Sekitar 13 tahun lalu, dunia kedokteran membuat lompatan besar melalui temuan teknologi kloning. Teknologi yang menggunakan seekor domba-yang kemudian diberi nama Dolly dan lahir di Edinburg, Inggris-itu sempat memicu kontroversi, terutama terkait dengan etika dan agama.
Namun, terlepas dari kontroversi tersebut, teknologi kloning telah mencatatkan prestasi tersendiri sebagai salah satu bagian dari perkembangan bioteknologi dunia. Selain kloning, sejumlah produk berbasis bioteknologi yang sudah cukup populer di dunia farmasi dan kesehatan saat ini antara lain adalah antibiotik, vaksin, hormon, dan kit diagnostika.
Bioteknologi itu sendiri merupakan aplikasi berbagai teknik yang menggunakan organisme hidup atau bagiannya untuk menghasilkan produk dan atau jasa. Bioteknologi terbukti mampu melakukan berbagai proses penting dalam di berbagai bidang, antara lain kesehatan, pangan, pertanian, lingkungan, serta industri lainnya.
Dari keseluruhan aplikasi bioteknologi tersebut, pemanfaatan terbesar ada di bidang kesehatan yang mencapai 70%-80%. Hal ini disebabkan oleh banyak perusahaan farmasi global yang berlomba-lomba mengembangkan produk obat-obatan berbasis bioteknologi (biofarmasi) ini.
Berdasarkan data versi Espicom.com, pasar biofarmasi global pada 2004 mencapai US$45 miliar, tumbuh 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan 8,1% dari total pasar farmasi global yang mencapai US$555,6 miliar. Pasar biofarmasi terus meningkat menjadi US$80 miliar pada 2007 (9,6% dari total pasar farmasi global sebesar US$830 miliar).
Pada 2011, pasar biofarmasi diproyeksikan menembus angka US$92 miliar. Selama periode 2004-2011, pasar sektor industri ini dipredisikan tumbuh rata-rata 10,3% per tahun.
Amerika Serikat (AS) merupakan pemimpin pasar biofarmasi dengan menguasai pangsa sekitar 60% pada 2004, disusul lima negara Eropa yakni Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Spanyol dengan kontribusi 20%, disusul Jepang sebesar 7%. Selebihnya merupakan pangsa pasar dari negara Asia seperti China, India, dan negara Eropa Timur.
Mengapa industri biofarmasi ini tumbuh begitu pesat? Pemicunya tidak lain karena produk obat yang dihasilkan dianggap lebih alami dibandingkan dengan obat berbasis kimia. Selain itu, obat berbasis bioteknologi memiliki efek samping yang lebih rendah.
Pengembangan industri biofarmasi ini membutuhkan investasi yang sangat besar sehingga tidak mengherankan jika harga produknya pun relatif mahal. Di negara maju, para pasien umumnya di-cover oleh asuransi untuk pembelian obat-obatan berbasis bioteknologi ini.
|
Profil dan perkembangan pasar biofarmasi
|
|
Pasar biofarmasi global pada 2004 mencapai US$45 miliar, tumbuh 17% dibandingkan tahun sebelumnya, atau 8,1% dari total pasar farmasi global yang mencapai US$555,6 miliar.
|
|
Pada 2007 pasar biofarmasi meningkat menjadi US$80 miliar atau berkontribusi 9,6% dari total pasar farmasi global yang mencapai US$830 miliar.
|
|
Pada 2011 diproyeksikan pasar bioafrmasi menembus US$92 miliar. Sektor industri ini selama periode 2004-2011 diduga tumbuh rata-rata 10,3% per tahun.
|
|
Pasar biofarmasi terbesar adalah AS, disusul Eropa, Jepang , negara-negara Asia.
|
|
Pasar biofarmasi di Indonesia pada 2008 diprediksi US$101 juta, dan diestimasi naik menjadi US$148 juta pada 2013, dengan rata-rata pertumbuhan 7,9% per tahun.
|
Sumber: Espicom.com
Peluang Indonesia
Bagaimana peluang Indonesia dalam mengembangkan industri biofarmasi ini? Indonesia sebetulnya merupakan tempat yang sangat ideal untuk mengembangkan industri bioteknologi ini. Sebab, negeri ini memiliki bahan baku berupa keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, tersedia sumber bioenergi yang murah dan berlimpah, serta memiliki plasma nuftah terbesar kedua di dunia.
