Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Selasa, 07/10/2008 10:51 WIB
Industri manufaktur (jangan) menanti Sang Penyelamat
oleh : Yusuf Waluyo Jati
Belakangan ini kita sering memperoleh kabar tentang nasib tragis yang dialami sektor manufaktur nasional dari para pengamat ekonomi dan pelaku bisnis di Tanah Air. Mereka gencar mengkritik dan mengeluhkan terpuruknya kondisi industri manufaktur. Setelah kenaikan harga BBM pada Mei 2008, kinerja industri manufaktur kembali memasuki fase yang kritis.
Departemen Perindustrian mencatat kinerja sektor industri sampai dengan semester I/2008 hanya tumbuh 4,49% dan kuartal II turun tipis ke 4,43%. Pada semester I/2007, sektor ini masih mampu tumbuh 5,5%, kendati sepanjang tahun lalu industri hanya mampu tumbuh 5,15%.
Pada tahun ini, kemerosotan itu diperkirakan terus berlanjut pada kuartal III dengan kisaran pertumbuhan di level 3,85%-4,0%. Hampir sekitar 60% output sektor industri ternyata masih didominasi sektor padat tenaga kerja, di mana mata rantainya relatif pendek, sehingga penciptaan nilai tambah relatif kecil. Karena besarnya populasi unit usaha industri padat karya ini, keberadaannya bagi perekonomian menjadi sangat penting.
Apabila prediksi kinerja industri pada kuartal III itu benar, pertumbuhan industri sebesar 5,0% pada tahun ini yang diincar Deperin akan sulit tercapai kecuali pada kuartal IV industri mampu tumbuh fantastis minimal 7,1%.
Namun, tampaknya hal tersebut akan susah diraih mengingat sendi-sendi industri manufaktur belum sepenuhnya pulih setelah terpukul oleh kenaikan harga BBM pada Oktober 2005.
Pada periode tiga bulan terakhir 2008 ini (Oktober-Desember), tren pertumbuhan industri kemungkinan justru akan kembali melemah. Lonjakan harga minyak dan gas alam akan kembali berpengaruh pada kenaikan biaya produksi. Saat ini harga minyak mulai merangkak lagi ke level US$109 per barel, yang sebelumnya sempat menyusut ke kisaran US$97 per barel.
Lebih cepat
Sialnya lagi, pada tahun ini sentimen negatif tak diduga justru datang lebih cepat sehingga berdampak pada merosotnya pertumbuhan pada kuartal II. Lonjakan harga minyak mentah yang menyentuh US$120 per barel pada Mei menyeret kenaikan harga BBM di dalam negeri sebesar 28,7%. Tak lama berselang, terjadi krisis daya listrik yang menghantam beberapa sektor strategis seperti pertekstilan dan petrokimia.
| Realisasi dan prediksi pertumbuhan industri kuartal III/2008 (%) | ||
| Kuartal II | Kuartal III* | |
| Makanan, minuman, dan tembakau | 3,43 | 3 |
| Tekstil, barang kulit dan alas kaki | 0,43 | -1 |
| Barang kayu dan hasil hutan | 1,15 | 1,35 |
| Kertas dan barang cetakan | 0,74 | 1,5 |
| Pupuk, kimia dan barang dari karet | 3,85 | 3 |
| Semen & bahan galian nonlogam | 0,06 | -1,5 |
| Logam dasar, besi dan baja | 3,2 | 3,62 |
| Alat angkut mesin dan peralatan | 14,53 | 15,02 |
| Barang lainnya | 1,59 | 1,32 |
*) Prediksi
Kenaikan harga BBM itu sontak melemahkan daya beli konsumen domestik dan secara otomatis memangkas utilisasi produksi.
Di industri tepung terigu, konsumsi bulanan rerata anjlok 18%-20% dari total 300.000 ton. Industri kecil menengah (IKM) berbasis terigu berguguran akibat kenaikan harga BBM.
"Banyak sekali IKM berbasis terigu yang collapse. Keadaan ini yang sebenarnya tidak disadari pemerintah, atau seolah-olah mereka menutup mata terhadap kondisi ini. Pelemahan daya beli ini telah mengakibatkan industri terigu nasional memangkas produksi," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies.
Kenaikan harga pangan dan pelemahan daya beli menyeret inflasi pada Agustus (year-on-year) mencapai titik tertinggi yakni 11,85%. Permintaan produk-produk manufaktur Indonesia di pasar global pun merosot akibat ketidakpastian perekonomian dunia.
