Mau apa lagi ke Bali kalau bukan berlibur sambil menikmati suasana pantai yang terkenal itu?
Namun, Bali bukan lagi sekadar tempat berlibur. Banyak orang yang mulai menjadikan Bali sebagai ladang pembiakan uang.
Lapangan pembiakan yang paling luas itu terletak pada bisnis properti yang semakin mendapatkan momentum di tengah kembali bergairahnya pariwisata Pulau Dewata.
Mengapa properti? Ya, tidak ada bisnis yang paling besar potensinya di Bali ketimbang properti hunian, hiburan, dan ruang pertemuan.
Bisnis di ataslah yang berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan ini di Bali bersama dengan pariwisatanya yang mendunia.
Di antara ketiga jenis properti itu, yang paling mungkin diakses pasar lebih luas adalah properti, vila, hotel, dan apartemen.
Kenyataannya, ketiga produk properti itu memang lagi booming dengan muncul sejumlah proyek baru dengan semua level proyeknya. Yang menarik dari ketiga jenis properti itu terletak pada model penawarannya.
Hampir sebagian besar dari proyek yang dikembangkan dilempar ke pasar dengan iming-iming investasi plus hak jatah menginap bagi pembeli.
Yang terbaru, PT Dwimas Andalan Bali yang menawarkan produk properti investasi, Bali Kuta Hotel & Residence sebanyak 247 unit di Bali.
Pengembang lokal itu menawarkan properti berharga US$45.000 hingga US$105.000 per unit, mulai dari tipe studio hingga unit besar.
M.V. Hondoko P., pemilik sekaligus Presdir Dwimas Andalan Bali, mengatakan pihaknya berupaya memanfaatkan momentum kebangkitan pariwisata untuk mengembangkan proyek hunian yang sejalan dengan kebutuhan pariwisata di Bali.
"Ini proyek kedua kami setelah yang di Legian. Proyek ini terdiri dari tiga menara setinggi lima lantai dengan jumlah unit mencapai 247 unit," katanya baru-baru ini. Bali Kuta Hotel & Residence dikembangkan mulai dari tipe studio seluas 45,4 m2 hingga tipe dua kamar (80,62 m2) dengan bidikan pasar menengah, kelas bintang empat.
Konstruksi proyeksi sendiri sudah mulai dikerjakan sejak 2,5 bulan lalu dengan proyeksi selesai penuh pada awal Oktober 2008.
Menurut Hondoko, Bali Kuta dikembangkan dengan pola properti investasi yang menawarkan dua pola opsi investasi kedua calon pembeli, yaitu garansi return of investment (RoI) dan bagi hasil terhadap laba pengoperasian properti itu.
Dalam hal ini, lanjutnya, pihaknya menawarkan garansi RoI 8% per tahun selama dua tahun dalam dolar AS dan bagi hasil operasi dengan komposisi 70:30 antara pembeli dan operator.
Sementara itu, dengan memilih Aston sebagai operator yang akan mengelola hotel dan hunian itu akan memberikan jaminan tingkat okupansi kepada pembeli karena selama ini nama Aston cukup memiliki reputasi di Indonesia.
"Pola investasi itu juga diikuti dengan hak menghuni bagi pembeli selama empat pekan dalam setahun. Jadi semangatnya adalah bermitra investasi dengan sistem jual putus atas unit huniannya," ungkap Handoko.
Bakrieland Group bahkan memiliki beberapa proyek baru yang dikembangkan dengan konsep yang sama di Bali dengan menawarkan yield berkisar 6% per tahun selama tiga dan jatah menginap pula.
Ekki Simandjuntak, Direktur Bakrieland Development bidang Pengembangan Bisnis Resor dan Perhotelan, mengatakan tipikal properti Bali itu memang cocok untuk properti investasi sekaligus hunian kedua yang dimanfaatkan untuk keperluan liburan.
Properti Bali murah?
Sebagai produk investasi bisakah harga properti di Bali dikatakan murah? Kalau membandingkan dengan tingkat harga properti di pasar nasional, jelas harga properti di Bali sudah mahal.
Dengan kisaran harga Rp15 juta hingga Rp20 juta per m2 berarti sudah sama dengan pasaran harga properti mewah di Jakarta.
Dan harga itu jelas cukup mahal dibandingkan dengan harga properti di sejumlah daerah lain, seperti Makassar, Balikpapan, Semarang, bahkan Surabaya sekalipun.
Akan tetapi, kalau mengukur properti Bali berdasarkan kantong Si Bule dan prospek pengelolaannya di Bali, jelas harga itu masih murah.
Kenapa mengukur dari kedua hal itu? Pertama, Bali merupakan kawasan tujuan wisata dunia sehingga selayaknya benchmark harga properti Bali di bandingkan dengan kawasan situs pariwisata di dunia.
Kedua, potensi penyewaan properti apartemen, vila, dan hotel di Bali sangat tinggi dengan tarif sewa yang relatif mahal pula.
Kalau harga properti Bali diukur dengan kedua hal itu, tampaknya harga properti Bali yang masih bisa digaet pada kisaran Rp15 juta per m2 menjadi tidak begitu mahal.
Artinya membeli properti di Bali tetap sebuah peluang investasi yang menarik. Terlebih membeli properti di Bali berarti investasi sambil gratis bersenang-senang menikmati Bali yang tidak terlupakan. (irsad.sati@bisnis.co.id)