Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Sabtu, 10/05/2008 10:18 WIB
Kawasan industri yang nyaris mati suri
oleh : Yeni H. Simanjuntak
Dari beragam produk properti, kawasan industri atau yang biasa disebut industrial estate membukukan kinerja yang relatif menyedihkan. Pertumbuhan industri manufaktur yang terseok-seok pascakrisis ekonomi 1997, membuat kawasan industri otomatis sepi peminat. Subsektor properti ini bak mati suri.
Sektor industri manufaktur yang masih membuat denyut penjualan kawasan industri berdetak adalah industri otomotif. Ekspansi industri otomotif yang masih terus berlanjut, diharapkan memberikan dampak positif pada laju penjualan kawasan industri.
"Memang kawasan industri sangat berbeda dibandingkan dengan mal atau real estate, karena kawasan industri sangat bergantung pada iklim investasi. Kondisi saat ini masih wait & see [menunggu]. Investasi di bidang manufaktur tidak begitu marak dibandingkan dengan sektor lain," ujar Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia Johannes Archiadi.
Namun, dia menyebutkan penyerapan kawasan industri di wilayah Jawa Barat masih cukup bagus. Ekspansi sejumlah perusahaan lokal di kawasan itu membuat pengembang kawasan industri masih bisa bernapas lega.
Kawasan industri MM2100, Greenland, dan Delta Silicon, merupakan kawasan industri yang turut mencicipi lajunya penjualan industri otomotif Tanah Air. Ketiga kawasan industri yang ada di Bekasi, Jawa Barat itu berencana melakukan pengembangan kawasan industrinya.
MM2100 berencana melakukan ekspansi seluas 100 hektare, Greenland seluas 300 hektare, dan Delta Silicon berniat mengembangkan kawasan industrinya seluas 200 hektare. Namun, belum ada kepastian kapan pengembangan ketiga kawasan industri itu akan rampung.
PT Colliers International Indonesia mencatat total penjualan kawasan industri di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sepanjang 2007 hanya mencapai 147 hektare, turun dibandingkan dengan 181,71 hektare pada 2006.
Dalam risetnya beberapa waktu lalu, perusahaan konsultan properti itu menyebutkan relatif tidak ada pengembangan kawasan industri sepanjang tahun lalu. Sebagian besar pengembang kawasan industri masih fokus pada penjualan kaveling-kaveling tanah yang tersisa.
Sebagai wilayah yang dikenal dengan kawasan industrinya, Bekasi diuntungkan dengan lokasi yang dekat dengan Jakarta dan akses jalan tol yang semakin mendukung. Sepanjang tahun lalu, kawasan industri di Bekasi mencatat transaksi penjualan yang paling tinggi dibandingkan dengan kawasan lainnya. Lahan kawasan industri seluas 62,61 hektare berhasil terjual pada tahun lalu, dan MM2100 merupakan kontributor utama bagi kawasan ini.
Serang, Banten, juga membukukan penjualan yang lumayan. Kawasan industri Modern Cikande dan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) mencatatkan total penjualan lahan seluas 44,39 hektare sepanjang tahun lalu.
Prestasi penjualan kawasan industri di Karawang, Jawa Barat, sepanjang tahun lalu berada di urutan ketiga. Karawang International Industrial City (KIIC) dan Suryacipta mencatat total penjualan lahan seluas 31,12 hektare.
Diversifikasi usaha
Namun, laju pertumbuhan ekonomi yang bergerak lambat membuat sejumlah pengembang kawasan industri harus putar otak mencari solusi. PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (Persero), misalnya. Perusahaan ini berniat menghentikan rencana ekspansi kawasan industri di berbagai daerah dan akan melakukan diversifikasi usaha.
Beberapa waktu lalu, Machfud Arief Effendi, Direktur Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), menyebutkan perseroan akan mendiversifikasi usahanya ke sektor pengelolaan kawasan pergudangan dan perhotelan.
Proyek pembangunan hotel akan dilakukan di kawasan Rungkut, sedangkan pergudangan akan dikembangkan di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER).
Sekjen HKI Sanny Iskandar, yang juga menjabat sebagai direktur PT Maligi Permata Industri Estate yang mengembangkan Karawang International Industrial City (KIIC), mengatakan kondisi yang relatif sulit membuat pengembang kawasan industri harus lebih kreatif.
"Selain tetap fokus pada core business [bisnis inti], pengembang kawasan industri juga memang harus melakukan ekspansi di sektor lain yang masih berkaitan dengan bisnis utamanya, seperti pergudangan," ujar Sanny.
Michael Broomell, Managing Director Colliers International Indonesia, mengatakan sektor-sektor usaha yang terkait dengan logistik memang akan membutuhkan lebih banyak lahan pada tahun ini.
"Kebutuhan kawasan industri untuk produksi atau perakitan produk-produk manufaktur memang masih terbatas. Namun, permintaan untuk pergudangan atau yang terkait dengan logistik masih sangat besar. Itu potensi besar yang bisa digarap," ujar Broomell.
Hendiyanto, Direktur Pemasaran Jakarta Industrial Estate Pulo Gadung, menyebutkan perseroan juga akan mengembangkan perkantoran pada lahan sisa yang mereka miliki. Bertopang penuh pada pengembangan kawasan industri, kini memang sudah tidak mungkin lagi. (yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Sabtu, 30/08/2008 09:43 WIB
Dari pungli, korupsi hingga revolusi
Oleh : Maria Y. Benyamin & Aprika R. Hernanda
Jumat, 29/08/2008 09:36 WIB
Kedaulatan atas migas masih minim
Oleh : Peter F. Gontha (Komisaris PT Satmarindo)
Kamis, 28/08/2008 17:48 WIB
Kemiskinan Kalbar haruslah cepat berlalu...
Oleh : Lahyanto Nadie
Kamis, 28/08/2008 09:03 WIB
Target selesai proyek di DKI ala Bandung Bondowoso
Oleh : Nurudin Abdullah
Selasa, 26/08/2008 14:49 WIB
Gawat, kondisi batas Indonesia-Malaysia
Oleh : Lahyanto Nadie
Selasa, 26/08/2008 10:19 WIB
Melongok neraca keuangan MA
Oleh : Anugerah Perkasa
Komentar
#1 - Memelas
kok jadi ingat pesan p Amien Rais; jangan pilih lagi SBY,Kalau istilah kawam dr USAre pak Mc Clu "silly government", memelas banget
raden kuncung - Jabotabek @ 10/05/2008 - 23:42 WIB dari 202.155.41.50 (202.155.41.50)