Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Selasa, 26/08/2008 10:16 WIB

Musibah Spanair pelajaran berharga bagi semua negara

oleh : Hendra Wibawa

Suasana pintu masuk Bandara International Barajas di Madrid, Spanyol, saat petang 19 Agustus lalu, tampak mulai padat. Banyak calon penumpang memilih menunggu keberangkatan di ruang check in bandara. Sebagian dari mereka membunuh waktu dengan menggunakan telepon umum atau memainkan bola tenis.

Calon penumpang di Bandara Barajas umumnya wisatawan mancanegara dari Amerika atau Eropa Barat. Bandara yang melayani 40 juta penumpang per tahun itu memang layak menjadi pintu masuk ke Semenanjung Iberia untuk wisatawan asal Amerika dan Eropa.

Saya bersama Delegasi Indonesia di World Expo Zaragoza 2008 yang bersiap meninggalkan Spanyol menikmati pemandangan itu dengan takjub.

Meski padat, suasana Barajas tak pernah membosankan. Ada tempat duduk yang disiapkan khusus bagi calon penumpang sebagai tempat tunggu keberangkatan. Ada juga fasilitas perbelanjaan berlabel duty free 24 jam di semua terminalnya.

Layaknya bandara modern, perpindahan satu terminal ke terminal lain di Barajas dilakukan menggunakan kereta bawah tanah.

Tak sampai 24 jam setelah meninggalkan Terminal 4 Bandara Barajas, saya dikagetkan berita jatuhnya pesawat MD-82 milik Spanair nomor penerbangan JK5022 rute Madrid-Las Palmas (Kepulauan Canary).

Pesawat itu jatuh di dekat Terminal 4, tempat di mana pesawat British Airways yang membawa rombongan kami terbang ke Bandara Heathrow London, Inggris.

Setidaknya 154 orang dilaporkan tewas dari 166 penumpang dan sembilan awak dalam kecelakaan terburuk di Bandara Barajas itu. Seorang warga Indonesia bernama Nguni Toka Rondonuwu (30) juga menjadi korban dalam kecelakaan terburuk di Spanyol dalam 25 tahun terakhir itu.

Spanair merupakan cabang Scandinavian Airlines Systems (SAS) yang berbasis di Palma de Mallorca Spanyol dilaporkan tengah diincar oleh maskapai swasta Spanyol Gadair European Airlines.

Spanyol sendiri merupakan salah satu anggota Komisi Eropa yang getol mengeluarkan kebijakan melarang terbang (airlines ban) maskapai negara lain ke Uni Eropa. Seluruh maskapai penerbangan Indonesia termasuk dalam daftar hitam maskapai yang dilarang terbang ke kawasan tersebut.

Tanggapan Menhub

Bagaimana tanggapan Indonesia atas tragedi itu? Menhub Jusman Syafii Djamal menyatakan kecelakaan dapat menimpa pesawat milik maskapai dan negara yang memiliki regulasi terbaik sekalipun. Kecelakaan pesawat juga tidak memandang status negara, baik berkembang maupun negara maju.

Selama larangan terbang ke seluruh maskapai Indonesia, setidaknya ada tiga kecelakaan pesawat di Eropa. Pertama, pesawat British Airways yang salah mendarat di lapangan rumput Bandara Heathrow London. Kedua, pesawat Boeing 747-200 milik Kalitta Air terbelah saat melakukan take off di Bandara Brussels, Belgia, pada 25 Mei lalu. Terakhir, kecelakaan tragis pesawat Spanair di Madrid.

Uni Eropa sejak awal beralasan larangan terbang bagi seluruh maskapai Indonesia mengacu alasan kecelakaan pesawat yang terjadi berulang sejak 2004 hingga 2007. Dalam rentang waktu itu, Uni Eropa melansir data ICAO yang menyebutkan 62 kecelakaan dan kejadian serius di penerbangan Indonesia yang menelan 200 korban jiwa.

Uni Eropa diharapkan lebih mengedepankan kerja sama teknis daripada menerapkan larangan terbang dan menghargai tiap otoritas penerbangan sipil semua negara. Hal itu karena kecelakaan bisa menimpa ke pesawat terbaik sekalipun. "[Meski demikian] kami turut berduka cita, apalagi ada warga negara Indonesia yang menjadi korban," kata Jusman.

Bagaimanapun kecelakaan pesawat di wilayah mana pun di dunia adalah pelajaran berharga bagi semua negara agar kejadian yang sama tidak terulang. (hendra.wibawa@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB

    UKM hadapi dampak lanjutan krisis global

    Oleh : Mulia Ginting Munthe

    Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB

    Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok

    Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

    Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB

    Sektor pertanian butuh proteksi

    Oleh : Martin Sihombing

    Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB

    Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?

    Oleh : Yusuf Waluyo Jati

Komentar

#1 - kecelakaan pesawat udara

regulator,operator dan pengguna jasa harus saling kritis...tidak boleh menang sendiri atau memihak sana sini...terapkan aturan main yang benar...akan jaya moda transportasi udara.

bush - jakarta @ 27/08/2008 - 20:40 WIB dari 118.137.66.204 (204.66.137.118.fast.net.id)

Beri Komentar