Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Sabtu, 10/05/2008 10:20 WIB
'Belajar' memakai batik kepada Bill Gates
oleh : Arief Budisusilo & Ahmad Djauhar
Presidential Lecture-sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kuliah umum-yang menampilkan Bill Gates, Chief Architech Microsoft Corp, di Balai Sidang Jakarta kemarin tampak lain dari kebiasaan.
Selain dihadiri oleh sekitar 2.000 undangan, forum itu juga diikuti oleh ratusan mahasiswa dari universitas-universitas ternama di Jakarta, dan kalangan profesional.
Biasanya, Presidential Lecture yang menjadi tradisi Kabinet Indonesia Bersatu sejak 2005, digelar di dalam Istana Negara. Acara itu lazimnya juga hanya diikuti oleh kalangan terbatas, terutama para anggota kabinet.
Namun, yang membuat Presidential Lecture kemarin sungguh lain adalah penampilan yang kontras antara Bill Gates dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku tuan rumah. Karena urusan penampilan itu pulalah, acara tersebut dibuka terlambat dari jadwal.
Usut punya usut, ternyata salah satu 'penyebab' molor-nya acara tersebut adalah adanya 'insiden' busana Presiden.
Para undangan yang sudah duduk di ruangan sejak pukul 07.45 bisa melihat dari tiga layar digital besar, ketika Presiden Yudhoyono tiba di lobby Assembly Hall Balai Sidang Jakarta, sekitar pukul 08.00.
Presiden, yang tampak mengenakan busana jas warna gelap dan berdasi gelap, disambut Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan. Ada M.S. Hidayat, Ketua Umum Kadin Indonesia, yang turut menyambut Presiden yang kemudian diarahkan ke VIP Room, di mana tampak Mochtar Riady, pendiri Grup Lippo, yang menunggu di depan ruangan itu. Kecuali Mari, mereka semua berjas dan berdasi.
Sekitar 10 menit kemudian, Bill Gates tiba di lobby yang sama. Namun, berbeda dengan Yudhoyono, pengusaha peranti lunak komputer itu tampak mengenakan busana batik warna coklat.
Pada saat bersamaan, Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, yang juga mengenakan jas dan berdasi, tampak bergegas menuju VIP Room untuk menemani Presiden.
Peserta pun mengira acara segera dimulai karena para tokoh utama sudah tiba di tempat perhelatan. Akan tetapi lebih dari 20 menit berlalu, acara belum juga dimulai. "Padahal ini acara kepresidenan, mengapa molor begini?" keluh seorang peserta melalui pesan pendek (SMS).
Apa yang sesungguhnya terjadi? Sesaat kemudian, para undangan melihat Presiden Yudhoyono muncul di layar digital, tampak tak lagi mengenakan jas, tetapi sudah berbusana batik warna krem.
Tampaknya, Presiden Yudhoyono merasa tidak enak mengenakan jas, padahal tamunya berbusana batik.
Memang, dalam prosedur tetap kepresidenan, selalu tersedia busana lengkap, batik, baju koko, peci ataupun pakaian dinas harian ketika menghadiri acara-acara resmi.
Bisnis memperoleh informasi, protokol Bill Gates tidak memberitahukan kepada protokol Presiden bahwa salah satu orang terkaya di dunia itu akhirnya mengenakan batik. Sebab, dress code dalam undangan memang bukan batik, melainkan busana formal. Karena itu, sebagian besar tamu undangan mengenakan jas dan berdasi. Ruangan pun dingin sekali.
Perlu kampanye
Tampaknya, 'insiden' batik Presiden mengingatkan kembali seruan hemat energi dua tahun silam, termasuk imbauan untuk mengenakan busana batik, sebagai pengganti pakaian formal (jas dan berdasi), pada acara-acara resmi, termasuk rapat kabinet.
Berbeda dengan pada 2005 lalu, gaung kampanye hemat energi terus disuarakan pemerintah tatkala harga minyak mulai menekan kapasitas anggaran pemerintah, kini seruan untuk berhemat pun seolah-olah tak terdengar.
Dua tahun silam, Presiden Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri rajin menyerukan imbauan kepada masyarakat agar berhemat dalam mengonsumsi energi, termasuk diversifikasi energi, bahkan dalam penggunaan pendingin ruangan (AC) dan pakaian kerja sehari-hari.
Saat ini, situasinya kontras sekali. Faktanya, tekanan biaya energi saat ini jauh lebih berat menyusul lonjakan harga minyak hingga melampaui US$126 per barel, dan memaksa pemerintah menaikkan kembali harga BBM.
Namun, acara-acara resmi kini kembali diselipkan dress code: formal (jas lengkap) atau pakaian dinas harian. Tak banyak undangan resmi yang mencantumkan secara jelas dress code: busana casual atau batik lengan panjang.
Akankah insiden Presidential Lecture di Balai Sidang kemarin akan mengingatkan Presiden Yudhoyono, untuk kembali menyerukan back to batik, meninggalkan jas lengkap, guna menghemat energi untuk pendingin ruangan?
Semoga saja iya. Jika begitu, kita pantas berterima kasih kepada Bill Gates, tak cuma atas dukungannya dalam pengembangan teknologi informasi di Indonesia, tetapi juga dalam mengembalikan ke jalur 'kampanye hemat energi'. (arief. budisusilo@bisnis.co.id/ahmad.djauhar @bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Jumat, 05/09/2008 11:26 WIB
Kenaikan surcharge, simbol kekuasaan pelayaran asing
Oleh : Akhmad Mabrori
Jumat, 05/09/2008 11:11 WIB
Bisnis layanan broadband belum tergarap optimal
Oleh : Muhammad Sufyan
Jumat, 05/09/2008 10:35 WIB
Industri sawit dikawal isu lingkungan
Oleh : Martin Sihombing
Kamis, 04/09/2008 10:48 WIB
Roh RUU KEK itu sarat insentif
Oleh : Neneng Herbawati
Kamis, 04/09/2008 10:40 WIB
Tak ada (lagi) waralaba yang luput dari sanksi denda
Oleh : Linda T. Silitonga
Kamis, 04/09/2008 10:38 WIB
Berebut calon profesional TI dari kampus
Oleh : Karnain Lukman
Komentar
#1 - back to batik
saya setuju dengan Bill Gates. kapan lagi kita memasyarakatkan batik yang asli milik Indonesia? batik bisa sekeren jas lho..untuk cewek pun bisa lebih feminin
risya - palangkaraya/indonesia @ 14/05/2008 - 10:56 WIB dari 203.123.60.205 (203.123.60.205)