Akhir pekan lalu harga minyak mentah dunia kembali di atas US$70 per barel, atau tepatnya US$70,74 per barel, setelah sempat menyentuh level US$73 per barel 2 pekan lalu. Ini merupakan pencapaian tertinggi dalam 9 bulan terakhir ini.
Banyak analis yang menilai tren harga ?emas hitam? pada level itu merupakan sinyal komoditas itu mulai merangkak ke kondisi normal. Dalam sebuah kesempatan, Menteri Energi Aljazair Chakib Khelil meyakini harga minyak mentah akan menyentuh posisi US$90 per barel pada semester II 2010. Harga minyak pernah mencapai titik puncak US$147,27 per barel pada 11 Juli 2008.
Apabila benar harga komoditas sudah menuju ke arah yang benar, tentunya itu menjadi sinyal yang baik bagi produsen minyak dunia menggenjot investasinya, baik eksplorasi maupun produksi. Bahkan, Ernst & Young berani memprediksi investasi di sektor migas akan mencapai US$375 miliar seiring dengan tren harga tersebut.
Khusus Indonesia, negara ini tetap optimistis target investasi US$13 miliar tahun ini bisa tercapai meskipun realisasi hingga kuartal pertama hanya mencapai 20%. Alasan yang dikemukakan rendahnya realisasi itu adalah rendahnya harga minyak. Di sisi lain, biaya produksi cukup besar sehingga tingkat keekonomian tak tercapai.
Bahkan, Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM Evita Herawati Legowo dalam kesempatan rapat kerja dengan DPR pekan lalu menganggap tingkat realisasi investasi yang rendah itu sebagai siklus biasa di industri padat modal.
"Jadi itu sudah siklus yang biasa terjadi. AFE [authorization for expenditure] dan WP & B kan baru disetujui sehingga mereka baru akan mulai bergerak sekarang dan akan melejit pada September dan Oktober," tuturnya yakin.
Tidak hanya dari sisi realisasi investasi saja yang rendah. Kinerja produksi juga masih belum memenuhi target yang ditentukan. Dan, bukan orang Indonesia namanya bila tidak mampu berkilah.
"Target produksi masih di bawah target yang ditetapkan. Persoalan yang paling signifikan, ya karena penggelaran pipa di Lapangan Cepu yang terhambat izin dari pemerintah daerah," tandas Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) R.Priyono.
Memang patut disayangkan, produksi rata-rata Indonesia, yang sebenarnya masih di bawah produksi Petroliam Nasional Berhad (Petronas), hanya mampu mencapai 952.038 barel per hari (bph) selama semester pertama tahun ini, sedangkan amanat APBN memerintahkan produksi minyak harus mencapai 960.000 bph.
Tertundanya penggelaran pipa Lapangan Cepu hanya satu dari sekian persoalan untuk meningkatkan lagi produksi minyak negara ini. Pengaruh krisis global yang juga menghantam perusahaan kelas dunia, yang juga berkiprah di Indonesia, turut memengaruhi realisasi, baik investasi maupun produksi minyak Indonesia.
Apa yang diungkapkan Vice President Indonesian Petroleum Association (IPA) Sammy Hamzah juga patut direnungkan bagi pengembangan investasi migas di negara ini.
Menurut dia, selain mengenai siklus yang memang menjadi kecenderungan umum dari perusahaan mana pun, terdapat faktor penting lain yang ikut berpengaruh pada realisasi investasi.
Faktor-faktor itu meliputi harga minyak mentah yang mencapai titik terendahnya pada awal tahun sejak Juli 2008, iklim investasi, prioritas proyek satu perusahaan di negara tertentu, dan juga masalah cost recovery.
