Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Selasa, 13/05/2008 10:13 WIB

Menanti gelombang revitalisasi CP Prima

oleh : Arif Gunawan S.

Bagi PT Central Proteina Prima Tbk (CP Prima), udang beku adalah pundi-pundi emas, yang menambah kas perseroan dan volumenya masih bisa ditingkatkan karena belum sepenuhnya digenjot.

Komoditas tersebut pada akhir tahun lalu membuat perseroan membukukan pendapatan Rp6,1 triliun atau melonjak 24,4% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Laba bersih mereka pun melesat 83,6% menjadi Rp358 miliar.

PT Samuel Sekuritas Indonesia mencatat penjualan udang beku CP Prima pada tahun lalu mencapai 36.221 metrik ton, atau melampaui estimasi semula yang mereka patok hanya 34.454 metrik ton.

"Tingginya penjualan itu didongkrak bisnis udang beku yang volume penjualannya meningkat," ungkap Bimo Haryo Pamungkas, analis Samuel Sekuritas.

Perseroan, lanjutnya, membukukan kenaikan margin kotor menjadi 18,4% dari semula 16,6% pada 2006. Kontribusi produk bernilai tambah itu memang tercatat memiliki margin lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional.

Menurut dia, produksi udang beku tersebut berpotensi terus meningkat karena perseroan masih terus memperluas lahan tambaknya, sebagai bagian dari revitalisasi tambak-tambak milik Dipasena.

Hingga Desember 2007, CP Prima telah merevitalisasi 4.709 tambak (100%) milik PT Wahyuni Mandira (eks Dipasena), sehingga total tambak mereka yang beroperasi mencapai 8.565 tambak.

Menurut catatan Bisnis, perseroan telah menghabiskan dana US$84 juta (Rp750 miliar) hingga akhir 2007 untuk merevitalisasi dua anak perusahaan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) yang dulu bernama Dipasena dan Wahyuni Mandira.

Tidak puas dengan itu, CP Prima berencana merevitalisasi lagi 4.839 tambak bekas milik Dipasena, sehingga total tambak pada akhir tahun ini diperkirakan mencapai 13.404 tambak.

Mereka menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$242 juta yang akan dikucurkan hingga 2009. Selain untuk merevitalisasi tambak, dana tersebut juga akan digunakan untuk membeli alat-alat berat.

"Kami mengekspektasikan produksi udang beku akan mencapai 90.185 metrik ton pada akhir 2008 (tumbuh 149% yoy), dengan pendapatan Rp8,35 triliun (naik 37,1% yoy)."

Sejak akuisisi hingga akhir September, hasil panen udang perseroan meningkat 28% menjadi 58.547 ton dibandingkan dengan panen periode yang sama tahun lalu sebanyak 45.741 ton.

Sementara itu, produksi udang beku naik 27% menjadi 94.560 ton. Produksi pakan udang dan benur juga naik masing-masing 34% dan 70% menjadi 244.200 ton dan 17.546 ton.

Saham murah

Dengan melihat aspek fundamental itu, Samuel Sekuritas menetapkan rekomendasi beli saham CP Prima dengan target harga Rp850 per saham. Broker ini menilai saham CP Prima ditransaksikan lebih rendah dari harga konversi obligasi tukarnya seharga Rp400 per saham.

"Kami menilai harga pasar CPRO saat ini tidak merefleksikan fundamental dari CPRO dan Dipasena yang berdasarkan valuasi DCF (discounted cash flow/arus kas diskonto) sebesar Rp848 per saham," tulis Bimo.

Saham berkode CPRO ini, lanjutnya, sekarang diperdagangkan pada P/E 2008-2009 sebesar 6,7 kali hingga 4,1 kali, dan EV/EBITDA 2008-2009 5,1 kali - 3,7 kali.

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham CPRO ditransaksikan pada level Rp270 atau naik Rp15 dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu.

Tekanan bursa global sepanjang tahun ini membuat harga saham ini terjerembap ke posisi terendah di level Rp245 pada 17 Maret. Pada tahun lalu, kinerja harga saham ini cukup perkasa dengan posisi tertinggi Rp770 pada 23 Juli.

Bimo menambahkan risiko yang membayangi target harga CPRO itu terutama terletak pada keterikatan besar kewajiban (utang) perseroan terhadap fluktuasi kurs US$. Ketergantungan tersebut wajar, mengingat perseroan mengekspor 98% produk udang bekunya ke Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.

Tahun lalu, CP Prima membukukan kerugian valuta asing Rp180 miliar, setelah pada 2006 membukukan keuntungan valas Rp21 miliar. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Jumat, 05/09/2008 10:35 WIB

    Industri sawit dikawal isu lingkungan

    Oleh : Martin Sihombing

    Kamis, 04/09/2008 10:48 WIB

    Roh RUU KEK itu sarat insentif

    Oleh : Neneng Herbawati

    Kamis, 04/09/2008 10:40 WIB

    Tak ada (lagi) waralaba yang luput dari sanksi denda

    Oleh : Linda T. Silitonga

    Kamis, 04/09/2008 10:38 WIB

    Berebut calon profesional TI dari kampus

    Oleh : Karnain Lukman

Komentar

Beri Komentar