Bisnis Indonesia Online


Jumat, 21/11/2008 09:08 WIB

Bali Sec: Rekomendasi masuk ke utilitas dan konsumer

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com):  Investor dianjurkan untuk masuk ke saham di sektor utilitas dan barang konsumen, karena sektor ini tidak banyak terpengaruh oleh kondisi global yang menuju ke tahapan resesi. Pada saat resesi, perusahaan-perusahaan ini masih akan mempunyai cash flow yang baik dan terjaga.

Investor dianjurkan untuk tetap tenang dan waspada akan kondisi finansial global seperti ini. Pemulihan ekonomi di negara-negara maju kemungkinan akan lama dan akan tidak lebih baik di awal tahun 2009 dibandingkan di tahun 2008. Namun dengan adanya upaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah seperti rencana pemotongan suku bunga sampai menjadi 0% di tahun 2009, investor dalam negeri dapat berharap bahwa perekonomian nasional tidak akan terseret lebih dalam seperti di negara-negara tersebut," kata Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna.
 
Dia menambahkan investasi di pasar saham masih menjanjikan dalam jangka panjang. Setelah ada konfirmasi kondisi ekonomi dunia membaik, pemulihan harga saham-saham di dalam negeri akan terjadi dengan cepat karena faktor ekonomi dan kondisi finansial emiten dalam negeri masih kuat dan secara umum emitten membukukan pertumbuhan bisnis yang tinggi pada 2008.

Menurut Ketut, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih diprediksi akan mengalami tekanan karena faktor sentimen global. Sementara itu nilai tukar sempat mencapai di atas Rp12.000. per dolar AS. Namun pada sesi kedua dan penutupan kemarin nilai tukar rupiah kembali ke Rp11.950. Fundamental ekonomi Indonesia selama ini masih kuat karena faktor turunnya risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang masih diprediksi berada di angka 6% tahun ini.

Nilai tukar, lanjut Ketut, akan mendapat tekanan karena penguatan dolar dan yen Jepang, sementara angka penganguran belum meningkat. Tekanan di sektor finansial akan menguat dan pemerintah sudah menganjurkan perbankan untuk membatasi kredit perumahan dan kendaraan bermotor dan kredit konsumsi lainnya. Bank Indonesia juga sudah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) menyangkut penggunaan fasilitas pembiayaan darurat (FPD) bagi bank umum yang mengalami kesulitan likuiditas yang berdampak sistemik.

"Dengan adanya peraturan ini, masyarakat diharapkan tenang dan mempercayai perbankan domestik. Peraturan ini berlaku hanya untuk bank yang berbadan hukum Indonesia," tutur Ketut.

IHSG kembali melemah dan turun ke level 1.154,97 turun 25 poin (-2,15%) kemarin. Indeks dalam beberapa hari ini mengalami tekanan jual hampir di semua saham. Tekanan jual pada hampir semua saham terjadi sejak pagi hari dengan volume transaksi yang kecil. Sentimen negatif global menghantui bursa saham dimana-mana. Sentimen indikator ekonomi seperti indikasi peningkatan angka pengangguran di Amerika karena industri otomotif disana terguncang, sementara pemerintah Amerika masih enggan untuk membantu kesulitan keuangan di perusahaan-perusahaan ini.

Pemimpin ketiga perusahaan otomotif di Amerika berargumen bahwa jika mereka dibiarkan maka pemutusan hubungan kerja masal akan tidak dapat dihindari. Pesan ini mengindikasikan bahwa sektor riil Amerika sudah tidak berdaya mengatasi krisis ekonomi.
 
Paket stimulus lanjutan menjadi salah satu kebijakan yang ditunggu-tunggu karena kebijakan sebelumnya belum efektif untuk mengatasi krisis finansial. Kondisi ekonomi yang lebih parah di tahun 2009 diprediksi akan terjadi sehingga investor sekarang ini sudah banyak yang lebih memilih mengurangi faktor risiko investasinya di pasar modal. Selain itu karena tekanan pada perusahaan-perusahaan pada sisi penjualan maka prediksi earning akan turun dan menyebabkan saham-saham akan kembali turun menuju level bottom yang lebih rendah lagi setelah bottom di bulan Oktober kemarin.
 
Ketut menambahkan dari dalam negeri diberitakan Bapepam masih meminta penjelasan yang lebih lengkap dari paparan publik yang telah dilakukan dan mempersoalkan gagal bayar (default) PT. Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kepada beberapa kreditor. Dalam paparan publik tersebut BNBR menjelaskan penggunaan right issue pada bulan April 2008, rencana penjualan saham BUMI kepada Northstar Pasific dan rencana buy back saham BUMI dan beberapa hal mengenai repo saham grup Bakrie selama ini.

"Hal-hal ini menjadi isu sentral di media masa kemarin dan tampaknya publik belum bisa mengerti berbagai langkah korporasi tersebut sehingga membuat sentimen negatif bursa pada saham BUMI, BNBR dan ENRG begitu rendah," kata Ketut.

Ketut membuat catatan. Dokumen ini dibuat dari opini analis yang dibuat untuk membantu investor memahami pasar saham Indonesia. Dokumen ini dibuat berdasarkan sumber-sumber yang dipercaya dan dapat diandalkan. Walaupun demikian Bali Securities tidak dapat menjamin keakuratan data dan kelengkapannya. Investor dianjurkan untuk membaca secara utuh dan lengkap dokumen ini sebagai saran dalam berinvestasi dan mengambil langkah yang hati-hati dalam berinvestasi. Keputusan investasi yang diambil tetap merupakan tanggung jawab investor semata.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Hanya 51% anggota BBJ yang aktif, transaksi -13%
  • Bursa suspend transaksi Antaboga Sekuritas
  • Nomura kurangi 1.000 staf di London
  • Sejak hari ini, bursa tetapkan 35 saham transaksi marjin

Komentar

Beri Komentar