Bisnis Indonesia Online » Artikel



Artikel - Detail

Kamis, 01/11/2007 10:30 WIB

Sanggupkah saham Jasa Marga memberikan gain?

oleh : Wisnu Wijaya

Privatisasi PT Wijaya Karya Tbk lulus ujian. Keuntungan (gain) yang diberikan oleh saham PT Wijaya Karya Tbk (Wika) pada hari pertama perdagangan serta-merta menghapuskan kekecewaan pemodal terhadap divestasi saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Pada penutupan hari perdana perdagangan, saham Wika mencetak gain 33,3% karena harga saham BUMN konstruksi itu melonjak ke level Rp560 dari harga penawaran umum Rp420 per saham.

Kondisi itu bertolak belakang dengan perdagangan hari pertama setelah divestasi dan penawaran umum terbatas saham BNI dua bulan lalu. Saat itu, harga saham BNI langsung ditutup turun 2,43% dari harga divestasi Rp2.050.

Penurunan harga saham BNI pada hari perdagangan tak hanya mengecewakan pemodal, tetapi cukup mengejutkan, apalagi penawaran umum BUMN sudah lama absen di pasar modal.

"Penurunan harga saham BNI membuat shock investor, apalagi harganya di bawah harga divestasi [Rp2.050] cukup lama. Penawaran umum emiten sekelas BNI kok malah turun harganya?" tutur Kepala Riset PT Erdikha Elit Lanang Trihardian, belum lama ini.

Penjamin pelaksana emisi, Meneg BUMN Sofyan A. Djalil, dan agen stabilisasi saham BNI JP Morgan Securities menyalahkan kondisi pasar saham global yang tersungkur digilas krisis surat utang berjaminan aset properti (subprime mortgage) di AS dua bulan lalu. Namun, di luar itu sebenarnya ada hal yang dilupakan yakni jumlah saham yang keluar ke bursa saham domestik terlalu besar. Dengan meraup Rp8 triliun, rights issue Rp4 triliun dan divestasi Rp4 triliun, berarti ada gelontoran saham BNI bervo-lume besar di pasar.

Gain saham pada hari pertama listing tahun ini
Emiten Listing Harga perdana %*
Bisi International 28 Mei Rp200 70
Panorama Transportasi 1 Juni Rp245 69,39
Bukit Darmo 15 Juni Rp120 70
Sampoerna Agro 18 Juni Rp2.340 7,91
Media Nusantara Citra 22 Juni Rp900 4,44
Bank Multicor 3 Juli Rp200 12,5
Perdana Karya 11 Juli Rp400 70
Laguna Cipta 13 Juli Rp125 69,6
Bank Negara Indonesia 13 Agustus Rp2.050 -2,43
Darma Henwa 26 September Rp335 68,6
Perdana Gapuraprima 10 Oktober Rp310 11,3
Wijaya Karya 29 Oktober Rp420 33,3
Sumber: Bloomberg, diolah
*) Perubahan harga saat penutupan hari perdana di bursa

Valuasi saham Jasa Marga
Harga (Rp per saham) 1.400 1.500 1.600 1.700 1.800
Nilai perusahaan* (Rp triliun) 13,49 13,97 14,44 14,92 15,39
PER 2007 (kali) 49 52,5 56 59,5 63
PER 2008 (kali) 21,9 23,4 25 26,6 28,1
Sumber: Dari berbagai sumber, diolah
Keterangan: *) setelah penawaran umum, PER (price to earning ratio)

Diperparah oleh dampak negatif anjloknya indeks bursa global, bursa domestik tak sanggup menelan saham BNI. Hasilnya harga saham BNI terus-menerus di bawah harga Rp2.050 dalam dua bulan.

Lalu bagaimana dengan peluang me-ngantongi gain dari penawaran umum saham Jasa Marga?

