Indonesia keluar dari 10 negara obligasi berisiko
Jumat, 03/07/2009 11:46:25 WIBOleh: Berliana Elisabeth S.
SINGAPURA (Bloomberg): Indonesia tidak lama lagi akan keluar dari daftar 10 negara berisiko sebagai penerbit obligasi bermata uang asing setelah prospek ekonominya membaik.
Credit-default swap price provider Credit Market Analysis (CMA) menyatakan risiko gagal bayar obligasi Indonesia turun 267,5 basis poin pada kuartal terakhir ini hingga ke level yang mengindikasikan bahwa surat utang itu lebih aman dibandingkan Argentina, Ukraina dan Iceland.
Negara-negara tersebut, termasuk Lithuania, Dubai, Rumania, Bulgaria, Latvia, Venezuela dan Kazakhstan, membukukan kemungkinan default (gagal bayar) diantara 63 negara dengan credit-default swap contracts pada obligasinya.
"Indonesia akan senang dengan kenaikan rating ini. Pertumbuhan mengejutkan dan harapan hasil pemilihan presiden minggu depan akan memberi dampak yang lebih positif lagi jika yang menang itu incumbent," kata Tim Condon, ING Groep NV Asia Research di Singapura.
Condon menambahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan rencananya untuk menaikkan belanja infrastruktur jalan, pembangkit listrik dan pelabuhan sebesar 128% menjadi Rp1.430 triliun atau (US$140 miliar) pada 2014. Hal ini akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jika memang terpilih pada pemilu presiden 8 Juli. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 4,2% pada 2009 dan 5,1% pada 2010, menurut survey para ekonom Bloomberg.
Condon menambahkan obligasi mata uang asing berimbal hasil tinggi dari negara-negara tetangga Indonesia seperti Filipina tidak memberi kenyamanan bagi investor karena adanya defisit anggaran, dan Vietnam juga memiliki cadangan devisa dolar yang terbatas.
Rating obligasi Indonesia di level Ba3 oleh Moody’s Investors Service, tiga poin di bawah level investasi, investment grade. Filipina B1, satu level di bawah, menurut data Bloomberg.
Norwegia, Finlandia, Jerman, Belgia, Swiss, Jepang dan Belanda membukukan harga obligasi mata uang asing dengan credit-default swap lebih rendah ketika risk premium Asia melampaui AS dan Eropa yang turun pada kuartal kedua.