Mengkaji 5 jurus antisipasi krisis

Jumat, 17/10/2008 10:02:28 WIBOleh: Muhammad Chatib Basri (Direktur LPEM-FEUI)
Mereka yang pesimistis mengatakan ekonomi dunia saat ini dalam situasi yang paling sulit. Penilaian ini tidak sepenuhnya salah.

Di Indonesia, orang mulai bertanya-tanya apakah krisis 1997-1998 akan terulang? Situasinya saya kira berbeda.

Diversifikasi risiko, misalnya, saat ini lebih baik. Sebelum krisis 1997-1998, kita terbiasa dengan nilai tukar mengambang terkendali. Tidak ada gunanya melakukan hedging, karena toh rupiah secara teratur hanya terdepresiasi 5% setahun.

Saat ini, nilai tukar bergerak bebas, pelaku ekonomi praktis mulai membiasakan diri untuk menempatkan asetnya dalam berbagai bentuk, termasuk mata uang asing dan berbagai instrumen lain.

Jadi, jika terjadi kejutan dalam nilai tukar, kepanikan tidak akan sebesar pada 1997, di mana aset hanya terkonsentrasi dalam nilai rupiah. Selain itu, ada perbedaan yang mendasar antara krisis ekonomi pada 1997-1998 dan situasi saat ini.

Krisis ekonomi pada 1997-1998 adalah home grown but not home alone, ia tumbuh dan berkembang karena persoalan domestik, walaupun kita tidak sendiri. Sementara itu, gejolak saat ini sepenuhnya disebabkan oleh faktor eksternal yang terjadi di AS.

Oleh karena itu, dalam situasi saat ini betapapun kuatnya fundamental suatu negara, ia tidak akan sepenuhnya immune terhadap krisis keuangan di AS. Akibat krisis keuangan itu, balance sheet perbankan di AS mengalami tekanan dan membutuhkan dana yang besar untuk rekapitalisasi.

Implikasinya adalah likuiditas menjadi sangat ketat. Ketatnya likuiditas di pasar keuangan internasional mendorong investor untuk menarik uang mereka dan melakukan flight to quality ke AS atau mencari investasi yang lebih aman dengan membeli US T Bills.

Di sisi lain, anjloknya harga aset di AS, akibat krisis keuangan ini, membuat harganya menjadi sangat murah. Hal ini dapat terjadi relokasi dana dari emerging market ke AS.

Pada awal Oktober 2008, saya terlibat dalam Asian Economic Panel di Brookings Institution di Washington DC, yang membahas situasi ekonomi global. Prospek ekonomi AS tampaknya begitu muram.

Tidak terelakkan

Ekonom terkenal Jeffrey Sachs yang memimpin sesi mengenai ekonomi global mengatakan resesi di AS tampaknya sudah tidak terelakkan lagi. Argumen Sachs diperkuat oleh presentasi ekonom Martin Baily, mantan Chairman of the Councik of Economic Advisers pada masa pemerintahan Presiden Clinton.

Dalam situasi yang paling buruk, credit crunch (penghentian kredit) akan cukup parah. Akibatnya, sektor riil akan terpukul, investasi menurun, dan pertumbuhan ekonomi AS akan mengalami kontraksi.

Situasi credit crunch juga mulai menyentuh Eropa. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan lebih jauh.

Bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan turunnya harga komoditas akan memperlambat pertumbuhan ekspor.

Di sisi lain, sampai dengan triwulan II/2008, ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mendorong impor meningkat tajam, karena kebutuhan barang modal dan bahan baku untuk produksi. Ekspor yang menurun dihadapkan dengan impor yang meningkat dapat membawa akibat pada menurunnya surplus dalam neraca transaksi berjalan .

Defisit transaksi berjalan (current account deficit) merupakan refleksi permintaan domestik yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kapasitas perekonomian, sehingga kekurangannya ditutupi oleh impor. Problem kita, seperti yang selalu saya ulang, bukan sisi permintaan yang lemah, tetapi daya dukung sisi penawaran.

Oleh karena itu, sikap Bank Indonesia yang menaikkan tingkat bunga pada bulan-bulan lalu sebenarnya memiliki justifikasinya, ia harus meredam sisi permintaan yang terlalu cepat. BI juga harus memberikan jangkar dan signal dalam jangka menengah agar upaya mengendalikan inflasi tetap dilakukan.

Defisit transaksi berjalan dapat menimbulkan kekhawatiran kepada investor. Alasannya, bila defisit transaksi berjalan melebar dan tidak dapat ditutup oleh arus modal masuk, neraca pembayaran akan defisit. Akibatnya, cadangan devisa akan menurun dan rupiah terdepresiasi.

Dampak dari defisit transaksi berjalan tidak terlalu dominan. Namun, dalam kondisi likuiditas di pasar keuangan internasional yang sangat ketat, karena adanya kebutuhan melakukan injeksi modal untuk memperbaiki balance sheet perbankan dan investor di AS, investor melepas sebagian sahamnya di emerging market.