Lain Wika lain Jasa Marga. BUMN konstruksi itu hanya melepas maksimal 1,85 miliar saham kepada publik dengan harga Rp420 per saham yang mencerminkan rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) 20,97 kali, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga perdana saham Jasa Marga yang mencerminkan estimasi PER 2007 59,5 kali dan estimasi 2008 sebesar 26,6 kali.

Mengacu harga Rp420, target dana segar yang bakal diraup Wika dalam penawaran umum tersebut Rp775,38 mi-liar, sedangkan Jasa Marga Rp3,46 triliun.

Terlepas dari kelebihan permintaan atau tidak, sebenarnya harga saham Rp420 sudah tergolong mahal. Padahal, PER perusahaan sejenis yakni PT Adhi Karya Tbk hanya 13,6 kali.

Artinya, kalau PER semakin tinggi, harganya semakin mahal, sehingga peluang harganya naik ketika saham tersebut diperdagangkan pertama kali di bursa juga semakin menipis.

Meski harganya tergolong mahal, saham Wika mengalami kelebihan permintaan 12,7 kali dan perusahaan sekuritas hanya mendapatkan alokasi minim saat penjatahan.

Indikasi untung atau rugi pada harga pertama perdagangan saham emiten baru sebenarnya bisa diendus dari masa penjatahan.

Apabila pemodal hanya mendapatkan alokasi sedikit pada masa penjatahan, itu mengindikasikan permintaan yang membeludak, sehingga potensi mendapatkan gain pada hari pertama perdagangan saham semakin besar.

Kejadian itu tak terlihat pada masa penjatahan saham BNI. Ketika itu pemesan saham BNI mendapatkan 100% jumlah yang diminta. Hal itu mengindikasikan permintaan tidak terlalu kuat.

Apalagi, banyak pemodal ritel kala itu membeli saham BNI de-ngan memanfaatkan pembiayaan margin dari perusahaan sekuritas.

"Begitu pemesanannya dipenuhi 100%, pemodal yang membeli saham BNI merasa aneh. Selama ini, dari total pemesanan hanya dipenuhi kurang dari 20%," ujar salah seorang nasabah yang ikut membeli saham BNI.

Pada masa penjatahan saham Wika, pembeli hanya mendapatkan alokasi di bawah 1% dari jumlah yang dipesan. "Pembeli rata-rata mendapatkan alokasi saham Wika hanya 0,2% dan 0,8% dari total saham yang dipesan. Ini mengindikasikan permintaan saham BUMN itu cukup kuat, apalagi waktu pencatatan sahamnya juga tepat ketika pasar sedang bullish. Wika lebih beruntung ketimbang BNI, " katanya.

Jasa Marga melepas jumlah saham baru bervolume lebih besar dibandingkan dengan Wika. Operator jalan tol itu menjual 2,04 miliar saham baru dalam penawaran umum perdana.

Di benak sebagian investor, baik itu ritel maupun institusi, kini tertanam persepsi harga perdana Jasa Marga Rp1.700 dianggap terlalu mahal. Itu terjadi akibat harga yang diputuskan Sofyan Djalil memang di luar ekspektasi pemodal.

Dalam pre-marketing penawaran umum Jasa Marga diperoleh respons dari pemodal soal harga perdana di kisaran Rp1.100-Rp1.500 per saham atau mencerminkan estimasi PER 2008 17,2-23,4 kali atau PER 2007 sebesar 38,5-52,5 kali.

Persepsi harga mahal

Persepsi itu juga membuat sebagian institusi seperti dana pensiun tetap berharap agar harga perdana Jasa Marga di bawah Rp1.700, sehingga mereka cenderung ingin harga di pasar sekunder menurun sebelum akhirnya membeli saham itu de-ngan harga yang lebih rendah.

Eddy B. Praptono, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, mengatakan dana pensiun tetap berpegang pada harga Rp1.500 karena sesuai dengan rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) industri jalan tol.

"Harga mencerminkan fundamental perusahaan. Dana pensiun masih berpegang pada Rp1.500. Kalau tidak dapat alokasi, kami lebih baik membeli di pasar sekunder."

