Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Jumat, 05/09/2008 10:35 WIB
Industri sawit dikawal isu lingkungan
oleh : Martin Sihombing
Beberapa waktu lalu, seorang teman mendatangi saya. Dia mengatakan bisnis perumahan untuk skala rumah sederhana akan ditinggalkan. "Kurang 'seksi'. Kini saya mau masuk ke perkebunan kelapa sawit," ujarnya. Bahkan dia sudah mengakuisisi sejumlah kebun di kawasan Lampung dan Jambi. Benarkah?
Saat ini, kendati harga mulai memperlihatkan tren turun, tidak berlebihan memang jika orang tetap melihat kelapa sawit (Elaeis) adalah emas hijau atau green gold.
Kendati harga minyak mentah sawit, dalam dua tahun terakhir ini tengah menukik ke titik terendah, kilauan 'emas' itu tetap saja menyilaukan mata pemburu uang.
"Minyak sawit merupakan bisnis besar," tulis Ellie Brown dan Michael F. Jacobson dalam satu 'majalah' Cruel Oil milik Center for Science in the Public Interest (CSPI).
Tulisan itu mengacu pada informasi yang dipasok data dari Indonesia oleh Eric Wakker, dari AIDEnvironment, Amsterdam.
Tak ayal, pertumbuhan areal kebun sawit, terus berlangsung. Hingga kini. Dalam tempo lima tahun, misalnya, pertumbuhan itu terlihat.
Kalau pada 2002 luasannya baru 5,06 juta hektare (ha), setahun kemudian naik menjadi 5,28 juta ha. Pada 2004, menjadi 5,40 juta ha, 2005 menjadi 5,50 juta ha dan 2006 sudah 6,33 juta ha. Dalam kurun waktu itu ada pertambahan sekitar 1,27 juta hektare.
Jika ditinjau untuk setiap komoditas, diperoleh gambaran pertumbuhan produksi untuk minyak kelapa sawit pada periode 2003-2007 mengalami kenaikan menjadi sekitar 25,34 juta ton (26,5 %) dari total produksi jenis minyak nabati.
Bahkan, data Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengungkapkan, hingga 2005, total areal kebun kelapa sawit Indonesia adalah 5,5 juta ha, yang dimiliki oleh perkebunan negara (PTPN) sekitar 676.000 ha atau sekitar 12%, swasta berkisar 2,9 juta ha atau 53%, dan perkebunan rakyat sekitar 1,9 juta ha atau berkisar 35%.
Di samping itu sesuai dengan arahan kebijakan pemerintah sekitar 20-30% kebun swasta memiliki kebun plasma atau kredit koperasi primer anggota (KKPA).
|
Kinerja minyak nabati dunia (juta ton)
|
||||
|---|---|---|---|---|
|
Produksi
|
||||
| Uraian | 1993-1997 | 1998-2002 | 2003-2007 | 2008-2012 |
| Sawit | 15,50 | 20,75 | 25,34 | 29,94 |
| Kedelai | 17,76 | 19,91 | 22,37 | 25,17 |
| Kanola | 10,12 | 11,96 | 12,52 | 15,51 |
| Bunga matahari | 8,35 | 9,79 | 12,52 | 12,04 |
| Lainnya | 19,03 | 21,25 | 22,85 | 25,82 |
| Konsumsi | ||||
| Sawit | 15,38 | 20,02 | 25,97 | 29,75 |
| Kedelai | 17,82 | 20,12 | 22,31 | 25,12 |
| Kanola | 10,04 | 11,78 | 13,57 | 15,47 |
| Bunga matahari | 8,32 | 9,59 | 10,86 | 12,03 |
| Lainnya | 38,91 | 42,75 | 45,33 | 49,85 |
Untung besar
Perkebunan kelapa sawit swasta yang cukup luas itu, misalnya, dimiliki oleh PT Astra Agro Lestari, Sinar Mas group, PT London Sumatra, PT Minamas Gemilang, PT Asian Agri, PT Duta Palma, PT Bakrie Sumatera Plantation, PT Salim Ivomas Pratama, PT Surya Dumai, selain memiliki kebun inti perkebunan tersebut juga memiliki kebun plasma atau KKPA yang cukup besar.
