JAKARTA (bisnis.com): Paket I Made Rugeh Ramia mengaku lebih realistis dibandingkan paket lainnya dalam menjalankan program mereka jika terpilih sebagai direksi PT Bursa Efek Indonesia.
"Kami realistis saja, ada skala prioritas yaitu menomorsatukan investor lokal, jadi soal demutualisasi tidak kami programkan mengingat itu tidak realistis dan penuh risiko," kata I Made Rugeh Ramia, calon direktur utama PT BEI dalam diskusi dengan redaksi bisnis.com di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, hari ini.
Rugeh mengatakan hal ketika ketika ditanyakan mengenai program demutualisasi bursa yaitu Bursa Efek Indonesia go public sehingga sahamnya bisa dimiliki oleh masyarakat.
Paket Rugeh datang lengkap bersama enam calon anggota direksi lainnya yaitu Agustinus Wishnu Handoyono (penilaian perusahaan), Achmad Zaki Hamid (Teknologi dan Informasi), Hamdi Hassyarbaini (Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan), Hosea Nicky Hogan (Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa), Susy Meilina (Keuangand an sumber daya manusia) dan Rosinu (pengembangan).
Rosinu menjelaskan bahwa program mereka tidak di awang-awang karena waktunya hanya tiga tahun. "Delapan aksi paket Rugeh kami yakin bisa dilaksanakan. Itulah sebabnya kami yakin sebagai the best team for the job," tegasnya.
Delapan paket itu adalah:
Pertama, memfasilitasi anggota bursa dalam melakukan sosialisasi dan pengembangan pasar. Kedua, insentif dan stimulus bagi anggota bursa. Ketiga, menambah jumlah emiten. Keempat, meningkatkan kinerja anggota bursa. Kelima, melakukan review dan penegakan peraturan. Keenam, menerapkan risk based compliance dan audit. Ketujuh, mengkaji pembentukan lembaga investor protection. Kedelapan, optimalisasi pengelolaan BEI.
Sebelumnya paket Ito Warsito juga mengunjungi redaksi Bisnis Indonesia. Ito berjanji akan membuat regulasi yang lebih baik sekaligus penerapannya bagi anggota bursa. "Ada 20 rencana strategis yang kami lakukan jika terpilih nanti."
Selain melakukan evaluasi semua turan yang tidak sejalan dengan kondisi pasar yang dinamis, katanya, pihaknya juga menyusun strandarisasi risk management dan pedoman operasonal perusahaan efek.
Selain itu, kata Ito, meminimalkan business disruption. "Jadi suspensi sebagai pilihan terakhir."
Rugeh mengatakan bahwa program demutualisasi bursa yang diusung oleh paket Ito tak akan dilakukannya. "Banyak pihak yang tak setuju demutualisasi. Nanti jika BEI go public, bisa-bisa dicaplok oleh bursa Amerika," katanya.
Wisnu menambahkan bahwa sasaran utamanya adalah meningkatkan likuiditas pasar agar bisa mencapai Rp6 triliun per hari, jumlah pemodal menjadi 1 juta investor dalam tiga tahun dan jumlah perusahaan go public menjadi 450 emiten dan kinerja keuangan anggota bursa dan bursa yang sehat.
Ketika ditanyakan titik lemah dari paket Rugeh adalah usia calon dirutnya yang sudah 66 tahun, Wisnu menjelaskan sebenarnya usia itu masih terlalu muda jika melihat kepada pimpinan puncak bursa lain. J.Y. Pillay, dirut Singapore Stock Exchange sudah 77 tahun, Atsushi Saito (Tokyo Stock Exchange) sudah 66 tahun dan Chow Man Yiu (Hong Kong Stock Exchange sudah berusia 62 tahun ketika terpilih. "Jadi Pak Rugeh masih terlalu muda," ujarnya berseloroh. (ln)