Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Sabtu, 30/08/2008 09:43 WIB

Dari pungli, korupsi hingga revolusi

oleh : Maria Y. Benyamin & Aprika R. Hernanda

"Negeri ini seharusnya sudah menjadi maju dari dulu-dulu. Seandainya saja penyakit masyarakat yang bernama pungli alias pungutan liar tidak menjangkiti bangsa ini."

Sepenggal satir dari artis Dik Doank membelah hujan pertama di Jakarta kemarin sore. Setelah banyak orang lelah berperang dengan pungli, ternyata masih ada setitik optimisme. Seperti hujan kemarin yang menghapus panas sebelumnya.

Optimisme? Ya, kata Dik, dan harus berasal dari diri sendiri. Mulai untuk tidak melakukan dan menjerumuskan diri dalam sistem yang terinfeksi pungli.

Topik ini kembali menjadi bahasan ketika Bisnis Indonesia menggelar talkshow tentang Investasi di Republik Pungli. Selain Dik, sejumlah nama besar juga hadir, yaitu Ketua Apindo Sofjan Wanandi, Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR Gayus Lumbuun, dan Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Narga Syarief Habib.

Inilah realita. Kenyataan di negara kita, Republik Indonesia, yang terus saja dilanda demam rupiah. Seolah menjelma menjadi Republik Pungli.

Saking hebohnya persoalan pungli di Tanah Air, hingga kini tak ada ramuan yang mampu mengobati penyakit yang sudah menahun.

Generasi tua mungkin sudah lelah dengan itu. Sofjan sendiri mengaku patah arang melihat pungli multilini di negara kita. Namun, katanya, mestinya masih ada optimisme dari generasi muda.

Media iklan

Sejalan dengan upaya pemberantasan pungli, Bisnis Indonesia melalui ajang Gagas Award 2007 mencoba membidik itu melalui media iklan untuk membendung penyakit itu agar tak kelewat kronis dan mematikan.

Hasil karya iklan yang pernah diberi penghargaan tahun lalu, kemarin dirangkum dalam buku untuk memudahkannya menembus kalangan masyarakat umum demi memerangi pungli.

Dunia periklanan seperti sastra indra yang bergerak untuk memuaskan penikmatnya. Dengan paduan warna dan bentuk tertentu, iklan menarik minat masyarakat karena menjanjikan tatanan baru yang sifatnya lebih permanen.

Keterbatasan kata-kata dalam iklan justru mampu menguak tabir kenyataan secara tajam. Isu-isu krusial seperti pungli dan korupsi bisa disampaikan secara tuntas tanpa butuh khotbah yang panjang.

Dengan permainan grafis, iklan mengambil tempat yang efektif dalam menyampaikan kritik pedas, tajam, sekalipun dengan gaya agak jenaka.

Di sinilah justru kelebihannya. Terjadi perkawinan yang kental antara seni menertawakan diri sendiri dan melakukan purifikasi.

Masyarakat diajak mengakui kesalahannya dengan menertawakan dirinya sendiri. Iklan, sebuah terapi penuh pertobatan.

Lalu, tersentilkah pelaku pungli dengan iklan bertemakan pungli itu? Rasa-rasanya agak sulit menjawab pertanyaan ini. Tepat seperti dikatakan Gayus Lumbuun yang kini sibuk mengurusi urusan pungli yang merambat juga ke sebagian anggota DPR.

Faktanya, pungli yang dulunya hanya kelihatan secara kasat mata, kini berani 'unjuk gigi' secara terang-terangan, seolah-olah tak tersentil sedikit pun.

"Ya, ini gejala kronis yang terjadi di negara kita yang tanpa disadari akan mengikis keberadaan negara kita sebagai negara hukum. Erosi terhadap negara hukum," keluh Gayus.

Maka, obatnya pun tidak semudah menaburkan bubuk pembunuh pungli untuk membasmi jentiknya. "Good governance adalah jawaban yang tepat," tegasnya dalam talkshow itu.

Sementara itu, Sofjan Wanandi lagi-lagi berkeluh-kesah karena kenyang berurusan dengan para pungli dan akhirnya terpaksa mengaku kalah dan patah semangat menghadapinya.

Keadaan pungli saat ini telah berkembang menjadi hal yang lebih dahsyat, yakni korupsi, sehingga nyaris tak bisa diobati lagi.

Maka wajar saja, nada pesimistis meluncur dari mulutnya, "Apakah keadaan ini bisa dibenahi?"

Apalagi keraguan terhadap terapi kejut yang selama ini diterapkan di negara ini nyaris tanpa hasil.

Buktinya semakin gigih KPK membuka kedok para koruptor, makin berani pula koruptor mencari cara untuk melaksanakan praktik-praktik pungli.

"Katanya mereka ditahan. Tetapi sebenarnya mereka enak-enak masih bisa tidur di rumah. Apakah ini bisa membuat orang lain takut melakukan pelanggaran itu? Apakah KPK bisa menyelesaikan masalah ini?" tuturnya.

Kendati pesimistis, setidaknya masih ada keyakinan yang sedikit terselip dalam diri Sofyan. "Jika ada gerakan bersama, mungkin pungli bisa

dihapuskan walau cuma sedikit," katanya.

Sedikit berbeda, Narga merumuskan perang terhadap pungli hanya bisa dengan satu cara. Revolusi, tantangnya. Menurut dia, hanya dengan cara itu penyakit ini bisa enyah selamanya.

Bagaimana memulainya? Narga yakin daya kreativitas yang dimiliki kaum muda, sebagai agen-agen pelaku revolusi, bisa menjadi jalan untuk mengatasi persoalan yang tengah mengimpit negara ini.

Iklan yang tak putus-putusnya untuk menyosialisasikan gerakan antipungli dan kroni-kroninya itu barangkali bisa menjadi salah satu peluru untuk menyadarkan masyarakat atas bahaya penyakit yang satu ini.

Peran pers

Bagaimana dengan peran pers? Dengan sedikit mencibir, Sofjan menyesalkan publikasi kasus-kasus korupsi yang tidak berimbang. Kerap, katanya, para koruptor yang juga banyak di antaranya pejabat pemerintah, anggota DPR, dan tokoh publik lainnya, justru menjadi pahlawan.

"Mana ada mantan napi-napi buat asosiasi lalu diliput. Wartawan kok ya mau-mau saja. Itu mantan napi yang melakukan korupsi tapi malah jadi seperti pahlawan. Ini kan lucu."

Ahmad Djauhar, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, menimpali, "Memang semua harus dimulai dari diri sendiri. Seperti kata kang Dik Doank."

Ya, seandainya semua orang Indonesia menyadari itu. Mungkin negara ini sudah maju dari dulu. Bukannya dari dulu maju, tetapi tidak maju-maju. (aprika.hernanda@bisnis.co.id/maria.benyamin@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB

    UKM hadapi dampak lanjutan krisis global

    Oleh : Mulia Ginting Munthe

    Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB

    Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok

    Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

    Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB

    Sektor pertanian butuh proteksi

    Oleh : Martin Sihombing

    Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB

    Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?

    Oleh : Yusuf Waluyo Jati

Komentar

Beri Komentar