Memang, tanaman itu menjanjikan keuntungan yang tergolong baik. Hingga April, misalnya, kontrak perdagangan CPO untuk pengiriman April, membukukan rekor harga komoditas tersebut yakni RM4.321 atau US$1.363,7 per ton. Harga rata-rata hingga 2007 sebesar RM2.500 per ton. Bahkan, pada saat itu juga (3 Maret 2008) harga di Pelabuhan Rotterdam mencapai US$1.407, naik dua kali lipat dari harga 2007 sebesar US$700 per ton.
Gambaran itu, kendati sekilas, menggambarkan wajah perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang terus memperlihatkan tren meningkat. Sekaligus membuktikan Elaeis is green gold.
Dan fakta membuktikan. Pada 2007, dari beberapa perusahaan perkebunan besar yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), menuai keuntungan besar.
Sebutlah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).
Secara kumulatif, perusahaan itu meraup laba Rp4,045 triliun pada 2007, meningkat 96,65% dibandingkan dengan 2006 yang Rp2,06 triliun.
Penjualan kumulatifnya melonjak 59,46% menjadi Rp20,57 triliun dari sebelumnya Rp12,90 triliun. Hal ini karena harga CPO selama 2007 naik 59% menjadi US$900 per ton, bahkan sempat US$1.000 per ton.
Kenaikan harga
Astra Agro Lestari Tbk, misalnya, pada 2007 meraup laba bersih Rp1,9 triliun, naik 150,7% dibandingkan dengan 2006.
Penjualannya, mencapai Rp5,96 triliun atau naik 58,6% dari 2006 kendati pada 2007, volume penjualan CPO mereka turun 6,2% dari tahun sebelumnya atau menjadi 857.824 ton.
Pada semester I/2008 diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp4,41 triliun dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu Rp2,39 triliun. Peningkatan kinerja ini didorong oleh kenaikan harga dan volume penjualan CPO.
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk selama enam bulan (Januari-Juni 2008) mengantongi laba bersih Rp326,45 miliar.
Keuntungan ini lebih tinggi 335% daripada periode yang sama 2007 sejumlah Rp75,02 miliar. Pada semester I/2008 penjualan Rp1,58 triliun, padahal pada semester I/2007 torehan penjualannya hanya Rp638,03 miliar. Kini, Bakrie Sumatera menargetkan produksi crude palm oil meningkat 85,8% menjadi 340.000 ton dari 183.039 ton pada 2007.
Keuntungan bukan hanya diraup oleh pemain lokal. Wilmar International Limited asal Singapura pun mencatat hasil yang mengesankan. Di surat kabar ini, beberapa waktu lalu, juga diberitakan. Pendapatan semester I/2008 perusahaan yang menguasai 153.248 hektare (ha) areal kelapa sawit berproduksi di Indonesia ini, naik lebih dari 3,5 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada 2007.
Dalam laporan keuangan, Wilmar mencatat laba bersih US$$675 juta. Perkebunan dan pabrik kelapa sawit menyumbang US$164,8 juta atau 17,8% dari total laba usaha perseroan selama semester pertama tahun ini, naik signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, US$36,1 juta.
Kondisi itu, meng-encorage nafsu para pemilik modal yang gemar memburu untung. Mentan mengatakan peningkatan produksi CPO itu juga didorong oleh perluasan lahan sawit yang terjadi sejak 2007.
“Dari mulai 2007 ada tambahan lahan sawit sekitar 1,9 juta hektare. Setiap tahunnya ada tambahan sekitar 500 ribu hektare,” ujar Anton.
Terutama asing, yang melihat potensi menghasilkan minyak mentah sawit di Indonesia sangat besar, terus berdatangan. Paling tidak, data terakhir, 44 perusahaan asing telah mengakuisisi perusahaan perkebunan dalam negeri yang mengelola areal perkebunan sawit 442.016 ha di Tanah Air.
