Bisnis Indonesia Online » Artikel




Artikel - Detail

Rabu, 19/11/2008 13:34 WIB

Century, satu fragmen risiko likuiditas

oleh : Fahmi Achmad & Fajar Siddik

Medio November mungkin menjadi masa yang sibuk bagi manajemen bank ataupun bank sentral menjelaskan kondisi kesehatan perbankan.

Adalah kasus PT Bank Century Tbk yang menyedot perhatian masyarakat. Century dikabarkan kesulitan likuiditas dan gagal melakukan kliring sehingga dana masyarakat terpaksa 'ditahan' tak bisa dicairkan.

Siang 13 November, Bank Century seakan menjadi pembicaraan nomor satu di pemangku kepentingan industri perbankan. Tak hanya Century, tetapi beberapa bank diterpa isu tak bisa ikut kliring karena likuiditas mengering.

Kamis itu juga, Bank Indonesia bahkan membuat pernyataan pers. Hanya Century yang mengalami masalah teknis dan tidak ikut dalam kliring. Namun, sistem real time gross settlement (RTGS) bank tersebut normal.

Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil perhitungan diselesaikan dalam waktu tertentu. Bank harus menempatkan dana dalam bentuk giro di BI agar bisa ikut dalam transaksi. Tanpa ketersediaan dana yang cukup, maka pengajuan kliring bisa ditolak.

Gagal kliring menyebabkan transaksi saham Bank Century dibekukan sejak sesi II, ketika harga di level Rp50.

Ketua umum Perbanas Sigit Pramono menyesalkan beredarnya sejumlah isu miring perbankan. "Saya katakan yang paling bahaya itu rumor. Bank ini seperti orang nonton di bioskop, kalau kita bilang ada kebakaran, semua penonton pasti lari. Ini psikologi massa," ujarnya.

Akan tetapi dampak dari rumor berujung pada kepanikan dan heboh di kantor pusat bank. Salah seorang nasabah yang merasa tidak mendapatkan kejelasan dana simpanannya, memaksa merangsek naik ke lantai 22 sebagai pusat aktivitas para direksi dan manajemen Bank Century.

Pada Jumat, reaksi nasabah Century di hampir seluruh penjuru nusantara sudah memperlihatkan respons yang beragam. Di Jakarta, nasabah sudah bisa mencairkan deposito.

Seorang kepala cabang bank swasta di Makassar mengaku ada pegawainya yang diminta oleh nasabah untuk membantu menarik dananya yang cukup besar di Bank Century.

Dirut Bank Century Hermanus H. Muslim menjelaskan kasus pada Kamis itu bermula saat ada kliring dalam jumlah besar dari sebuah cabang di Sumatra yang terlambat masuk ke kantor pusat untuk disetorkan ke BI.

Lagi-lagi BI turun tangan dan merilis siaran pers soal kliring Century. Gubernur BI mengeluarkan pernyataan menyejukkan bahwa bank sentral menjamin kebutuhan dana tunai bagi seluruh bank.

Kinerja keuangan per September (Rp triliun)
  Aset DPK Kredit
Bank Century 15,23 12,02 5,22
Bank Sinarmas 5,86 4,38 3,73
Sumber : Laporan keuangan kedua bank

Tawaran akuisisi

Isu mulai mereda seiring hari menjelang Sabtu. Tapi cukup selang sehari, karena pada 16 November, Century kembali membuat berita. Century mendapatkan penawaran akuisisi dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk.

Sinar Mas mengumumkan mereka telah menandatangani letter of intent (nota penawaran) untuk mengakuisisi sampai dengan 70% saham yang telah diterbitkan Bank Century. Tak pelak, kedua perusahaan dengan kode saham BCIC dan SMMA di-suspend oleh Bursa Efek Indonesia pada 17 November.

Hermanus Hasan Muslim menyambut baik dan mengatakan akuisisi ini akan diselesaikan dalam waktu singkat dan segera, termasuk permohonan persetujan dari pihak regulator. Aksi ala blitzkrieg ini mengundang banyak tanya.

Sinar Mas hendak mengakuisisi saham milik siapa? Hingga September, 55,88% saham bank itu dimiliki publik, sementara sisanya tersebar di lima institusi yakni Clearstream Banking S.A. Luxembourg (11,15%), First Gulf Asia Holding Ltd (9,55%), PT Century Megainvestindo (9%), PT Antaboga. Deltasekuritas (8,78%), dan PT Century Super Investindo (5,64%).

Kalau Sinar Mas ingin mayoritas, dia tentu harus tender offer. Direktur Pelaksana Grup Sinarmas Gandi Sulistiyanto ketika dikonfirmasi tentang aksi korporasi ini tak banyak bicara dan hanya mengatakan masih menunggu proses uji tuntas.

Tapi paling tidak SMMA sempat menguat Rp15 ke level Rp255, meskipun akhirnya setelah perdagangan sahamnya dibuka kemarin justru turun Rp5 dan itu lebih karena pengaruh indeks saham gabungan yang melorot.

Selain itu, Sinar Mas juga akan didera kebijakan kepemilikan tunggal (single presence policy) karena juga tercatat sebagai ultimate shareholder di Bank Sinarmas (eks Bank Shinta).

Namun, Dirut Bank Sinarmas Tjendrawati Wijaya justru mengaku belum ada rencana yang matang soal kemungkinan merger dua bank tersebut.

Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto mengatakan merger dan akuisisi menjadi tren di industri perbankan pada saat krisis finansial. "Filosofi di bank itu, pemilik harus selalu tambah modal. Kalau pemilik bank tidak bisa menjaga modalnya, dia harus cari mitra."

Setidaknya, rencana Sinar Mas mengambil alih Century bisa dinilai menjadi salah satu fragmen konsolidasi industri perbankan yang dalam 10 bulan terakhir berkurang empat pemain menjadi 126 bank. Masih layak ditunggu merger antarbank karena kering likuiditas. (fahmi. achmad@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Artikel »

    Selasa, 06/01/2009 08:15 WIB

    UKM hadapi dampak lanjutan krisis global

    Oleh : Mulia Ginting Munthe

    Selasa, 06/01/2009 08:13 WIB

    Tarif dan layanan angkutan umum masih jadi momok

    Oleh : Fita Indah Maulani & Arif Pitoyo

    Selasa, 06/01/2009 08:10 WIB

    Sektor pertanian butuh proteksi

    Oleh : Martin Sihombing

    Selasa, 06/01/2009 08:07 WIB

    Quo vadis industri baja pada tahun depresi global?

    Oleh : Yusuf Waluyo Jati

Komentar

#1 - bingung dan ragu

saya punya tabungan di century, saya datang ke bank mau mencairkan dana atas kebutuhan yang mendesak, bank century tidak bisa mengabulkan maksud saya tersebut. Saya juga diambang kebingungan atas dana saya di bank century, sampai kapan century ini bisa bertahan dan menyanggupi kebutuhan dana nasabahnya? dan bagaimana bank century bisa menjamin keamanan dana nasabahnya? jika dana terus tidak bisa ditarik bagaimana kami para nasabahnya bisa memenuhi kebutuhan yang mendesak dan memerlukan biaya yang besar

yenni - Indonesia @ 20/11/2008 - 17:16 WIB dari 202.148.23.133 (202.148.23.133)

Beri Komentar