"Dengan krisis pertengahan dan akhir tahun lalu, harga minyak mentah drop hingga di kisaran US$30 per barel, itu shock yang mau tidak mau perusahaan besar pun harus realistis. Itu sangat memengaruhi perilaku investasi perusahaan besar."
|
17 KKKS yang melampaui target hingga April (dalam barel per hari)
|
| Nama KKKS |
Target |
Realisasi |
| Chevron Pacific Indonesia |
380.330 |
391.890 |
| Total E&P Indonesie |
92.420 |
98.673 |
| ConocoPhilips (Natuna) |
53.040 |
66.299 |
| CNOOC SEES |
43.950 |
44.432 |
| Medco E&P Indonesia |
28.020 |
30.526 |
| Chevron Indonesia Co |
22.500 |
33.707 |
| Vico Indonesia |
13.500 |
17.940 |
| Kodeco Energy |
9.340 |
13.851 |
| Petrochina Int Bermuda |
6.000 |
8.099 |
| ExxonMobil Oil |
5.280 |
6.193 |
| JOB PN-Talisman OK |
3.680 |
3.819 |
| Citic Seram Energy |
2.637 |
1.950 |
| Medco (Tiaka) Tomori |
2.400 |
2.403 |
| Santos (Oyong) |
1.950 |
4.011 |
| Medco E&P Kalimantan |
1.800 |
1.900 |
| PetroChina Bangko |
220 |
221 |
| JOB PN-Costa Int Group |
40 |
58 |
Sumber: BP Migas
Kue investasi
Selain masalah harga, Indonesia juga harus melihat konteks persaingan untuk merebut kue investasi yang tersedia. Kendati Indonesia masih relatif menarik dan lebih baik dari Amerika Latin atau Eropa Timur, katanya, persaingan terhitung akan ketat justru di kawasan.
"Negara tetangga kita, seperti Vietnam, China, dan Australia kini lebih lapar dari Indonesia. Itu pasti akan memengaruhi besaran investasi perusahaan di Indonesia," tandasnya.
Terlepas dari realisasi investasi dan produksi Indonesia yang tidak sesuai harapan selain patut diwaspadainya negara yang disebutkan di atas yang siap meraup kue dana perusahaan migas multinasional, geliat aksi korporasi dari PT Pertamina (Persero) terakhir ini patut dicermati.
Salah satunya adalah akuisisi BUMN migas itu terhadap 46% hak partisipasi (PI) Beyond Petroleum West Java Ltd di Blok Offshore North West Java (ONWJ). Nilai transaksi juga tidak sedikit, yakni US$280 juta, sehingga menempatkan perusahaan pelat merah itu menjadi operator blok lepas pantai itu.
Persaingan memperebutkan blok itu juga cukup sengit. Bayangkan ada tiga konsorsium bertarung memperebutkannya, yakni PT Medco Internasional-China National Petroleum Corp, PT Energi Mega Persada-Supreme Energy. Pertamina sendiri sebenarnya bergandengan tangan dengan PT Indika Energy. Namun, kongsi itu pecah di tengah jalan dan Pertamina maju sendiri yang akhirnya memenangi persaingan meraih blok itu.
"Kami tidak hanya melihat aset, akan tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian perusahaan di sektor hulu yang menyumbang 70% laba perusahaan, khususnya di lepas pantai," ujar Dirut Pertamina Karen Agustiawan.
Secara umum, lanjutnya, Pertamina menargetkan peningkatan produksi sebesar 14% untuk minyak dan 18% untuk gas, termasuk dari ONWJ. "Pengalaman kami di Sangasanga [akuisisi dari PT Medco Energi Internasional Tbk.] Pertamina bisa meningkatkan produksi dari 4.300 bph menjadi 5.300 bph," ujarnya optimistis.
Blok ONWJ itu merupakan satu dari sekian aksi korporasi yang telah dan akan dilakukan Pertamina. Sebelumnya, BUMN itu juga telah mengambil alih TAC (technical assitance contract) Lapangan Sangasanga-Tarakan yang sebelumnya dikelola Medco E&P Kalimantan mulai 1992. TAC berakhir 15 Oktober 2008 dan dikelola kembali oleh anak perusahaan Pertamina, Pertamina EP.
Apa yang dilakukan Pertamina memang patut diapresiasi. Indonesia memang membutuhkan investasi, termasuk mengajak perusahaan migas kelas dunia masuk dan menggarap potensi migas di negara ini.
Namun, masyarakat tentunya akan lebih berbangga lagi bila yang menggarap dan memburu potensi emas hitam yang cukup besar, di tengah harga minyak dunia yang mulai membaik, adalah perusahaan milik negara ini, seperti Pertamina atau milik putra-putri negeri ini. Ini yang ditunggu dan saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (rudi.ariffianto@bisnis.co.id/firman.hidranto@bisnis.co.id)