Ke-44 perusahaan asing itu tertera dalam daftar rekomendasi Menteri Pertanian yang dikeluarkan Pusat Perizinan dan Investasi (PPI) dalam rangka pengalihan kepemilikan saham perusahaan perkebunan dari Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN) kepada Perusahaan Modal Asing (PMA) sejak 2006 hingga 2007.
Dari 44 perusahaan asing itu, 16 di antaranya adalah perusahaan perkebunan asal Malaysia, yang menguasai areal perkebunan seluas 137.942 ha dengan nilai investasi sebesar Rp3,44 triliun.
Bahkan, mengacu data PPI, dari 50 permohonan yang diproses dari 2006 hingga sekarang ini, hanya tinggal lima perusahaan atau hanya 10% yang belum memenuhi syarat administrasi, selebihnya 90% selesai dikerjakan semua.
Kelima perusahaan yang masih diproses itu masing-masing PT Tunas Sejati Abadi (16.000 ha), PT Farinda Bersaudara (20.000 ha), PT Teguh Swakarsa Sejahtera (10.282 ha), PT Proteksindo Utama Mulia (27.000 ha), dan PT Tata Hamparan Eka Persada (10.000 ha). Kelima perusahaan itu hanya mengelola areal perkebunan seluas 83.000 ha yang nilai investasinya tidak lebih dari Rp20 triliun.
Penguasaan investor asing terhadap lahan sawit di Indonesia akhir-akhir ini semakin meluas, terutama banyak investor Malaysia. Bahkan ada yang melakukan pembelian kebun sawit di bawah tangan dan tidak dilaporkan kepada instansi terkait.
Sekitar 10 tahun lalu, jual beli sawit masih dilakukan antara pemegang saham satu perusahaan dan investor baru lewat transaksi terbuka dan dilaporkan kepada pemerintah. Contohnya transaksi PT Mina Mas (Gutrie Malaysia), dan pembelian atau akuisisi PT PP London Sumatra.
Akan tetapi, akhir-akhir ini, ada tren masyarakat yang mengusahakan areal perkebunan 15.000 ha, 10.000 ha, 6.000 ha, 300 ha, dan malahan di bawahnya juga menjual arealnya kepada investor terutama dari Malaysia, tanpa balik nama.
Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsjad, belum lama ini, mengakui praktik jual beli kebun sawit seperti itu akhir-akhir ini memang marak.
“Sulit mendeteksi, apakah satu perkebunan sudah menjadi milik asing atau belum. Di depan masih orang kita, tetapi pemilik sesungguhnya sudah investor asing,” ujarnya.
|
Perusahaan eksportir kelapa sawit
|
||
|---|---|---|
| Perusahaan | Produksi | Lokasi |
| Agro Jaya Perdana | CPO | Sumut |
| Bintang Tenera | RBD palm oil | Sumut |
| Ivomas Tunggal Perkasa | CPO | Sumut |
| KPB Perkebunan Nusantara | CPO, crude palm Stearin, palm kernel | Sumut |
| Pamina Adolina | RBD palm oil | Sumut |
| Inti Benua Perkasatana | palm oil | Riau |
| Kresna Paksi Indah | Palm oil | Riau |
| Alam Tirta Sari | CPO, palm kernel | Lampung |
| PTPN VII | Palm oil | Lampung |
| Cahaya Kalbar Tbk | Palm oil | DKI Jakarta |
| Indonesian Marine | Palm oil mill | DKI Jakarta |
| Jayakarta Nusatama | Palm oil | DKI Jakarta |
| Pacific Inter-Link Sdn BhdGrup | Palm oil | DKI Jakarta |
| Sari Agrotama Persada | Palm oil derivatives | DKI Jakarta |
| Asianagro Agungjaya | RBD palm oil, RBD Palm olein | Jabar |
| Smart Tbk | Palm oil | Jatim |
| UP Nadu | Palm oil | Sulawesi Utara |
Milik investor
Dia mencontohkan kebun kelapa sawit Graha Dura Leidong Prima dan Sawita Leidong Jaya seluas 15.000 ha di Labuhan Batu, disebut-sebut milik investor Malaysia. Akan tetapi, katanya, yang muncul ke permukaan adalah warga negara Indonesia. “Kebun ini akan diakuisisi PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP),” tuturnya.
