Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Jumat, 09/05/2008 11:10 WIB

BI Rate lebih baik naik atau turun?

oleh : Erna S.U. Girsang

Pekan ini, Bank Indonesia memutuskan kenaikan BI Rate dari 8% menjadi 8,25%, tidak lama setelah bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) menurunkan suku bunga 25 basis poin (bps), yaitu dari 2,25% menjadi 2%.

Sejumlah ekonom menyatakan pendapatnya mengenai keputusan BI ini, termasuk para birokrat. Banyak yang mendukung dan tidak sedikit pula yang menilai langkah tersebut tidak tepat.

Faktanya, perbedaan kebijakan The Fed dan BI ini telah menyebabkan selisih suku bunga acuan Indonesia dan fed fund menjadi lebih besar, yaitu 6,25%.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai jarak suku bunga The Fed yang sudah lebar-sebelum kenaikan BI Rate-sebenarnya memberikan opsi kepada BI untuk menurunkan suku bunga atau setidaknya tetap. Alasannya, suku bunga 8% saja sudah membebani BI dan pengguna kredit di dalam negeri.

Karena itu, BI Rate yang tinggi diyakini akan mengakibatkan sektor riil yang sudah merangkak akan semakin sulit bergerak. Bahkan, potensi penumpukan dana daerah di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) akan lebih besar lagi, padahal, dana tersebut sesungguhnya untuk membangun infrastruktur atau menyalurkannya ke masyarakat.

Selain itu, jarak BI rate dan suku bunga The Fed masih menjadi salah satu motivasi masuknya dana ke Indonesia, meskipun sifatnya jangka pendek (hot money). "Kalau tidak diturunkan sebaiknya, jangan dinaikkan, karena itu hanya membebani BI dari biaya bunga," ujarnya.

Berbeda dengan Indef, Direktur Perencanaan Makro Kemeneg PPN/Bappenas Bambang Prijambodo menilai suku bunga acuan di Indonesia tidak harus diturunkan. Menurut dia, pertimbangan pokok penetapan BI Rate saat ini bukan The Fed, melainkan kebijakan moneter dalam negeri.

"Pertimbangan pokoknya adalah kebijakan moneter. Suku bunga adalah instrumen untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar mata uang. Kalau salah satu tidak terkendali, BI Rate jangan diturunkan," tambahnya.

Dia juga mengingatkan laju inflasi tahunan (year-on-year) pada April yang mencapai 8,96% mengharuskan BI menaikkan BI Rate. Paling tidak, BI Rate tidak perlu dinaikkan, tetapi harus ada ekspektasi bahwa inflasi mendatang akan turun. Jika ekspektasi inflasi lebih dari 8%, dia memastikan stabilitas nilai tukar rupiah akan terganggu.

Dengan begitu, kebijakan suku bunga perlu sejalan dengan langkah-langkah stabilisasi harga kebutuhan pokok sebagai pemandu menuju inflasi yang ditargetkan. Untuk mencapai tujuan ini, suku bunga riil harus dijaga minimal 1,5% di atas realisasi inflasi.

Pendapat ini dinilai sejumlah ekonom sudah kuno. Direktur Indef Ahmad Erani Yustika berpendapat teori itu sudah tidak poluler lagi sejak 10 tahun terakhir. Pemahaman ini tidak lagi dipraktikkan negara-negara di dunia.

Alasan Yustika itu karena pada kenyataannya kebijakan suku bunga negara-negara di dunia saat ini sangat beragam. Perbedaannya semakin mencolok sejak 2005, di mana rata-rata suku bunga sejumlah negara cenderung rendah.

Contohnya Amerika Serikat yang menetapkan suku bunga The Fed sebesar 2%, padahal inflasi di negara itu mencapai 4,1%. Kanada dan Australia juga menerapkan kebijakan suku bunga yang sama dengan AS.

Bambang menambahkan penyesuaian suku bunga dengan inflasi, di sejumlah negara dibedakan lagi berdasarkan faktor penyebab inflasi. Sumber tekanan inflasi di Indonesia dan tiga negara maju itu sangat berbeda, bahkan bertolak belakang.

Pendorong inflasi di Indonesia pada pertengahan Desember 2007 sampai April 2008 adalah sisi pasokan, sedangkan di negara-negara maju pendorong inflasi sebagian besar berasal dari permintaan.

Ternyata selain faktor pendorong, fungsi bank sentral juga menjadi pertimbangan utama menetapkan penetapan suku bunga. Di AS, bahkan tugas suku bunga dijadikan mengamankan pertumbuhan ekonomi, juga di Inggris dan Kanada. Akan tetapi, secara umum, suku bunga masih diarahkan menjaga tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dan sejumlah komoditas.

Bukan acuan

Di sisi lain, dia menegaskan kebijakan The Fed menetapkan suku bunga, dalam era perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia saat ini tidak mencerminkan kebijakan moneter normal, tapi lebih ditujukan mengamankan pertumbuhan ekonomi.

Sejak tahun lalu, suku bunga The Fed, juga ditugaskan mencegah ancaman resesi ekonomi, akibat pertumbuhan kredit macet bagi kepemilikan rumah, di negara itu belum mencapai titik terendah atau masih bergerak ke arah negatif.

Kondisi inilah, yang menyebabkan kebijakan The Fed tidak kuat jika menjadi acuan menetapkan kebijakan suku bunga di dalam negeri. Bahkan, dalam kondisi normal saja, dia menilai suku bunga The Fed sebaiknya digunakan sebagai salah satu pertimbangan pokok, meskipun tetap dipantau karena US$ masih berfungsi sebagai mata uang asing pembanding di banyak negara. (erna.girsang@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Kamis, 28/08/2008 09:03 WIB

    Target selesai proyek di DKI ala Bandung Bondowoso

    Oleh : Nurudin Abdullah

    Selasa, 26/08/2008 14:49 WIB

    Gawat, kondisi batas Indonesia-Malaysia

    Oleh : Lahyanto Nadie

    Selasa, 26/08/2008 10:19 WIB

    Melongok neraca keuangan MA

    Oleh : Anugerah Perkasa

    Selasa, 26/08/2008 10:17 WIB

    Harga elpiji naik, rakyat makin terimpit

    Oleh : Rudi Ariffianto

Komentar

#1 - apkah ini teraphy yg cespeng?

Saya pesimis kenaikan BI- Rate mampu meredam inflasi, krn para pelaku bisnis barng &jasa akan menaikkan harga produknya & jasanya, sebab utk mempertahankan hidup perusahaannya dr tekanan ekonomi, satu2nya jalan adalah menaikkan harga tsb.meskipun omzetnya rendah. Ditambah dengan menipisnya cadangan devisa, maka bila BI Rate dan harga BBM dinaikkan maka Indonesia akan berada pada KRISIS ( BACA; Crying ) ekonomic-

oti Setiawan S. - Jakarta/Indonesia @ 13/05/2008 - 16:41 WIB dari 61.247.1.21 (21.1.247.61.fast.net.id)

Beri Komentar