Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Selasa, 18/11/2008 10:37 WIB

Kisah di balik perebutan Blok Semai V

oleh : Rudi Ariffianto & Diena Lestari

To be blast! Begitu bunyi judul surat elektronik (e-mail) yang masuk dalam satu mailing list sebuah forum wartawan desk energi di Jakarta. Penasaran oleh judul yang begitu eye catching itu, penulis membuka surat yang berasal dari pejabat yang mengetahui proses tender tersebut.

E-mail itu isinya 100% wujud luapan kekecewaan BUMN migas itu atas keputusan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang lebih memilih Hess menggarap Blok Semai V, yang disebut-sebut menjadi favorit peserta lelang.

Maklum, ladang migas yang terletak di perairan Papua Barat itu merupakan wilayah eksplorasi yang paling potensial berdasarkan data geologi, yaitu lebih dari delapan miliar kaki kubik gas, yang konon merupakan potensi sangat besar untuk ukuran temuan di Asia-Pasifik dewasa ini. Dari sini saja, potensi masalah memang sudah ada.

Pertamina merasa memiliki penawaran yang lebih baik daripada peserta lain. Dengan menggandeng Shell Exploration Company B.V. BUMN mengaku akan menggunakan teknologi eksplorasi 3D termaju dari yang pernah ada di Indonesia, biaya investasi langsung yang lebih besar dibandingkan dengan tawaran Hess, serta janji untuk memberikan keuntungan jangka panjang, yang katanya tidak ditawarkan pihak lain.

Meneg BUMN Sofyan Djalil juga ikut ambil bagian menjadikan isu itu menjadi meledak, sesuai dengan bunyi judul surat elektronik yang diterima Bisnis tadi. Bahkan Sofyan dikabarkan telah berkirim surat kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk mempertanyakan keputusan kuasa pertambangan Indonesia itu.

Purnomo dalam penjelasannya hanya mengungkapkan satu fakta yang menjadi pertimbangan pemerintah mengambil keputusan itu, yaitu proporsi saham antara Shell dan Pertamina dalam konsorsium itu.

Ternyata, Shell memiliki saham mayoritas 70% dalam konsorsium dan 30% sisanya milik Pertamina. Kalau begitu kenapa mesti Pertamina yang berteriak nyaring dan Shell hanya berdiam diri saja?

Tender yang diumumkan pemerintah pada 27 Desember 2007 itu merupakan tender reguler atau tender terbuka. Blok Semai V merupakan salah satu dari 21 wilayah kerja yang ditawarkan pemerintah kala itu.

Dalam tender terbuka itu ada enam perusahaan dan konsorsium perusahaan yang mengajukan dokumen partisipasi, termasuk Konsorsium PT. Pertamina (Persero)-Shell Exploration Company B.V. dan Hess (Indonesia-Semai V) Ltd.

Pemeringkatan pemenang oleh tim lelang mengacu pada Permen ESDM No.040/2006 tentang Tata Cara Penetapan dan Penawaran WK Migas yang menyebutkan urutan prioritas penilaian adalah teknis, keuangan, dan kinerja perusahaan.

Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam tiga besar adalah Hess (Indonesia -Semai V) Ltd, konsorsium Murphy Overseas Ventures Inc dan PTT EP-Inpex, dan konsorsium PT. Pertamina (Persero)-Shell.

Sumber Bisnis di pemerintahan menyebutkan tim lelang bersama Ditjen Migas membawa nama-nama perusahaan ke Departemen Keuangan.

Menurut dia, keberadaan Pertamina sebagai BUMN dan potensi penerimaan negara yang akan diterima menjadi topik pembahasan. Dari pembicaraan itu disepakati Hess sebagai pemenang Blok Semai V.

Sontak kabar ini membuat petinggi BUMN itu sesak. Apalagi, konon beberapa hari sebelum pengumuman pemenang pada 31 Oktober, Menteri ESDM beserta jajarannya di sektor migas berkali-kali mengatakan Pertamina unggul dan akan memenangi kontrak.

Purnomo bersama Meneg BUMN Sofyan Djalil dan Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno juga disebut-sebut sempat terlibat perbincangan hangat seputar rencana penetapan Pertamina itu.