Kondisi semarak itu, merupakan kondisi yang menggembirakan. Namun, di sisi lain, berpotensi mencederai industri minyak kelapa sawit Indonesia. Biaya yang telah dikeluarkan untuk menegaskan industri sawit sudah menerapkan sikap ramah lingkungan menjadi sia-sia.
Ketakutan itu sangat wajar. Pasalnya, investasi itu akan menggenjot permintaan lahan. Jika lahan yang layak untuk kelapa sawit semakin menipis, bukan tidak mungkin, merambah kawasan hutan, baik hutan konservasi maupun alam. Apalagi banyak pembelian secara sembunyi-sembunyi oleh investor baru.
Pasalnya, tanda-tanda itu mulai terlihat di kawasan Papua yang memancing Mentan Anton Apriyantono mendesak Pemprov Papua dan daerah lainnya membatasi pengelolaan areal sawit. Ada indikasi akan diberikan penguasaan lahan, terutama di hutan, kepada para pengusaha masing-masing seluas 20.000 ha.
“Pemprov Papua harus belajar dari pengalaman di Sumatra dan Kalimantan,” ujar Anton seusai pembukaan World Palm Oil Summit and Exhibition (WPOSE).
Pembatasan pengelolaan itu, agar para pengusaha sawit memerhatikan kelestarian lingkungan. Bahkan, katanya, sekalipun kawasan hutan itu gundul akibat kejahatan illegal logging, tidak bisa ditanami. Mentan tidak ingin mengubah status areal hutan produksi atau konservasi, meskipun kawasan itu kritis dan dapat ditanami.
Dan, saat ini, isu lingkungan yang terkait dengan pengelolaan perkebunan sawit, semakin gencar dilakukan lembaga swadaya masyarakat. Greenpeace, dalam seminar di Jakarta pekan lalu, misalnya, kembali meneriakkan soal isu lingkungan, di mana produk kelapa sawit harus diproduksi dari sumber yang berkelanjutan.
Industri kelapa sawit tidak boleh menangguk laba dari lemahnya tata kelola. Namun, tampil sebagai solusi bagi pembenahan tata kelola yang dibutuhkan. Industri kelapa sawit Indonesia, siapa pun itu.
Industri ini, yang terus dikawal isu lingkungan, sebaiknya merespons kemungkinan terjadinya penolakan pasar, khususnya dari Uni Eropa akibat isu lingkungan. Caranya, seperti dalam seruan Greenpeace, meletakkan landasan bagi terwujudnya kelapa sawit dari sumber yang berkelanjutan sesuai dengan permintaan pasar. (martin.sihombing@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Selasa, 06/01/2009 08:19 WIB
Protes Ikhsan untuk yang dipaksa bangun kepagian
Oleh : Mia Chitra Dinisari
Selasa, 06/01/2009 08:16 WIB
Mengejar setoran pajak di tahun krisis
Oleh : Achmad Aris
Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB
UKM hadapi dampak lanjutan krisis global
Oleh : Mulia Ginting Munthe
Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB
Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok
Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB
Sektor pertanian butuh proteksi
Oleh : Martin Sihombing
Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB
Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?
Oleh : Yusuf Waluyo Jati
Komentar
#1 - Industri sawit dikawal isu lingkungan
Dalam hukum bisnis komoditi sawit adalah yang paling menguntungkan bukan pada hasilnya saja tapi pada proses pengajuan HGU pada lahan sawit dan pengajuan kredit perbankan .bisa dilihat dari prosedurnya yang sangat sangat menguntunkan bagi pengusaha belum menanam saja keuntunganya sudah berlipat lipat bisa di buktikan pada sisi prosedural ini tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat untuk pemerintah ini masukan dan harus di kaji ulang pada sisi prosedur tersebut!!!!!!!!!!!
Galuh kartiko - Malang?indonesia @ 04/09/2008 - 15:00 WIB dari 125.164.123.16 (16.subnet125-164-123.speedy.telkom.net.id)