Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Selasa, 06/05/2008 10:22 WIB

Ada apa di balik rencana menaikkan harga BBM?

oleh : Iman Sugema (Senior Economist, InterCAFE, Institut Pertanian Bogor)

Masih ingat polemik mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2005, di mana sekelompok ekonom menyatakan jika harga BBM dinaikkan, jumlah orang miskin akan turun? Pendapat mereka ternyata salah, karena jumlah orang miskin justru meningkat.

Skenario dan argumentasi yang hampir mirip saat ini dikembangkan oleh tim ekonomi Kabinet Ekonomi Bersatu untuk mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera memutuskan kenaikan harga BBM. Mereka tentu tidak menunjukkan lagi bahwa kemiskinan akan berkurang dengan kenaikan harga BBM.

Yang ditunjukkan adalah jika harga BBM tidak dinaikkan, pertumbuhan ekonomi akan jeblok, defisit APBN akan membengkak, inflasi tidak terkendali, suku bunga harus dinaikkan, dan rupiah akan terdepresiasi. Apabila harga BBM dinaikkan, kondisi sebaliknya yang terjadi. Aneh, bukan?

Sebagaimana berita utama Bisnis Indonesia (Rabu, 30 April), skenario tanpa kenaikan harga BBM adalah inflasi menjadi 13,2%, SBI 3 bulan 12%, pertumbuhan ekonomi 5,8%, defisit anggaran 2,5%, dan nilai tukar menjadi Rp9.600 per dolar AS.

Apabila harga BBM dinaikkan, indikator ekonomi diskenariokan akan membaik, yakni inflasi turun menjadi 11,1%, SBI 3 bulan juga turun menjadi 8,5%, pertumbuhan ekonomi me-ningkat ke 6%, defisit turun menjadi 1,9%, dan nilai tukar menguat ke Rp9.000/dolar AS. Kok bisa ya? Dari mana angka-angka itu diambil?

Beberapa komentar

Ada beberapa komentar mengenai hal ini. Pertama, kenapa angka yang diungkap menjadi begitu jauh dengan angka dalam APBN-P 2008? Padahal, APBN-P 2008 baru saja disetujui beberapa minggu lalu.

Sudah banyak hal tentu yang mengalami perubahan, terutama mengenai inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga berbagai komoditas, khususnya pangan.

Namun, itu juga menunjukkan bahwa APBN tidak pernah dibuat serealistis mungkin. Angka-angka APBN selama tiga tahun terakhir ini cenderung terlalu optimistis.

Kedua, yang paling mengherankan adalah angka inflasi, di mana dalam skenario kenaikan harga BBM akan lebih rendah 2,1% dibandingkan dengan skenario tanpa kenaikan harga. Boleh Anda tanya kepada ekonom mana pun yang bukan ekonom pemerintah mengenai hal ini.

Jawabannya inflasi pasti akan lebih tinggi jika harga BBM dinaikkan. Bahkan, teman saya, yang lulusan IAIN Jurusan Fiqih sekalipun, memandang angka skenario itu tidak masuk akal.

Inflasi dihitung berdasarkan perkembangan harga di tingkat konsumen akhir, yaitu indeks harga konsumen. Tidak masuk akal ketika kenaikan harga minyak mentah dunia tidak dibebankan kepada konsumen secara langsung kemudian akan tercipta inflasi yang lebih tinggi. Lantas dari mana sumber inflasinya?

Dari data yang sama, diskenariokan pula bahwa suku bunga akan dinaikkan menjadi 12%. Ini sama sekali tidak konsisten dengan angka inflasi.

Teorinya, kalau suku bunga dinaikkan, inflasi akan turun, bukan! Setiap kenaikan suku bunga akan memberikan efek kontraksi terhadap perekonomian yang pada gilirannya meredam inflasi.

Namun, itu pun harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena suku bunga tidak bisa digunakan untuk meredam kenaikan harga yang didorong dari sisi supply.

Kalau minyak tanah langka dan pangan hilang dari pasaran, suku bunga tidak akan mampu mencegah kenaikan harga di tingkat konsumen.

Dalam situasi seperti sekarang, saya cenderung menyarankan agar tidak menggunakan suku bunga sebagai alat untuk meredam inflasi. Kebijakan moneter sama sekali tidak relevan karena inflasi tidak tertangani, sedangkan efek kontraksinya berpotensi memperparah situasi.