Merasa mendapat angin, Pertamina semakin percaya diri, apalagi mitra terdekatnya Shell telah bersedia melepas status operator kepada BUMN itu, kendati dengan saham minoritas. "Jadi Pertamina dapat 30%, Shell 70%, tapi melalui satu kesepahaman Shell sepakat untuk menjadikan Pertamina sebagai operator," bisik satu sumber resmi di Pertamina.

Tidak pada tempatnya

Sumber itu juga menjelaskan tidak pada tempatnya jika pemerintah menggulirkan alasan itu, karena konsep berbagi risiko sudah lazim terjadi di industri migas. Ada apa kok Menteri ESDM menjadikan faktor porsi saham itu sebagai alasan utama pemilihan, selain soal besaran bonus lebih besar yang diungkapkan Dirjen Migas Evita Herawati Legowo?

Beberapa hari menjelang pengumuman itu, pemerintah sempat tergores luka lama, ketika Tentara Diraja Malaysia 'merongrong' kembali Blok Ambalat, yang berdasarkan versi Malaysia sudah diserahkan kepada Petronas dan Shell, perusahaan yang sebelumnya bekerja untuk Indonesia di blok itu, tapi tak menghasilkan apa-apa.

Eni Spa yang menggantikan Shell ternyata menemukan sumber minyak di sana, bahkan hingga 4.000 barel per hari setiap sumur uji. Namun, ketika Eni sudah mengendalikan Blok Ambalat dan bahkan menemukan cadangan, Shell 'ngiler' dan menggandeng Petronas. Tapi, apa benar keputusan itu atas dasar dendam? Rasanya spekulasi ini terlalu naif bila digunakan sebagai alasan ditendangnya Shell dari arena pertarungan.

Pertanyan lainnya, bila memang Pertamina-Shell berada di urutan terakhir dalam peringkat itu, mengapa mesti ada pembicaraan tambahan di luar konteks tender, yang berpotensi menimbulkan masalah dan mempertaruhkan reputasi pemerintah.

Anehnya pemerintah terus melakukan pendekatan-pendekatan di luar konteks, bahkan setelah pengumuman pemenang dilakukan, dan itu dilakukan hanya dengan Pertamina, tidak dengan Shell. Apa itu tidak menjadi lucu?

Informasi yang diterima Bisnis menyebutkan Purnomo dan Evita sempat 'membujuk' Pertamina agar melepas genggaman erat tangannya dari Shell dan bersedia 'kawin' dengan Hess.

Lobi tingkat tinggi dilakukan. Purnomo menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla agar merayu Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno untuk bersedia bersanding dengan Hess dan melupakan Shell.

Entah apa yang diinginkan pemerintah melalui pendekatan-pendekatan, yang terkesan seperti ingin mendiamkan anak yang sedang menangis itu.

Nyatanya semua upaya pendekatan itu gagal total. Ari Soemarno malah menyangsikan kemampuan teknis perusahaan itu untuk mengelola blok lepas pantai tersebut.

Apa pun itu, nasi sudah jadi bubur dan tak mungkin jadi nasi kembali. Amerada Hess, perusahaan migas asal Amerika Serikat itu, sudah dipilih akan menjadi lelucon baru bila pemerintah memaksakan untuk menganulir keputusan itu atau melakukan upaya-upaya di luar konteks tender yang lazim. (rudi.ariffianto@bisnis.co.id/diena.lestari@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB

    UKM hadapi dampak lanjutan krisis global

    Oleh : Mulia Ginting Munthe

    Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB

    Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok

    Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

    Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB

    Sektor pertanian butuh proteksi

    Oleh : Martin Sihombing

    Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB

    Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?

    Oleh : Yusuf Waluyo Jati

Komentar

#1 - bijak dan arif

bisnis migas itu high risk bussiness. semua prospect atau hitung-2an resource itu belum apa-2 sampai dia di bor. maka harus hati-2. pertamina juga harus hati-2 apalagi cuman jadi serep shell.Gimana mau terjun ke Papua sana wong Natuna aja belum di apa-2kan. Jangan-2 yang kelola Natuna nanti itu-2 juga gak jauh dari 7 sisters jugalah!

denji - Jakarta @ 18/11/2008 - 14:40 WIB dari 146.23.254.21 (idrbintisaep1.chevron.com)

Beri Komentar