Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Kamis, 04/09/2008 10:38 WIB
Berebut calon profesional TI dari kampus
oleh : Karnain Lukman
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada bidang teknologi informasi (TI), vendor yang bergerak pada bisnis TI pun ikut mengecap manisnya kemajuan itu. Produk-produk mereka makin berkembang dan beragam mulai dari perangkat keras sampai peranti lunak untuk menghadirkan dan memenuhi kebutuhan solusi-solusi bagi perusahaan dan individu.
Namun, konsekuensinya para vendor memerlukan banyak tenaga ahli untuk mengembangkan produknya. Demikian juga tenaga ahli untuk membantu pengimplementasian solusi yang akan diberikan bagi para pelanggan.
Tak pelak pemenuhan akan tenaga ahli TI pun menjadi semakin penting. Jika kita merujuk pada kondisi di Indonesia, kendala yang ditemui belum banyak lembaga pendidikan yang didirikan untuk memasok tenaga TI.
Contohnya saja SAP, perusahaan penyedia aplikasi enterprise resource planning (ERP), yang membutuhkan 5.000 tenaga ahli berkemampuan SAP di Asia Tenggara. Adapun secara global, diproyeksikan SAP membutuhkan 60.000 hingga 80.000 tenaga ahli.
Setiadji Sunarsan, Country Manager Field Service Dept. PT SAP Indonesia, mengatakan sedikitnya ada 350 perusahaan di Asia Tenggara yang bergerak di lintas industri yang memerlukan tenaga SAP. Sarjana bidang studi teknologi informasi (TI) di Indonesia berpotensi mengisi kebutuhan 5.000 tenaga TI tersebut.
Untuk itu PT SAP Indonesia, meluncurkan SAP e-Academy di Indonesia yakni sebuah program pelatihan enterprise resource planning (ERP) bersertifikat melalui pembelajaran online.
Selain itu, seorang sarjana TI yang telah memiliki pemahaman umum kurikulum SAP dapat menjadi tenaga ahli SAP bersertifikat dengan waktu sekitar 6 pekan melalui pelatihan intensif SAP Academy dengan biaya sekitar US$5.000 di ruang kelas dengan kapasitas yang terbatas.
Perbedaannya biaya pembelajaran e-Academy lebih murah 40% dibandingkan dengan SAP Academy.
Man Mohan Kapur, Direktur SAP Education Service Asean, menuturkan biaya pendidikan sertifikasi SAP di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia dua kali lipat dan satu setengah kali lipat lebih mahal daripada tingkat biaya di Indonesia.
Dari Program e-Academy, SAP menargetkan dapat melatih lebih dari 100 konsultan bersertifikat ERP SAP setiap tahunnya.
Membidik kampus
Gunawan Lukito, Direktur Pemasaran PT Oracle Indonesia, mengatakan kebutuhan akan tenaga TI di perusahaannya beberapa kali lipat lebih banyak dari vendor lainnya tanpa mau menyebutkan jumlahnya.
"Dengan banyaknya perusahaan yang diakuisisi oleh Oracle, maka makin besar pula portofolio yang dimiliki sehingga kebutuhan akan tenaga TI kami jauh lebih banyak," ujarnya kepada Bisnis.
Oracle memiliki banyak portofolio seperti Oracle Technology, Oracle Aplikasi, dan Oracle Fushion Middle Ware. Sebanyak 50 Universitas di Indonesia juga menjajaki kerja sama untuk mengadopsi program Oracle Academy.
Pengenalan program Oracle Academy pada tingkat universitas diklaim sejajar dengan tujuan strategis Indonesia untuk menghasilkan lulusan ahli teknologi informasi yang siap pakai. Saat ini, Oracle Academy mendukung lebih dari 397.000 mahasiswa di 83 negara. PT IBM Indonesia melakukan cara yang berbeda dalam memenuhi tenaga ahli untuk mengimplementasikan software DB2 nya. IBM menggelar program pendidikan peranti lunaknya di beberapa universitas. Salah satunya adalah dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui program Career Education in IBM Software (CEIS).
