Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Senin, 07/07/2008 11:50 WIB
Menggerakkan sektor riil kita
oleh : Ahmad Djauhar
Tahun 2007, tak diragukan lagi, merupakan salah satu tahun terproduktif-di antara sepuluh tahun periode krisis-bagi banyak perusahaan di Indonesia. Tidak heran apabila kinerja perekonomian nasional terkatrol karenanya.
Tak pelak, 2007 seakan menjadi penutup lembaran satu dekade kepedihan bangsa Indonesia akibat krisis multidimensi yang mendera sejak akhir 1997 silam. Membaiknya perekonomian nasional ini tentu saja menimbulkan trickle down effect bagi bergulirnya iklim bisnis secara meyakinkan, kendati cenderung volatile.
Kondisi tersebut muncul terutama pada efek roller-coaster pada indeks harga saham gabungan, kendati sempat melampaui angka psikologis 2.700 atau tertinggi sepanjang sejarah bursa saham di negeri ini.
Suku bunga BI Rate sepanjang tahun berjalan pun cukup kondusif bagi upaya pengembangan bisnis di negeri ini. Pada akhir tahun 2007, BI Rate dipertahankan pada kisaran 8%, dan suku bunga pinjaman komersial perbankan nasional juga menunjukkan kecenderungan relatif makin murah. Kondisi ini tercermin pada relatif stabilnya nilai tukar rupiah pada kisaran Rp9.100 per dolar AS.
Pengendalian inflasi pun sebenarnya relatif bagus. Menurut catatan Badan Pusat Statistik, inflasi tahun kalender 2007 tercatat 6,60% atau sama dengan angka inflasi pada tahun sebelumnya. Dengan berbagai indikator tersebut, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) atau yang lebih dikenal sebagai pertumbuhan ekonomi nasional 2007 dapat dikatakan not bad, mencapai 6,3%.
Prestasi manis 2007 itu memang sempat berlanjut hingga setidaknya kuartal pertama 2008, kendati kemudian agak tidak menentu. Kisaran nilai tukar rupiah, misalnya, cenderung melemah yang pada akhir kuartal I/2008 rupiah tersudut ke posisi Rp9.258 per dolar AS akibat berbagai gejolak yang dipicu oleh harga minyak internasional.
Begitu juga halnya dengan inflasi yang pada kuartal pertama tahun ini, year-on-year, menanjak menjadi 8,17%. Lagi-lagi karena faktor harga minyak dunia yang tak menentu, pemerintah pun menaikkan harga bahan bakar minyak, sehingga angka pertumbuhan mungkin akan terkoreksi menjadi 6% atau paling tinggi 6,2%. Tahun ini, inflasi juga diproyeksikan melonjak sekitar 11%-12%.
Tertatih-tatih
Selain itu, kita juga menghadapi tahun politik 2009, dan seperti biasanya, dunia usaha-karena bayang-bayang ketakutan terhadap ekses pemilu-akan berjalan agak tertatih-tatih.
Namun, sebagian di antara mereka tetap eksis dan bahkan menunjukkan kinerja yang berarti. Artinya, dunia usaha sebenarnya cukup mampu menemukan gayanya sendiri menghadapi keadaan yang oleh banyak orang dilukiskan sebagai tahun vivere pericoloso-menyerempet bahaya-ini.
Tapi, life must goes on, begitu kata orang bijak. Apa pun yang terjadi tahun ini, kita sudah sempat mengenyam manisnya perbaikan sektor ekonomi nasional tahun lalu. Harian ini, melalui penyelenggarakan Bisnis Indonesia Award 2008 yang akan digelar nanti malam, kembali mempersembahkan serangkaian penghargaan bagi mereka yang mencatat prestasi membanggakan pada tahun silam.
Bisnis Indonesia Award yang merupakan puncak penghargaan kepada pelaku bisnis di Indonesia kali ini merupakan penyelenggaraan ketujuh. Selama tujuh tahun ber turut-turut, sejak 2002, harian ini tidak pernah absen untuk mencatat, memilih, serta mempromosikan para pelaku bisnis yang memang memiliki nilai lebih.
