Bank Sentral "matang dan terukur". Sehingga, kocok ulang calon Gubernur BI haruslah dipandang sebagai tanda zaman untuk kita bercermin dengan lebih komprehensif.
Saat stadion finansial negeri ini dipakai, pemimpin politik masih disibukan dilema yang diciptakannya "menaikan harga BBM atau menjatahnya?". Daripada debat "mainstream", lebih baik menyerap financial netting. Diikuti tindakan nyata dengan menyalurkannya sebagai stimulus daya kerja penopang daya beli dan daya tahan sosial rakyat itu sendiri. Alangkah indahnya, meski hanya baru sebatas mimpi.
bisnis.com
Artikel »
Sabtu, 10/05/2008 10:20 WIB
'Belajar' memakai batik kepada Bill Gates
Oleh : Arief Budisusilo & Ahmad Djauhar
Sabtu, 10/05/2008 10:18 WIB
Mengoptimalkan PNPM Mandiri melalui sosialisasi memadai
Oleh : Mulia Ginting Munthe & M. Syahran W. Lubis
Sabtu, 10/05/2008 10:18 WIB
Kawasan industri yang nyaris mati suri
Oleh : Yeni H. Simanjuntak
Sabtu, 10/05/2008 10:18 WIB
Pemilik restoran yang jadi mantu raja
Oleh : Mediani Dyah Natalia & Prihati Puji Utami
Sabtu, 10/05/2008 09:18 WIB
Inspirasi dari Mr Gates
Oleh : Ratna Ariyanti & Tri D. Pamenan
Jumat, 09/05/2008 11:10 WIB
BI Rate lebih baik naik atau turun?
Oleh : Erna S.U. Girsang
Komentar
#2 - Re-Bandar Always Win
Pak Vincent, terima kasih atas komennya.. Yang saya tunjukan adalah peta dunia nyata yang tengah terjadi. Apa yang dilakukan terhadap injeksi institusi keuangan oleh The Fed adalah persis sama dengan BLBI di tahun 1997-1998. Ada perbedaan yang bisa kita pelajari, Bernanke menyedot uang dari pasar unt8k menyuntik "penyebab" krisis pasar..kalau kita kan itu menyeabkan beban obligasi rekap sampai saat ini. Saya cenderung lebih meihat Cina sebagai sebuah fenomena, dia lawan The Fed.. dan adalah realita juga Cina ambil uang dari pasar untuk atasi masalah tidak bergeraknya sektor riil (akibat fluktuasi yang dorong "treasury habit" lebih besar dari "banking habit") dan menciptakan dana cadangan untuk instrumen sosial lagi rakyat diluar stadionnya. Saya rasa, kita arus konkrit juga melihat realita yang terjadi, itu learning dari The fed vs PBC.. Lalu mengarahkan anginnya untuk menggerakan sektor riil dan instrumentisasi sosial maupun BIAYA KRISIS itu sendiri. Kalau bicara pengawasan, kita bisa panjang lebar, belum enforcement-nya :).. Rasanya, kita harus melihat "Monetary System is The art" ..Kita tidak harus JIPLAK AS setuju, bahkan Cina sekalipun.. Kita harus INOVATIF itu kunci dari Art... untuk siapa tentunya untuk kemaslahatan kita semua sebagai bangsa..Ekonomi tak akan pernah berjalan tanpa ada rasa solidaritas antar kelas masyarakat DAN peran pemimpin negara adalah menstimulasinya...Faktanya saat ini The Fed dan PBC ambil dana dari pasar internasional.. lalu, apakah kita TERMANGU? Cina berhasil merubah keadaan dan mereka punya instrumen ke sektor riil terfokus & sistem Jamsos , meski itu tadinya dibiayai dari sikap bandarnomics.. Ujungnya adalah bukan soal mainstream, tapi bagaimana itu bekerja untuk seluruh unsur ekonomi.. Thanks dan sukses selalu...
Yanuar Rizky - jakarta @ 26/03/2008 - 17:38 WIB dari 118.136.18.245 (245.18.136.118.fast.net.id)
#1 - Bandar Always Win
Pak Yanuar Rizky, terlepas dari inovasi Ben Bernanke untuk menghindari total market collapse (dengan meng-injeksi likuiditas ke sistem, menunda counterparty default dengan membantu JPM mencaplok Bear Stearns, dan dengan menampung surat2 berharga terkait subprime), tindakan The Fed dan Prime Broker/ibanks (baca:bandar) untuk socialized loss kepada investor dimana loss yang terjadi adalah karena kurangnya pengawasan dan kebablasannya inovasi instrumen financial saya rasa bukan suatu hal yang patut di tiru BI. TAF menyalahi kaidah transparansa karena anonimitasnya, di mana sebenarnya fasilitas serupa minus anonimity sudah ada, yaitu Fed Discount window. TSLF melangkahi kaidah kehati-hatian, di mana FED menerima jaminan yang illiquid, atau bahkan tidak ada harganya sama sekali. Bandar always win, bahkan bila harus meminjam tangan the Fed untuk membantu mereka, tidak perduli biaya yang harus ditanggung investor kecil.
Vincent - Jakarta @ 26/03/2008 - 14:45 WIB dari 210.248.164.167 (210.248.164.167)