Ketiga, tidak masuk akal mengasumsikan depresiasi nilai tukar kalau harga BBM tidak dinaikkan. Keadaan sekarang sudah jauh lebih berbeda dibandingkan dengan pada 2005.

Walaupun akan melambat, ekspor masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Neraca pembayaran dan cadangan devisa masih pada posisi jauh lebih baik dibandingkan dengan pada pertengahan 2005.

Lagi pula, saat ini suku bunga dunia cenderung turun. Kondisi ini berbeda dibandingkan dengan pada 2005, di mana suku bunga dunia sedang mengalami tren kenaikan.

Posisi baik

Singkatnya, kita sedang memiliki posisi yang lebih baik untuk bisa melakukan stabilisasi nilai tukar. Terkecuali ada upaya terkoordinasi antara pelaku pasar dan tim ekonomi untuk menjerembapkan nilai tukar supaya ada justifikasi untuk menaikkan harga BBM.

Gonjang-ganjing nilai tukar dan pasar modal sering dijadikan sebagai alasan untuk melakukan langkah radikal yang merugikan rakyat kecil.

Keempat, mengapa diasumsikan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik jika harga BBM dinaikkan? Bukankah kenaikan harga BBM akan mengurangi daya beli masyarakat yang pada gilirannya menggerus permintaan agregat?

Lagi pula, biaya transportasi umum akan meningkat yang secara langsung mengakibatkan harga di tingkat konsumen akhir melonjak. Artinya, ekonomi akan mengalami kontraksi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Adalah tidak konsisten untuk mengasumsikan bahwa pertumbuhan akan membaik.

Kelima, mungkin yang paling bisa menjelaskan kejanggalan angka-angka dalam skenario itu adalah kenyataan bahwa tim ekonomi ingin memaksakan kenaikan harga BBM kepada Presiden Yudhoyono.

Namun, bagaimana sebuah keputusan yang sangat penting bisa dibuat dengan benar kalau angka-angka yang disodorkan tidak dibuat dengan penuh kejujuran profesi.

Kita masih ingat betul mengenai kejahatan intelektual pada 2005 yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menyebabkan kemiskinan menurun. Akankah hal yang sama terulang kembali?

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 26/08/2008 14:49 WIB

    Gawat, kondisi batas Indonesia-Malaysia

    Oleh : Lahyanto Nadie

    Selasa, 26/08/2008 10:19 WIB

    Melongok neraca keuangan MA

    Oleh : Anugerah Perkasa

    Selasa, 26/08/2008 10:17 WIB

    Harga elpiji naik, rakyat makin terimpit

    Oleh : Rudi Ariffianto

    Selasa, 26/08/2008 10:16 WIB

    Musibah Spanair pelajaran berharga bagi semua negara

    Oleh : Hendra Wibawa

Komentar

#12 - Indonesia tidak memiliki seorang ekonom yang manusiawi

Saya bingung dengan Indonesia yang kaya raya tetapi tidak mempunyai seorang intelektual sekaligus hati nurani, apakah karena ekonom(pemerintah) kita sekolah hanya berdasarkan buku dan teori, dan tidak berdasarkan fakta yang terjadi di kalangan masyarakat, apa karena negara kita ditekan bangsa lain sehingga menuruti apa kata mereka, Negara kita adalah negara Indonesia tapi tidak punya kekuatan untuk mengatur dirinya sendiri, apakah negara kita, negara boneka yang dikendalikan pemerintah bayangan (...????), tolong Dewan cetak anak anak bangsa ini agar Mandiri dalam berpikir dan membuat kebijakan.