Lanang mengakui banyak investor ritel dan institusi yang lebih memilih membeli saham Jasa Marga di pasar sekunder saat harga turun.

"Ini sudah menjadi semacam konsensus di kalangan pemodal baik ritel dan institusi. Polanya seperti itu. Biasanya mereka menunggu seminggu atau dua pekan sampai harga di pasar sekunder turun," tuturnya.

Namun, pemodal institusi yang tidak kebagian saham perdana Jasa Marga dan berniat membeli di pasar sekunder bisa menjadi katalisator bagi kenaikan harga saham BUMN itu. Akan tetapi, untuk rebound masih perlu waktu.

Suwadji dari bagian investasi Dana Pensiun Perkebunan, mengatakan masih menunggu alokasi saham Jasa Marga dari penjamin emisi.

Dapen Perkebunan memesan saham Jasa Marga sekitar Rp30 miliar melalui Danareksa Sekuritas. "Kami berharap harga Jasa Marga di bawah Rp1.700 per saham."

Alokasi untuk investor institusi dan ritel juga sangat menentukan stabilitas harga saham Jasa Marga di pasar sekunder.

Penjamin pelaksana emisi Jasa Marga yakni PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, berencana mengalokasikan 80% saham perdana untuk investor institusi dan selebihnya untuk ritel.

Tentu, hal itu mengacu pada sifat investor ritel yang cenderung membeli saham untuk jangka pendek.

Kalau kelebihan ritel, dikhawatirkan pada hari pertama perdagangan, harga Jasa Marga langsung ditekan aksi jual.

Semakin banyak pemodal institusi, yang lebih bersifat jangka panjang, biasanya membuat harga di pasar sekunder lebih tenang dan tidak langsung anjlok diterpa aksi jual.

Sayangnya, pemodal asing yang ikut membeli saham Jasa Marga pada Rp1.700 cukup minim. Dari total permintaan asing Rp4 triliun, yang benar-benar bersedia membeli di level Rp1.700 diperkirakan Rp2 triliun.

Di sini, komitmen penjamin pelaksana emisi untuk 'menjaga' harga saham Jasa Marga menentukan pergerakan saham di pasar sekunder.

"Saya belum melihat rekam jejak yang bagus dari Danareksa dan Bahana terkait harga perdana. Salah satu contohnya harga saham PT Sampoerna Agro Tbk yang sempat anjlok dari harga perdana," tutur Lanang.

Dengan volume saham yang dijual lebih besar, persepsi harga mahal yang sepertinya menjadi konsensus, dan mi-nimnya jumlah pemodal asing, risiko saham Jasa Marga untuk turun pada hari pertama lebih besar dibandingkan de-ngan saham Wika.

Semoga saja pada 12 November ketika saham Jasa Marga diperdagangkan pertama kali di bursa kondisi pasar saham global sedang bagus. Kalau saham Jasa Marga bisa memberikan gain, kedatangan Sofyan Djalil saat membuka perdagangan perdana saham perusahaan pelat merah di Bursa Efek Jakarta selalu dinanti pemodal. (wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

bisnis.com

Artikel »

    Selasa, 30/06/2009 10:28 WIB

    Menanti pencabutan larangan terbang

    Oleh : Hendra Wibawa

    Senin, 29/06/2009 12:58 WIB

    Capres & cawapres (harus) taat pajak

    Oleh : Pahala Nainggolan

    Senin, 29/06/2009 12:56 WIB

    Hak angkut kelima untungkan siapa?

    Oleh : Junaidi Halik

    Senin, 29/06/2009 12:54 WIB

    Saatnya memburu emas hitam (lagi)

    Oleh : Rudi Ariffianto & Firman Hidranto

Komentar

Beri Komentar















フレッツ光 | FX | バイク買取 | FX初心者 | 債務整理 | 住宅ローン | 結婚相談所 | ホームページ制作 | フラット35 | アスクル