Dengan tersedianya sumber bioenergi yang murah, Indonesia memililki kesempatan besar untuk membangun industri bioteknologi yang tangguh. Selain bahan baku, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia (SDM) yakni ilmuwan dan pakar biofarmasi yang cukup mumpuni, baik dalam jumlah maupun kompetensi.
Masih menurut data Espicom.com, pasar biofarmasi di Indonesia pada tahun lalu diprediksi mencapai US$101 juta, dan diestimasi meningkat menjadi US$148 juta pada 2013, dengan rata-rata pertumbuhan 7,9% per tahun. Proyeksi ini sangat masuk akal mengingat populasi yang besar mencapai lebih dari 220 juta jiwa, serta banyaknya penyakit yang diderita penduduknya.
Namun, di samping peluang yang besar ini, Indonesia masih menghadapi berbagai macam kendala yang dapat menghambat upaya pengembangan industri biofarmasi. Beberapa kendala yang paling menonjol antara lain, pertama, belum ada kebijakan pemerintah yang berhubungan langsung dengan kegiatan dan industri biofarmasi.
Kedua, dana penelitian, sarana, dan prasarana yang tersedia masih sangat minim. Padahal, pengembangan industri biofarmasi membutuhkan investasi besar dan waktu yang panjang.
Ketiga, kedua kendala tersebut membuat para ilmuwan lebih memilih bekerja di luar negeri yang telah memiliki sarana dan prasarana jauh lebih lengkap, serta dana penelitian yang kuat.
Keempat, belum terjalinnya sinergi dan komunikasi efektif antara tiga komponen yakni kalangan pendidikan, pelaku bisnis, dan pemerintah, atau biasa disebut dengan komponen ABG (akademisi, bisnis, dan government).
Selain itu, belum ada persepsi dan visi yang sama di antara komponen ABG. Semua ini sebenarnya merupakan problem klasik, yang tidak hanya terjadi di industri farmasi, tetapi juga di sebagian besar industri di Tanah Air.
Berbagai kendala ini harus segera diatasi jika ingin industri biofarmasi tumbuh dan berkembang di Tanah Air. Peningkatan kualitas SDM mutlak dilakukan di samping membangun akses terhadap sumber pendanaan untuk penelitian. Di Indonesia, alokasi dana riset dan pengembangan di industri farmasi nasional saat ini hanya 1% dari total nilai penjualan obat.
Angka ini sangat jauh dari ideal. Memang tidak sepadan jika dana riset di AS yang mencapai 10%, Jerman 14%, dan Swiss sebesar 15%. Namun, inilah fakta tentang betapa rendahnya dana riset di Tanah Air.
Untuk mengakselerasi pengembangan industri biofarmasi, Indonesia perlu menjalin aliansi strategis dengan lembaga riset atau industri berbasis bioteknologi dari negara maju untuk mendapatkan berbagai menfaat, seperti pendanaan riset, alih teknologi, royalti dan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) dari produk yang dikembangkan.
Selain itu, perlu disusun prioritas pengembangan produk biofarmasi dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan kemampuan nasional. Ini penting supaya bisa lebih fokus dalam risetnya.
Membangun persamaan persepsi dan visi di antarkomponen ABG tentunya menjadi sesuatu yang sudah semestinya dilakukan, sehingga mereka tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pada akhirnya, yang tidak kalah penting adalah dukungan pemerintah melalui penerbitan kebijakan yang kondusif, termasuk insentif dan kemudahan bagi investasi asing. (afriyanto@bisnis.co.id)