Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Sabtu, 17/05/2008 10:57 WIB
60 Menit bersama Legacy 600
oleh : Hery Trianto
Hidungnya mancung dengan body begitu mulus. Tak sabar untuk segera mendekat pada sosok menawan itu dan mengenalnya lebih dalam. Ups, benar juga, susah menemukan cela pada tubuh putih dengan guratan merah itu.
Legacy 600, dari namanya jelas bukan nama orang, apalagi perempuan. Ini adalah seri pesawat jet pribadi buatan Brasil dengan mengadopsi mesin ganda Rolls Royce. Berkapasitas hanya untuk 13 penumpang plus satu awak kabin, menjadikan kabin begitu mewah berlapis lantai karpet dan jok kulit sapi warna krem.
Kamis menjelang tengah hari, Senior Country Manager Indonesia MasterCard Worldwide Vadyo Munaan berkesempatan menjadi penumpang pertama yang memasuki Legacy 600. Setelah sejenak berfoto-foto, bersama sepuluh orang wartawan media cetak, ia siap menikmati penerbangan khusus siang itu.
MasterCard, menggelar konferensi pers khusus di jet pribadi. Ini dilakukan untuk berbagi pengalaman yang akan dinikmati pemenang undian program belanja menggunakan kartu kredit premium MasterCard. Bagi yang beruntung-dan itu telah terpilih satu orang-berhak menikmati perjalanan ke Bali bersama tujuh teman menggunakan Legacy 600 plus menginap tiga malam di Como Shambala Estate, Ubud, yang bertarif US$3.500 per malam.
Segera setelah memasuki pesawat, susah untuk mengatakan apabila ini adalah momentum perjalanan yang biasa-biasa saja. Kabin Legacy 600 dibagi dalam dua bagian, pertama dua lajur empat baris untuk delapan penumpang. Pada bagian belakang membentang sofa untuk tiga penumpang dan dua kursi dalam posisi berhadapan.
"Saat makan di restoran spesial saya selalu berpikir kapan bisa mengajak istri suatu waktu. Kini saya berpikir kapan bisa mengajaknya ke sini," kata Vadyo memulai pembicaraan sambil pandangannya menyapu setiap detail interior pesawat.
Sesaat kemudian, terdengar suara kapten pilot menginformasikan rencana penerbangan. Karena ini memang jet pribadi, tujuannya terserah pada penyewa. "Kita akan terbang kurang lebih 60 menit, ke arah selatan menuju Pelabuhan Ratu dan berbelok menuju Ujung Kulon, sebelum kembali lagi ke Halim."
Mesin pesawat mulai menderu. Muncul rasa penasaran apakah take off bisa stabil. Maklum, pengalaman terbang menggunakan pesawat berbadan kecil selalu dibarengi dengan guncangan cukup keras.
Namun, rasa penasaran itu terjawab cepat, pesawat mengudara dengan lembut nyaris tanpa guncangan berarti layaknya jumbo jet. Suara dua mesin yang dipasang di mesin pesawat juga terdengar samar. Tak begitu lama, pesawat sudah di atas Jakarta dengan ketinggian 15.000 kaki dengan kecepatan 333 mil perjam.
Ini memang penerbangan premium. Jadi kenyamanan penumpang sudah pasti menjadi prioritas utama selain keamanan. Jet Pribadi ini dikelola oleh Premiair, operator pesawat tak terjadwal yang beroperasi sejak 1989.
Selain The Legacy 600, maskapai ini juga mengoperasikan tiga jenis pesawat dari Cessna C 208B, Embraer 120 untuk VIP dan evakuasi medis serta Fokker 100. Benarkah bisnis pesawat carter memiliki pasar memadai di Indonesia?
"Sejauh ini kami tidak pernah sepi pelanggan. Minggu ini malah sudah full booked, baik yang Legacy maupun jenis pesawat lainnya," tutur Misra Morgan, Account Executif Premiair, yang mendampingi penerbangan siang itu.
Umumnya, katanya, Premiair melayani pelanggan korporat untuk berbagai keperluan bisnis. Tujuannya: tentu bisa ditentukan sendiri, apakah cukup di dalam negeri atau hingga melintas batas ke luar negeri.
Pelanggan utama
Sejumlah perusahaan papan atas seperti Para Group, Astra International, Bumi Resources, Bakrie Capital, Sinar Mas, hingga Halliburton adalah pelanggan yang pernah menggunakan Premiair. Pemimpin negara dan selebritas juga tak jarang menggunakan jasa mereka.
Cuaca berawan menjadikan proses pendaratan tidak semulus saat mengudara. Guncangan terjadi saat pesawat berusaha menembus gugusan awan dan secara perlahan kembali mendarat di landas pacu Halim Perdanakusuma.
Namun, kejadian ini tak terlalu mengurangi kenyamanan terbang. Bisik-bisik yang terdengar, MasterCard merogoh kocek US$10.000 untuk penerbangan singkat itu. Sebuah harga yang mahal bagi orang awam, tapi tak berarti bagi korporasi beserta para eksekutif di dalamnya. (hery.trianto@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Senin, 07/07/2008 11:50 WIB
Menggerakkan sektor riil kita
Oleh : Ahmad Djauhar
Senin, 07/07/2008 10:06 WIB
Konsep mozaik dan pemanfaatan hutan
Oleh : Erwin Tambunan & Martin Sihombing
Sabtu, 05/07/2008 09:46 WIB
PON XVII Kaltim dibuka hari ini Biaya wah tetapi atlet merasa cemas
Oleh : Yuristiarso Hidayat, Marlina A. Jobs dan Sonny Majid
Jumat, 04/07/2008 11:43 WIB
PLTU Cilacap rugi, salah siapa?
Oleh : Rudi Ariffianto, Diena Lestari & Algooth Putranto
Jumat, 04/07/2008 11:28 WIB
Industri sawit di antara dua keinginan
Oleh : Martin Sihombing
Jumat, 04/07/2008 11:19 WIB
Berharap untung dari implementasi EPA
Oleh : Sepudin Zuhri