Selain itu, investor juga melakukan flight to quality kepada investasi yang dianggap lebih aman, seperti US T Bills. Oleh karena itu, walau penyebab utama arus modal keluar bukan defisit transaksi berjalan, current account deficit yang besar dapat memperburuk situasi.

Jangan panik

Yang harus dijaga adalah jangan terjadi kepanikan. Dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dan turunnya harga komoditas, tekanan impor juga sebenarnya akan menurun, sehingga defisit dalam transaksi berjalan ke depan juga akan membaik. Namun, itu saja tidak cukup.

Apa yang harus dilakukan? Pertama, menjaga stabilitas sektor keuangan, khususnya perbankan. Oleh karena itu, upaya pemerintah dengan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) dan PP untuk menjamin stabilitas sektor keuangan merupakan langkah yang tepat. Peningkatan jaminan simpanan (deposit insurance) akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

Kepanikan di sektor perbankan dapat membuat sistem keuangan lumpuh, yang berakibat lumpuhnya perekonomian. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah ke depan cakupan dan besarnya jaminan harus diperluas.

Tidak ada salahnya jika dilakukan penjaminan penuh. Kita harus menghindari terjadinya arbitrase, di mana modal mengalir ke negara lain yang memberlakukan penjaminan penuh.

Kedua, adanya likuiditas di pasar. Langkah Bank Indonesia untuk mengurangi tekanan likuiditas sangat membantu stabilitas sektor perbankan.

Selain itu, berbagai langkah BI untuk menjamin likuiditas valas yang baru dikeluarkan beberapa hari lalu akan membantu kondisi perbankan. Semua langkah ini saya kira akan mengurangi probabilitas terjadinya krisis keuangan yang parah.

Ketiga, mengirim signal yang tepat, bahwa stabilitas makro ekonomi terjaga. Pemerintah dan BI harus menjaga agar current account berada dalam posisi surplus. Transaksi berjalan sebenarnya merupakan penjumlahan dari saving-investment gap dan fiscal gap.

Saat ini, kondisi tabungan swasta sedikit lebih besar dibandingkan dengan investasi, tetapi di sisi lain anggaran kita defisit. Untuk menjamin current account tetap surplus, kita harus menjaga agar defisit anggaran tidak terlalu besar.

Oleh karena itu, kesepakatan Panja di DPR untuk menurunkan defisit anggaran dari 1,7% dari PDB menjadi 1% dari PDB merupakan respons yang tepat.

Dengan defisit yang lebih kecil, surplus dalam transaksi berjalan akan bisa dijaga dengan baik. Selain itu, asumsi pertumbuhan ekonomi diturunkan sekitar 5,5%-6,1%.

Target pertumbuhan diturunkan dari 6,3% menjadi 6% dengan tetap melihat adanya kemungkinan penurunan menjadi 5,5%. Artinya, kita tidak memungkiri bahwa situasi global akan memengaruhi kita.

Signal makro yang realistis ini penting. Jika kita mengingat apa yang terjadi pada 1997-1998, krisis semakin parah ketika pada Januari 1998 pemerintah datang dengan asumsi APBN yang dianggap pasar tidak realistis. Pasar memang kemudian merespons asumsi APBN 2009 dengan cukup positif, yang tercermin dalam nilai tukar rupiah.

Keempat, kekeringan likuiditas di pasar global membawa implikasi adanya kompetisi untuk mendapatkan modal, terutama valas dolar. Dalam situasi di mana kebutuhan dolar AS begitu besar, pembiayaan anggaran yang bersumber dari eksternal menjadi semakin sulit.

Tepat sekali keputusan untuk memiliki defisit anggaran tidak terlalu besar. Jika memang dibutuhkan, kita perlu mencari sumber pembiayaan lain yang tidak berasal dari pasar (non-market), seperti dari Bank Dunia atau Bank Pembangunan Asia.

Kelima, dalam jangka menengah upaya yang harus dilakukan adalah tetap menjaga iklim investasi untuk menarik PMA harus terus dilakukan. Aturan yang inkonsisten perlu diperbaiki.

Selain itu, upaya memobilisasi sumber-sumber dana domestik, seperti asuransi dan dana pensiun, harus dilakukan. Dengan cara ini, financial deepening dapat terjadi.

Hal lain yang juga sebenarnya bisa dimanfaatkan adalah penerimaan remittances (pendapatan) dari tenaga kerja Indonesia dan penerimaan dari pariwisata. Penerimaan pendapatan dari TKI dan pariwisata sebenarnya relatif besar dan stabil, dan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jalan ke depan memang tidak mudah, dan masih tidak pasti. Perkembangan yang terjadi masih akan sangat tergantung pada perkembangan situasi di AS dan Eropa.

Pengaruh eksternal begitu dominan. Namun, bukan berarti tidak ada langkah yang bisa dilakukan. Saya percaya langkah-langkah tersebut merupakan antisipasi yang tepat di tengah situasi global yang sangat tidak pasti ini.

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika