Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Jumat, 05/09/2008 11:11 WIB

Bisnis layanan broadband belum tergarap optimal

oleh : Muhammad Sufyan

Harus diakui, Internet di Tanah Air kini sudah jadi 'makanan' sehari-hari. Setidaknya bagi masyarakat perkotaan yang sudah sulit lepas dari dunia maya itu. Ada yang hilang jika lupa mengecek e-mail saat bekerja, misalnya.

Di sisi lain, akses Internet itu kini tak lagi terpaku komputer personal. Sudah banyak beragam perangkat gadget-mulai dari ponsel, smartphone, PDA, notebook, hingga netbook-yang memungkinkan akses Internet secara mobile.

Karenanya, proses perpaduan atau lazim disebut konvergensi Internet dan ponsel kian sulit dibendung. Ini memang sejalan tren masyarakat Indonesia ataupun global yang karakternya makin individualis.

Masyarakat saat ini menuntut perangkat teknologi yang selain bersifat personal, juga dinamis. Pada titik ini, peralatan konvergensi merupakan jawaban tepat karena kemampuannya yang bisa mengakomodasi banyak hal.

Secara akses, kebutuhan konvergensi ini dihadirkan via jaringan pita lebar (broadband) yang bentuk layanannya disajikan lewat layanan 3G, DSL (digital subsriber line), hingga WiMax (worldwide interoperability for microwave acces).

Di seluruh dunia, pelanggan broadband pada akhir kuartal pertama 2007 lalu telah mencapai 280 juta. Angka ini diestimasi terus menggelembung menjadi 325 juta pada 2008, 380 juta pada 2009, dan menembus angka 400 juta pada 2010.

Angka itu dibarengi total penghasilan US$122 miliar, berdasarkan riset Instat, Juni 2006. Simak kisah sukses vendor ponsel O2 yang langsung menambah 250.000 pelanggan baru, hanya enam bulan setelah membuka layanan aplikasi broadband yakni i-mode (singkatan dari Information Mode).

Information mode ini memungkinkan pelanggan melakukan instant messaging dan RSS Feed di ponselnya. Orange, operator telekomunikasi Inggris, langsung jadi operator ketiga terbesar di negara itu beberapa saat setelah gelar Orange Business Everywhere.

Ini adalah program yang memberi layanan pelanggan komprehensif berupa jaringan broadband tetap, guna melengkapi lini jaringan sebelumnya yakni 3G, GPRS, Edge, dan WiFi. Kisah serupa dicatat Time Warner Cable, AT&T, dan Cox.

Tiga perusahaan telekomunikasi terkemuka di Amerika Serikat tersebut awalnya berjuang keras melawan program jaringan pita lebar dalam kota (municipal broadband) yang dicanangkan pemerintahan di negeri Paman Sam.

Kini, ketiganya malah ramai-ramai ingin terlibat dalam program tersebut. Pasalnya, layanan ini mampu memberikan cakupan layanan radius 26.000 mil persegi dengan total potensi penghasilan diproyeksikan mencapai lebih dari US$1,2 miliar.

Pasar potensial

Lantas, bagaimanakah kabar layanan broadband di Indonesia? Harus diakui masih belum optimal, karena layanan yang diberikan relatif terbatas alias itu-itu juga, sekalipun potensi yang ada luar biasa besar.

Dengan wilayah geografis negara yang sangat luas, Indonesia seharusnya memiliki aplikasi broadband yang sama meluasnya. Faktanya, pemanfaatan akses pita lebar via perangkat terpopuler (baca: 3G) maksimal digunakan untuk video call saja.

Padahal, mengacu pengalaman operator global, konten konvergensi yang bisa ditawarkan sungguh sangat banyak.

Menurut studi Sharing Vision layanan 3G prospektif dikembangkan di Indonesia. Hal itu karena jumlah pelanggan seluler di Tanah Air telah mendekati 140 juta.

Potensi lain yang layak digali adalah layanan dengan menggunakan akses pita lebar lain.

Menurut Sharing Vision, ada banyak variasi bisnis layanan konten yang potensial dikembangkan operator seluler ataupun penyelenggara jasa Internet di negeri ini.

Yang jelas, lembaga riset telematika nasional itu memperkirakan bahwa total pelanggan broadband di Indonesia pada 2008 ini sendiri akan mencapai 4 juta nomor, yang diproyeksikan meningkat menjadi 6 juta nomor pada 2009 dan 8,5 juta nomor pada 2010.

Dengan asumsi pangsa pasar pelanggan Indonesia mencapai 2% dari pasar dunia, maka penghasilan bisnis layanan konvergensi itu bisa mencapai Rp10,25 triliun pada 2010 mendatang. Angka yang tidak kecil!

Nominal itu, tentunya, hanya bisa dicapai jika pelaku usaha terus bergerak memenuhi kebutuhan pelanggan. Sulit rasanya angka itu tercapai jika paradigmanya masih terus mengandalkan bisnis dari layanan dasar seperti suara, SMS, dan data saja. (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB

    UKM hadapi dampak lanjutan krisis global

    Oleh : Mulia Ginting Munthe

    Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB

    Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok

    Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

    Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB

    Sektor pertanian butuh proteksi

    Oleh : Martin Sihombing

    Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB

    Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?

    Oleh : Yusuf Waluyo Jati

Komentar

Beri Komentar