Bisnis Indonesia Online
Sabtu, 12/04/2008 01:10 WIB
Industri pengolahan potensial terima kredit
oleh :
JAKARTA: Industri pengolahan masih potensial menerima kucuran kredit perbankan tahun ini menyusul masih tingginya permintaan terhadap barang di sektor tersebut. Walaupun demikian, bank juga harus menerapkan manajemen risiko.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad optimistis bahwa sektor tersebut masih potensial untuk menerima kredit. Hal tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh masih tingginya permintaan terhadap produk di sektor itu dengan tingginya kucuran kredit.
"Perkiraan awal saya tetap optimistis bahwa industri pengolahan itu kredit industri tertinggi. Dalam dua bulan terakhir ini kredit industri menjadi tertinggi dibandingkan dengan perdagangan. Mudah-mudahan bisa sustain," ujar Muliaman di sela-sela sebuah diskusi, pekan ini.
Menurut Muliaman, dengan masih tingginya kucuran kredit bank untuk industri pengolahan, bank sentral optimistis perbankan dapat tetap memberikan pinjaman. Namun Muliaman tidak menyebut secara detail berapa jumlah kredit untuk industri periode Januari-Februari 2008.
Walaupun demikian, dia menuturkan bank harus menerapkan manajemen risiko dalam menggelontorkan kreditnya di sektor tersebut. Muliaman menilai industri pengolahan masih feasible karena didukung permintaan yang kuat.
Dia juga meminta pengucuran kredit perbankan tidak disalurkan di sektor itu saja, tetapi ke bidang usaha lainnya. Misal, paparnya, sektor agribisnis dan pelayaran yang membutuhkan pembiayaan untuk peningkatan volume bisnis.
Ekonom senior PT Bank Negara Indonesia Tbk Ryan Kiryanto memproyeksikan bank akan tetap mengucurkan kredit ke sektor itu menyusul masih tingginya permintaan. Dia menilai bank akan memberikan pinjaman selama sektor itu masih potensial.
"Sesuai dengan filosofi bahwa bank akan mengikuti industri. Bank juga akan memberikan kredit yang prospektif di Jawa maupun di luar Jawa," ujarnya.
Menurut dia, sektor manufaktur masih menyerap kredit perbankan terbesar karena hasilnya dipakai oleh masyarakat untuk konsumsi.
Selain manufaktur, sektor perdagangan dan jasa adalah dua sektor lain yang menerima kucuran kredit bank dalam jumlah besar.
BI memiliki lima langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan perbankan pada tahun ini. Hal tersebut tertuang dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2007.
Pertama, bank sentral akan mengeluarkan ketentuan untuk mempertegas kriteria bank kinerja baik (BKB) dan bank jangkar. Kedua, implementasi Basel II yang meliputi pilar I (kebutuhan modal minimum), pilar II (proses pengawasan), dan pilar III (disiplin pasar).
Ketiga, menerbitkan surat edaran good corporate governance (GCG) bagi bank yang beraset Rp10 triliun atau sudah go public, sedangkan bagi bank yang belum memiliki keduanya akan diterapkan pada akhir Juni 2008.
Keempat, program edukasi perbankan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai karakteristik bank dan Kelima, adalah program corporate social responsibility (CSR).
yang diarahkan pada upaya strategis di bidang pendidikan.
Oleh Anugerah Perkasa
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Bank Indonesia akui Fitch
- Rencana IPO Wahana Artha jalan terus
- BNI Securities dan Investindo diganjar sanksi Bapepam
- BEI: Indeks turun, saatnya membeli...!
- Jadwal RUPS/ RUPSLB Beberapa Emiten: 16-30 April 2008