Mengingat perkembangan ekonomi dan kegiatan bisnis yang demikian dinamik, Bisnis Indonesia Award 2008 mengusung tema Menggerakkan Sektor Riil. Artinya, bagi perusahaan yang pada 2007 benar-benar produktif, tetapi tetap mampu atau terbukti memberikan kontribusi bagi pergerakan kembali sektor riil, kepada merekalah kami akan mempersembahkan penghargaan tersebut.
Kami percaya semangat kebangkitan nasional-yang kali ini merupakan perayaan ke-100 tahun-akan mampu memberikan dorongan bagi pelaku usaha di negeri ini untuk tetap eksis dan semakin memperkuat kemandirian bangsa.
Bukankah kemandirian itu yang diidamkan oleh para penggerak kebangsaan seabad silam, sehingga bangsa ini tidak harus terlalu bergantung lagi pada uluran tangan bangsa lain?
Demikian pula halnya dengan tema menggerakkan kembali sektor riil yang kami gulirkan tersebut. Kepada perusahaan-baik di sektor riil sendiri maupun sektor finansial-yang memang memiliki kepedulian dalam mendorong kebangkitan sektor riil, mereka secara langsung ataupun tidak telah menunjukkan upaya untuk turut membangkitkan kemandirian bangsa ini.
Kebangkitan sektor riil jelas memiliki implikasi sangat luas, yakni terbukanya peluang kerja lebih besar bagi para pencari kerja, sehingga pada gilirannya dapat memberikan penghasilan dan melancarkan perekonomian nasional.
Sungguh sebuah upaya yang dalam skala lebih besar lagi dapat memandirikan rakyat kita dari berbagai ketergantungan, termasuk bergantung pada subsidi maupun bantuan langsung pemerintah, misalnya.
Kian bervariasi
Pilihan tema bagi Bisnis Indonesia Award 2008 ini memang kami kembangkan sedemikian rupa, sehingga melengkapi berbagai tema BI Award selama ini. Kami berharap dengan pengembangan tema tersebut, peserta ataupun penerima penghargaan akan semakin bervariasi.
Dengan demikian, secara tidak langsung kami ingin menciptakan kondisi agar semakin banyak perusahaan maupun pelaku usaha yang dapat meraih kinerja lebih optimal, yang pada gilirannya akan memacu efisiensi bisnis di negeri ini.
Khusus untuk penerima BI Award tahun ini, terbuka peluang untuk 'bermain' pada platform lebih luas karena mereka akan diikutkan dalam seleksi perusahaan berkinerja tinggi di tingkat Asean yang akan digelar di Bangkok sebelum penghujung tahun ini, yakni Asean Business Award.
Bisnis Indonesia bekerja sama dengan Asean Business Advisory Council sepakat untuk mempromosikan perusahaan unggulan dari forum BI Award itu-juga beberapa peraih penghargaan pada Anugerah Produk Asli Indonesia yang juga diselenggarakan Bisnis Indonesia-untuk merebut status sebagai perusahaan terhormat di wilayah Asia Tenggara.
Dengan meraih penghargaan itu kelak, semakin mudah bagi perusahaan tersebut untuk melakukan ekspansi ataupun meningkatkan penetrasi produk di pasar dengan populasi sedikitnya 700 juta jiwa tersebut. Hal ini tentu saja menjadi tantangan trsendiri yang sayang untuk dilewatkan.
Keberhasilan tersebut juga, tentu saja, akan makin memperkokoh keyakinan pengelola harian ini untuk meningkatkan layanan ataupun kerja keras guna semakin mendekatkan entitas bisnis di Indonesia ke panggung dunia.