Kemudian IBM baru-baru ini juga melakukan kerja sama dengan Universitas Bina Nusantara dalam pengadopsian Service Science Management, Service Oriented Architecture, dan software DB2.
Suryo Suwignjo, President Director PT IBM Indonesia, mengatakan setiap tahun rata-rata IBM membutuhkan 100 orang tenaga ahli bidang TI. "Tahun ini kami membutuhkan 75 tenaga TI."
Dia mengatakan selama ini IBM sulit untuk mendapatkan tenaga TI. Sebenarnya IBM bisa saja mengambil tenaga dari luar, tetapi biaya untuk menggaji mereka mahal. Mengutip data lembaga penelitian Gartner, Suryo mengatakan kebutuhan tenaga TI profesional di dunia akan membengkan menjadi 350.000 orang pada tahun 2010.
Untuk itu, salah satu tujuan IBM mengadakan kerja sama ini adalah untuk mempersiapkan tenaga TI tersebut.
"Kalau kami tidak mempersiapkannya, maka yang akan mengambil peluang adalah orang asing," imbuhnya.
Gerardus Polla, Rektor Universitas Bina Nusantara (Binus), mengatakan ada sebanyak 870 perguruan tinggi swasta yang berdiri di Indonesia dan 40% di antaranya tidak bertahan karena tidak ditunjang dengan kualitas.
"Tren kebutuhan tenaga TI kedepan adalah industri kreatif dan pengembang web," ujar Rektor Binus tersebut.
Sertifikasi keahlian
Kendati kebutuhan tenaga ahli TI sangat tinggi, bukan berarti harus mengorbankan kaulifikasi atau kualitas. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Telematika mencoba menjawab permasalahan itu dengan memberikan sertifikasi profesi bagi tenaga kerja berbasis TI. LSP Telematika telah menjaring 4.500 orang bersertifikat dari berbagai bidang telematika. Adapun jumlah profesional bidang TI, menurut lembaga itu mencapai 1 juta sampai 2 juta orang.
Dalam rangka meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap program sertifikasi, LSP menyiapkan dukungan pelayanan melalui 161 tempat uji kompetensi (TUK) telematika.
Menurut data dari LSP dan International Data Center pada tahun 2007 Indonesia memiliki sebanyak 188.855 dan diperkirakan sebanyak 207.934 tenaga TI diserap pada tahun ini.
Menurut Aizirman Djusan, Kepala Badan dan Pengembangan SDM Depkominfo, sampai saat ini sudah ada tujuh sertifikasi kompetensi sektor komunikasi dan informatika yang sudah dikeluarkan.
Akan ada empat standar lagi yang dikeluarkan, dan ada sembilan pada 2009.
"Butuh enam bulan sampai satu tahun dalam membuat standar dan standar ini akan ditinjau setiap dua tahun sekali mengikuti perkembangan teknologi," ujarnya.
Yang jelas, semua stake holder bidang bisnis TI nasional menyadari bahwa masih terjadi kelangkaan pasok tenaga ahli bidang TI.
Itulah sebabnya para pelaku bisnis mencoba mengader bibit-bibit tenaga ahli dari kampus. (redaksi@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Selasa, 06/01/2009 08:19 WIB
Protes Ikhsan untuk yang dipaksa bangun kepagian
Oleh : Mia Chitra Dinisari
Selasa, 06/01/2009 08:16 WIB
Mengejar setoran pajak di tahun krisis
Oleh : Achmad Aris
Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB
UKM hadapi dampak lanjutan krisis global
Oleh : Mulia Ginting Munthe
Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB
Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok
Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB
Sektor pertanian butuh proteksi
Oleh : Martin Sihombing
Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB
Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?
Oleh : Yusuf Waluyo Jati