DenWij - Jakarta @ 09/05/2008 - 09:54 WIB dari 202.51.210.21 (ip21.210.infoasiamedia.com)

#11 - Kenaikan BBM

Baru aja ada rencana kenaikan BBM harga-harga sudah merambat naik, apalagi memang sudah pasti naik diperkirakan harga tdk akan terkendali, rakyat akan semakin sulit karena pendapatan tdk sesuai dgn pengeluaran, jumlah rakyat miskin akan bertambah

Aisyah Setyawati - Bogor @ 09/05/2008 - 08:43 WIB dari 125.160.97.110 (110.subnet125-160-97.speedy.telkom.net.id)

#10 - beginilah indonesia

beginilah jika terlalu mengidolakan SUKU BUNGA-KEYNES...

pawpawpoenya - indonesia @ 08/05/2008 - 19:41 WIB dari 125.161.182.27 (27.subnet125-161-182.speedy.telkom.net.id)

#9 - BBM naik itu ibarat diet

Mas iman, anda mempertanyakan dasar skenario tanpa kenaikan harga BBM dan skenario dengan kenaikan BBM. Saya sepakat dengan anda bahwa logikanya inflasi tidak akan lebih rendah kalo BBM di naikkan begitu juga tingkat suku bunga. Masalahnya adalah, keduanya skenario tsb saling menafikan. artinya begitu satu skenario digunakan (misal BBM naik), tidak ada peluang bagi kita untuk menguji apakah kondisi seperti skenario yang lainnya (BBM tidak naik), benar-benar terjadi. Dengan pengalaman yang luas dan pendidikan yang tinggi mestinya mas Iman juga memperhatikan masalah kepercayaan pasar dan berkurangnya tekanan terhadap APBN sehingga APBN tetap memiliki stimulus terhadap perekonomian.Kalo menurut saya dengan memperhatikan faktor tadi saya masih yakin Pertumbuhan ekonomi akan lebih baik karena APBN masih bisa mendorong perekonomia. Soal dua kondisi lainnya yaitu nilai tukar rupiah dan defisit, saya haqqul yakin mas iman juga setuju bahwa itu bisa terjadi dan tidak perlu diperdebatkan. Saya termasuk orang yang setuju dengan kenaikan BBM. Memang kenaikan akan menyakitkan karena bakal membuta hidup kita makin susah, tetapi saya lebih tidak rela kalo uang negara yang dikumpulkan dari pajak harus dihambur-hamburkan untuk subsidi yang belum tentu tepat sasarannya.Kalo saya membaca tulisan mas Iman, saya berpikir bahwa pada dasarnya mas Iman setuju dengan kenaikan BBM namun hendaknya skenario yang disampaikan dibuat dengan landasan kejujuran. Honesty is the best Policy

widi pramono - jakarta @ 08/05/2008 - 14:45 WIB dari 116.66.205.2 (116.66.205.2)

#8 - Setuju kenaikan dengan syarat !!

Pak Iman, saya rasa inflasi akan tetap naik terlepas BBM naik atau tidak, karena yang kita hadapi bukannya kenaikan harga akibat supply uang tapi karena external/imported inflation. Selama supply energi dan makanan Indonesia masih bergantung kepada impor, kita ngga punya kontrol atas inflasi. BBM memang sudah seharusnya naik, jangan lagi ada subsidi. Tapi sebelum hal itu di lakukan, (1) TOLONG perbaiki sistem angkutan umum dan dan transportasi di negeri ini. (2) Kemudian agar YANG TERHORMAT pejabat2 dan anggota DPR supaya beri kami contoh penghematan BBM. Ngga usah pake kawal2an, ngga usah pake volvo, pake kancil atau carry aja yang lebih irit BBM, jangan malah petantang petenteng naik mobil plus pengawal ketika rakyat biasa dipaksa ga boleh naik mobil pada "car free day" Kami rela bayar pajak, kalau jalan2 mulus, ngga macet, angkutan umum bersih, nyaman, dan tepat waktu. Kami ngga bakalan ngeles pajak, kalau pendidikan bermutu dan terjangkau, kami dengan sukarela buat NPWP kalau biaya kesehatan wajar dan masuk akal. Kami rela BBM mahal, dan kami naik bis atau kereta apabila TANPA kepanasan, kecopetan, dan telat terus-terusan karena macet/ngetem. Bisakah Pemerintah memberi kami hal2 di atas ? Bisakah anggota2 dewan yang TERHORMAT berkonsentrasi mengawasi pembangunan negara dan bukannya repot mencekal Dewi Persik sambil menadahkan tangan minta bagi hasil konversi hutan lindung (yang di lakukan di hotel bersama seorang wanita yang di tenggarai PSK) ?

Yan - Jakarta @ 07/05/2008 - 15:00 WIB dari 210.248.164.167 (210.248.164.167)

Beri Komentar