Hal itu berarti bahwa Bisnis Indonesia Award bukan sekadar pentas untuk bagi-bagi plakat dan piagam. Bukan. Bukan seperti itu. Penghargaan BI Award ini-yang digelar dengan setulus hati, tanpa memungut itu dan ini-memang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa perusahaan ataupun pelaku bisnis nasional yang memperolehnya memang pantas dan berhak menerima award itu sehubungan dengan kinerja optimalnya. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
|
Nominee Bisnis Indonesia Award 2008
|
| Kategori 1 Emiten Perikanan dan Pertanian |
| Astra Agro Lestari |
| Central Proteina Prima |
| Bakrie Sumatera Plantation |
| Kategori 2 Emiten Pertambangan |
| Aneka Tambang |
| International Nickel Indonesia |
| Tambang Batubara Bukit Asam |
| Kategori 3 Emiten Industri Dasar dan Kima |
| Betonjaya Manunggal |
| Pelangi Indah Canindo |
| Surabaya Agung Industry |
| Kategori 4 Emiten Aneka Industri |
| Astra International |
| Multistrada Arah Sarana |
| Nipress |
| Kategori 5 Emiten Industri Barang Konsumsi |
| Cahaya Kalbar |
| Indofood Sukses Makmur |
| Tiga Pilar Sejahtera Food |
| Kategori 6 Emiten Properti dan Real Estate |
| Bakrieland Development |
| Lippo Karawaci |
| Total Bangun Persada |
| Kategori 7 Emiten Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi |
| Arpeni Pratama Ocean |
| Bakrie Telecom |
| Indosat |
| Kategori 8 Emiten Perdagangan, Jasa dan Investasi |
| Bakrie Brothers |
| FKS Multi Agro |
| Global Mediacom |
|
Perbankan dan Keuangan
|
| Kategori Bank Umum Nasional |
| Bank Muamalat Indonesia |
| Bank NISP |
| Bank UOB Buana |
| Kategori Bank Pembangunan Daerah |
| BPD Bali |
| BPD DKI |
| BPD Jateng |
| Kategori Bank Campuran dan Asing |
| Bank DBS Indonesia |
| Rabobank International Indonesia |
| Bank Resona Perdania |
| Kategori Asuransi Umum |
| Asuransi Adira Dinamika |
| Asuransi Central Asia |
| Panin Insurance |
| Kategori Asuransi Jiwa |
| Asuransi Allianz Life Indonesia |
| Asuransi Jiwa Manulife Indonesia |
| AIG Life |
| Kategori Perusahaan Pembiayaan |
| Citigroup Finance Indonesia |
| Intan Baruprana Finance |
| Mitsubishi UFJ Lease & Finance Indonesai |
| Kategori Perusahaan Sekuritas |
| Andalan Advisindo |
| Danareksa Sekuritas |
| Mandiri Sekuritas |
| Kategori Perusahaan Manajer Investasi |
| Fortis Investment |
| Mandiri Manajemen Investasi |
| Schroder Investment Management Indonesia |
| Nominasi CEO |
| Widya Wirawan (Astra Agro Lestari) |
| Hiramsyah S. Thaib (Bakrieland Development) |
| Stefanus Joko Mogoginto (Tiga Pilar Sejahtera Food) |
| Winny E. Hassan (Bank DKI) |
| A. Riawan Amin (Bank Muamalat) |
bisnis.com
Artikel »
Selasa, 07/10/2008 10:52 WIB
Keinginan impor sapi Brasil jangan karena emosi
Oleh : Martin Sihombing
Selasa, 07/10/2008 10:51 WIB
Industri manufaktur (jangan) menanti Sang Penyelamat
Oleh : Yusuf Waluyo Jati
Selasa, 07/10/2008 10:50 WIB
Setumpuk PR di tengah liberalisasi perdagangan
Oleh : Sepudin Zuhri
Selasa, 07/10/2008 10:48 WIB
Menakar laju investasi jalan tol
Oleh : A. Dadan Muhanda
Selasa, 07/10/2008 10:46 WIB
Implikasi konsumen bermemori jangka pendek
Oleh : Linda T. Silitonga
Selasa, 07/10/2008 10:44 WIB
Bisnis kiriman ekspres masih diminati
Oleh : Arif Pitoyo