Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Rabu, 07/05/2008 10:11 WIB
Mencermati geliat private label peritel
oleh : Linda T. Silitonga
Sumbangan penjualan produk dengan merek milik toko (private label) semakin bergeliat di dunia termasuk Asia. Peritel di Indonesia tampaknya tidak mau ketinggalan.
Di tengah kenaikan berbagai harga barang, terutama kebutuhan pokok, mendorong peritel untuk tidak sekadar menempatkan merek toko sebagai pelengkap produk.
Baru-baru ini PT Carrefour Indonesia menggandeng Bank BCA meluncurkan kartu kredit dengan fasilitas diskon 5% bagi pembeli produk merek toko, Carrefour, Paling Murah, Bluesky, dan Harmonie.
Adapun PT Sumber Alfaria Trijaya, yang mengoperasikan 2.410 minimarket Alfamart, tidak mau kalah berinovasi atas produk merek tokonya, Pasti.
Alfamart gencar mempromosikan produk merek Pasti, meski dengan membebankan biaya kepada pemasok untuk kontrak 2008. Promosi digencarkan melalui leaflet, papan pengumuman dan pencanangan program diskon.
Peritel yang memang harus gesit merebut peluang dan tidak boleh lengah bersaing dengan lawan.
Berdasarkan survei Nielsen, saat ini konsumen memperhitungkan produk merek toko. Di Asia, pertumbuhan penjualan private label terjadi di Thailand (48%), Taiwan (30%), Malaysia (31%), dan Korsel (17%).
Hal yang sama terjadi di Amerika dan Eropa. Dari 22 negara yang disurvei, hanya tiga negara yang penjualan merek tokonya menurun.
Jenis produk yang dibuatkan private label mempertimbangkan faktor risiko rendah dan mudah diproduksi, barang yang rendah loyalitas konsumennya, dan kebutuhan pokok.
Jenis produk yang paling banyak dibuatkan merek toko adalah barang yang terbuat dari kertas, seperti tisu dapur, tisu wajah, dan tisu untuk toilet.
| Omzet private label di Asia | ||
| Negara | Omzet (%) | Naik(%) |
| Selandia Baru | 12 | 3 |
| Australia | 9 | 6 |
| Hong Kong | 4 | -1 |
| Jepang | 4 | 5 |
| Singapura | 3 | 16 |
| Taiwan | 2 | 30 |
| Thailand | 1 | 48 |
| Korsel | 1 | 17 |
| Malaysia | 1 | 31 |
Selain itu, produk kebutuhan sehari-hari nonmakanan, seperti kapas, benang pembersih gigi, alat pembersih, dan plastik pembungkus makanan. Adapun kategori makanan yang banyak dibuatkan merek toko adalah beras, minyak goreng, dan makanan beku.
Diatur
Ketua Gapmmi (Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh Indonesia) Franky Sibarani memperkirakan produk private label di satu gerai baru 5%-10%.
Adapun selisih harga jual produk merek sendiri dengan barang merek industri di Indonesia ada yang mencapai 30%. Selisih harga tertinggi antara produk private label dan barang bermerek dari kalangan industri ditemukan pada jenis produk deterjen (30%), sirup (25%), dan jus (15%).
Melihat penjualan produk merek toko yang menggeliat, pemasok dan industri mulai 'bersuara' dalam tiga tahun terakhir. Hal ini juga berkaitan dengan rencana dikeluarkannya aturan ritel.
Dalam penyusunannya, pemerintah sempat berencana membatasi private label maksimal 5% di satu toko, tapi akhirnya tidak jadi diterapkan.
Pembatasan itu dengan maksud untuk melindungi merek milik industri, apalagi yang merintis bisnis dalam kurun waktu yang panjang.
Aturan merek toko yang dituangkan Peppres No. 112/ 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, berisikan peritel bo-leh menggunakan merek sendiri dengan mengutamakan barang produksi UKM, mengutamakan jenis barang yang diproduksi di Indonesia, dan memenuhi keamanan dan kesehatan produk.
Jika peluang pasar bagi produk merek toko semakin terbuka akibat dampak krisis global, dan pertumbuhan penjualannya di berbagai negara mencapai di atas 40% , bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi di Indonesia.
Ini merupakan tantangan bagi pelaku industri untuk menjaga pangsa pasarnya, apalagi peritel modern cenderung meminta pasokan produk private label-nya dari industri sejenis yang mereknya diminati konsumen.
Bukan tidak mungkin jika lengah sedikit saja, merek milik industri bisa tergilas. Jika begitu, bukan tidak mungkin industri menuding peritel bersikap tidak adil dengan berbagai upayanya mengembangkan merek toko.
Pertanyaannya, bagaimana jika ada industri melakukan pola mengimpor produk jadi, mengemas, kemudian menjual ke ritel modern dengan merek industri.
Bukankah tidak berbeda dengan sepak terjang peritel modern dengan private label-nya? (linda.silitonga@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Sabtu, 17/05/2008 10:57 WIB
60 Menit bersama Legacy 600
Oleh : Hery Trianto
Kamis, 15/05/2008 10:27 WIB
Kesenjangan sosial kian lebar
Oleh : Yusuf Waluyo Jati
Kamis, 15/05/2008 10:26 WIB
Boediono akan tetap bersahaja
Oleh : Ahmad Muhibbuddin
Kamis, 15/05/2008 10:23 WIB
Ciputra memboyong Raffles ke 'Orchard Road' Jakarta
Oleh : Reni Efita Hendry
Rabu, 14/05/2008 09:58 WIB
Ironi minyak goreng si juragan sawit
Oleh : Aprika R. Hernanda
Rabu, 14/05/2008 09:56 WIB
Tarif di pelabuhan mengejar kenaikan harga bahan bakar minyak
Oleh : Akhmad Mabrori