Bisnis Indonesia Online » Artikel
Artikel - Detail
Sabtu, 11/10/2008 10:49 WIB
Film nasional tengah menikmati bulan madu
oleh : S. Hadysusanto
Meski belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri, peta pasar industri perfilman nasional bervariasi. Tidak seperti di era 1970-1980-an dimana tema tertentu dijadikan tambang emas oleh produser karena tuntutan selera masyarakat.
Ketika pasar menyambut hangat film bertemakan komedi, berbondong-bondong produser memproduksinya. Begitu juga manakala drama, horor dan esek-esek merajai bioskop, para sineas pun kebanjiran order dari perusahaan film untuk menggarap tema-tema tersebut.
Namun, pada era melenium ini, atau tepatnya setelah lima tahun perfilman nasional bangkit dari keterpurukan sejak 1985, peta pasar berubah total.
Masyarakat tidak lagi dipaksa oleh produser menonton film dengan tema yang sama di gedung bioskop.
Sejak 2003 hampir seluruh film, baik bertemakan horor, drama maupun komedi, banyak ditonton orang. Kesadaran produser dan perubahan selera masyarakat menjadikan perfilman nasional saat ini tumbuh seperti di negara-negara maju.
Hampir seluruh tema yang ditawarkan kepada pasar, disambut hangat oleh masyarakat. Sebagai contoh, hanya selisih hitungan minggu jadwal edar di bioskop pada 2007, film horor bertajuk Torowongan Casablanca dan film drama Get Married sama-sama mendapat tempat di hati penonton.
Menurut Chan Parwez Servia, produser Get Married, jumlah penonton mencapai 1,2 juta orang. Sementara pemilik film Terowongan Casablanca, Shankar R.S. menyebutkan filmnya disaksikan tak kurang 1,4 juta manusia.
Dua perusahaan film dengan pasar yang berbeda, yakni drama dan horor, mengaku produksi mereka umumnya sukses.
"Tiga tahun berturut-turut film saya masuk box office, di antaranya Virgin [2005] jumlah penonton 1,2 juta orang, lalu Heart [2006] sekitar 1,3 juta orang dan tiket Get Married [2007] terjual 1,4 juta lembar," kata Parwez kepada Bisnis.
Begitu juga menurut Shankar. Produksinya berupa film horor mulai dari Hantu Jeruk Purut, Terowongan Casablanca sampai Aborsi ditonton oleh lebih dari satu juta orang.
"Sekarang ini masyarakat dimanja, bisa memilih tema film yang tengah beredar di gedung bioskop. Kami cenderung pada pasar horor, meski sekali dua juga memproduksi drama seperti film Detik Terakhir yang juga sukses di 2005," kata Shankar.
Memang tidak seluruh produksi film lokal saat ini mampu menjadi box office, tidak seperti pada era 1970-1980-an, di mana 50% hingga 70% dari 200 judul film per tahun berhasil mengumpulkan banyak penonton.
Sekalipun kini hanya hitungan lima sampai sepuluh judul saja yang sukses di pasaran, tetapi setidaknya minat orang untuk menonton tidak membuat produser merugi. Satu judul film di luar box office rata-rata ditonton antara 500.000 dan 800.000 orang.
Sepanjang lima tahun belakangan ini, tercatat baru empat film nasional yang berhasil menyerap jumlah penonton hampir mendekati pemutaran film asing kategori box office di negeri ini, yakni Eiffel I'm In Love disaksikan tak kurang empat juta orang, Ayat-Ayat Cinta ditonton 3,5 juta orang, Ada Apa Dengan Cinta disaksikan 3,5 juta penonton, dan Naga Bonar Jadi 2 oleh sekitar 2,5 juta orang.
Sementara itu, film bertema anak-anak belum terlalu sukses, dengan jumlah penonton masih di bawah satu juta orang, seperti Petualangan Sherina, Denias, Senandung Di atas Awan, dan Liburan Seru.
Namun, Laskar Pelangi berpeluang besar untuk mencapai box office film anak-anak sebab, menurut Mira Lesmana selaku produsernya, jumlah penonton pada minggu pertama pemutaran di bioskop sudah mencapai 1,1 juta orang.
Keuntungan besar
Tentang bisnis peredaran film, budayawan sekaligus pejabat humas kelompok 21 Cineplex Noorca M. Massardi menjelaskan pemilik bioskop dan produser berbagi hasil, yakni masing-masing 50% setelah dipotong pajak tontonan.
Tak ada produser film yang mau berterus terang berapa perolehan mereka dengan jumlah penonton yang begitu besar.
Noorca M. Massardi memberikan ancar-ancar, begini, jika tarif di kelompok 21 Cineplex berkisar Rp10.000 hingga Rp50.000 per tiket, kemudian kalikan dengan rata-rata jumlah penonton, lalu dibagi dua setelah dipotong pajak tontonan antara 5% dan 25%.
Dari perhitungan itu, dengan jumlah penonton satu juta orang dan harga tiket Rp30.000 maka produser dan pemilik bioskop masing-masing mendapat sekitar Rp13,5 miliar.
Keuntungan itu cukup menggiurkan mengingat biaya produksi bervariasi antara Rp3 miliar dan Rp5 miliar per judul, kecuali Laskar Pelangi yang menghabiskan Rp8 miliar.
Pengumpulan jumlah penonton tidak lepas dari peran bioskop. Sayangnya jumlah penonton saat ini belum sebanding dengan era 1970-1980-an, yakni lebih dari 30 juta orang di seluruh negeri setiap bulan.
Menurut budayawan sekaligus pejabat humas kelompok 21 Cineplex Noorca M. Massardi, jumlah penonton saat ini diperkirakan belasan juta setiap bulan.(sinano@bisnis.co.id)
bisnis.com
Artikel »
Selasa, 06/01/2009 08:19 WIB
Protes Ikhsan untuk yang dipaksa bangun kepagian
Oleh : Mia Chitra Dinisari
Selasa, 06/01/2009 08:16 WIB
Mengejar setoran pajak di tahun krisis
Oleh : Achmad Aris
Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB
UKM hadapi dampak lanjutan krisis global
Oleh : Mulia Ginting Munthe
Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB
Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok
Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo
Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB
Sektor pertanian butuh proteksi
Oleh : Martin Sihombing
Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB
Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?
Oleh : Yusuf Waluyo Jati