Daya beli konsumen yang sedikit membaik seiring dengan pembagian bonus THR, dinilai tidak akan signifikan mendongkrak pertumbuhan industri di pengujung 2008 karena industri harus berhadapan dengan tingginya inflasi. Dalam konteks ini pemerintah dinilai gagal mempertahankan kesinambungan daya beli rakyat.
"Jika saja kekuatan daya beli rakyat terjaga dari awal tahun, sektor industri kita masih punya ruang untuk tumbuh dalam skala moderat," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Soesatyo.
Selain itu, respons otoritas moneter dalam negeri dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) secara bertahap akan menyulitkan sektor riil mendapatkan akses kredit modal kerja.
Situasi itu praktis menyebabkan industri kesulitan untuk tumbuh hingga akhir tahun yang tecermin dari total kredit tak tersalurkan pada Juli yang menembus Rp208 triliun. "Volume kredit valas untuk belanja barang modal dan bahan baku pun menurun," kata Bambang.
Kendati gejolak situasi eksternal semakin kencang, pertumbuhan sektor manufaktur pada tahun ini dipastikan tidak akan terempas ke jurang paling dalam karena upaya pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi dinilai cukup berhasil.
Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi cukup realistis sebesar 6,5%, sementara nilai tukar rupiah relatif stabil karena Bank Indonesia 'begadang' untuk mengamankannya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M.S. Hidayat mengatakan apabila tidak ditopang oleh fundamental makroekonomi yang kuat, sektor manufaktur nasional pada tahun ini niscaya akan kembali terjerembap ke periode krisis 1998 dengan pertumbuhan -13,10%.
Bukan regulasi
Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan pemerintah secara berkelanjutan terus berupaya memperbaiki sistem birokrasi agar lebih efisien. Pada saat yang sama, pemerintah gencar memberikan insentif bagi sektor industri tertentu dalam mendukung terciptanya iklim investasi yang lebih kondusif.
"Penurunan pertumbuhan industri selalu terkait secara mendalam dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Bukan dalam konteks regulasi yang tidak sesuai. Deperin selalu berupaya agar pasokan di tiga komponen penting seperti bahan baku, minyak, dan gas, tetap terjaga," katanya.
Namun, dengan melihat berbagai fakta dan peristiwa yang selalu bertolak belakang dengan harapan, banyak pelaku usaha kita yang pada akhirnya bersikap pesimistis terhadap masa depan industri manufaktur.
Salah seorang pelaku usaha bahkan mengatakan kinerja industri akan terus terpuruk dalam waktu yang sangat lama. Sektor ini hanya akan bangkit jika Tuhan turun ke bumi untuk menyelamatkan perekonomian.
Bagi bangsa yang lemah, cerita tentang industri manufaktur yang terseok-seok di satu sisi bisa menimbulkan tragedi mendalam dan rentan memicu rasa putus asa yang menghilangkan rasionalitas.
Kenyataannya, Sang Penyelamat yang dinanti-nanti itu toh tidak akan pernah datang. Dia hanya menjadi bayang-bayang suram bagi orang-orang yang telah kehilangan akal sehat. Lebih baik seluruh komponen bangsa bahu-membahu dan bekerja keras memperbaiki kerapuhan struktur industri demi masa depan anak cucu kita.
Beberapa langkah yang bisa ditempuh adalah memperbaiki infrastruktur, menjamin pasokan energi, pemangkasan birokrasi, pungutan liar, pemberdayaan sektor IKM, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, hingga implementasi teknologi yang optimal. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Selasa, 06/01/2009 08:19 WIB
Protes Ikhsan untuk yang dipaksa bangun kepagian
Oleh : Mia Chitra Dinisari
Selasa, 06/01/2009 08:16 WIB
Mengejar setoran pajak di tahun krisis
Oleh : Achmad Aris
Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB
UKM hadapi dampak lanjutan krisis global
Oleh : Mulia Ginting Munthe
Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB
Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok
Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB
Sektor pertanian butuh proteksi
Oleh : Martin Sihombing
Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB
Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?
Oleh : Yusuf Waluyo Jati
Komentar
#1 - Salah siapa
Kenapa industri manufaktur kita tidak maju-maju. Bajaj saja impor dari India, mobil impor dari Jepang, Korea, even China. Yang goblok ini pelaku industri, pemerintah, atau dua-duanya.
Ndul - Jakarta @ 08/10/2008 - 09:33 WIB dari 124.195.43.52 (124.195.43.52)