Cermati HEXA, MYOR, SAFE, ANTM, CMNP, MEDC

Selasa, 30/06/2009 08:44:17 WIBOleh: Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Harga sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia hari ini setidaknya akant erpengaruh kondisi keuangan perusahaan, aksi korporasi maupun berita-berita seputar perseroan seperti HEXA, MYOR, SAFE, ANTM, BRNA, CMNP, PLIN dan MEDC.

Harian Bisnis Indonesia edisi hari ini memberitakan delapan emiten tersebut yakni:

PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) memproyeksikan penjualannya pada April 2009 hingga Maret 2010 mencapai US$189,43 juta atau setara dengan Rp1,89 triliun. Proyeksi penjualan itu anjlok dibandingkan dengan Rp2,79 triliun pada 2008 menyusul penurunan proyeksi penjualan alat berat menjadi sebanyak 1.121 unit, dari tahun lalu 1.680 unit. Laba bersih Hexindo diperkirakan juga turun menjadi US$7,66 juta atau setara dengan Rp76 miliar dari tahun lalu Rp255 miliar.

Hexindo mulai tahun ini mengubah periode pelaporan keuangan dari sebelumnya Januari-Desember menjadi April-Maret, mengikuti praktik yang berlaku di Jepang. Mayoritas saham Hexindo dikuasai perusahaan asal Jepang yakni Hitachi Construction Machinery Co Ltd sebanyak 53,67% dan Itochu Corporation 22,55%, selebihnya publik 23,78%. Di samping itu, penggunaan mata uang juga berubah dari rupiah menjadi dolar AS.

Kondisi itu berbeda dari laporan keuangan emiten pada umumnya yang dimulai dari Januari hingga Desember. Hingga April-Mei 2009, perseroan membukukan penjualan sebesar US$32,22 juta dan laba bersih US$2,99 juta dengan margin laba kotor 24,9%. Margin ini diproyeksikan menyusut menjadi 20,3%.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat obligasi III/2008 PT Mayora Indah Tbk (MYOR) senilai Rp100 miliar pada level idA+ dan sukuk mudharabah I/2008 senilai Rp200 miliar pada level idA+(sy). Prediksi peringkat surat utang dan sukuk itu ditetapkan stabil.

"Peringkat mencerminkan posisi perusahaan yang relatif kuat di pasar makanan kemasan, pemasaran produk yang terdiversifikasi dengan baik, dan arus kas yang kuat," ujar analis Pefindo Niken Indriarsih kemarin. Namun, dia menjelaskan peringkat tersebut berpotensi terkena dampak penurunan permintaan seiring dengan kondisi ekonomi yang kurang baik dan akibat fluktuasi harga bahan mentah dan pengemasan

PT Steady Safe Tbk (SAFE) memproyeksikan bisa meraup pendapatan sebesar Rp49 miliar. Dari jumlah itu, perseroan memperkirakan bisa mencatat laba bersih sebesar Rp6 miliar. Direktur Steady Safe Jeremia Kaban menuturkan pihaknya akan mengoptimalkan pendapatan dari pengoperasian taksi dan bus.

"Untuk taksi, kami menargetkan bisa menambah armada sebanyak 180 unit dengan nilai Rp7 miliar. Kami akan mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut," ujar Jeremia pekan lalu. Steady Safe merupakan emiten yang bergerak di bidang jasa layanan transportasi, khususnya bus kota dan taksi, yang sebagian besar beroperasi di Jakarta.

PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) merevisi jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dari sebelumnya Rp57,37 per saham menjadi Rp57,46 per saham. Dalam keterbukaan informasi yang ada di bursa kemarin disebutkan bahwa revisi dividen per saham itu berdasarkan pada perhitungan bahwa saham yang dibeli kembali (buyback) oleh perseroan tidak dihitung memperoleh dividen.

"Setelah dikurangi saham hasil buyback sebanyak 15,42 juta saham, maka jumlah dividen yang dibagikan menjadi Rp57,46 per saham," ungkap Antam kemarin. Kendati demikian, total dividen yang dibagikan perseroan kepada pemegang saham tidak berubah dari sebelumnya yang diputuskan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) sebesar Rp547,25 miliar, atau 40% dari total laba bersih selama 2008.

Direktur Utama Antam Alwin Syah Loebis ketika dikonfirmasi menuturkan pihaknya memang ada sedikit salah hitung pada saat RUPS. "Namun, hal itu sudah kami revisi, bahwa saham yang di-buyback tidak memperoleh dividen," ujarnya kemarin.

Berdasarkan catatan Bisnis, pembayaran dividen akan dilakukan oleh perseroan pada 3 Juli. Sejauh ini, BUMN pertambangan ini memiliki kas sekitar Rp3 triliun. dana tersebut akan dipakai untuk sejumlah proyek yang menjadi prioritas perseroan. Salah satu yang akan dijalankan adalah pembangunan pabrik alumina di Tayan, Kalimantan Barat. Proyek ini membutuhkan dana sebesar US$350 juta-US$500 juta.

PT Berlina Tbk (BRNA) mendapatkan pinjaman dari PT Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp117 miliar dengan jangka waktu 5 tahun, yang akan dipergunakan untuk membayar obligasi perseroan yang jatuh tempo pada Desember 2009. Dengan diperolehnya pinjaman tersebut, PT Moody's Indonesia menaikkan peringkat skala nasional perusahaan dan obligasi Berlina dan Baa3.id menjadi Baa2.id dengan prospek peringkat stabil.

Analis Utama Moody's Joko Widodo mengatakan Berlina dinilai memiliki komitmen yang kuat untuk memenuhi kewajiban keuangannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Risiko pembiayaan kembali obligasi yang jatuh tempo pada akhir tahun ini telah menjadi kendala untuk adanya peningkatan peringkat bagi Berlina.

"Kenaikan peringkat mencerminkan penguatan profil keuangan Berlina dan juga dihilangkannya risiko pembiayaan kembali untuk obligasi sebesar Rp117 miliar yang jatuh tempo pada Desember tahun ini," ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, kemarin. Dia mengatakan setelah kinerja usaha yang lemah pada 2006 yang disebabkan oleh kondisi pasar yang tidak menguntungkan pada industri kemasan, Berlina secara konsisten memperbaiki profil keuangannya terutama karena perusahaan dapat mengelola kenaikan biaya dan efesiensi produksi dengan baik.

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) bersedia menjadi pembeli siaga penerbitan obligasi konversi (convertible bond) PT Citra Margatama Surabaya (CMS) senilai Rp351 miliar. Penerbitan obligasi tukar yang disetarakan dengan 30% saham Citra Marga Nusaphala di CMS, anak perusahaan, dimungkinkan setelah perusahaan menyatakan kesediannya menjadi pembeli siaga obligasi yang rencananya akan jatuh tempo dalam 5 tahun ke depan.

Langkah penerbitan obligasi tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi utang CMS yang memiliki utang senilai total Rp951 miliar kepada dua krediturnya yaitu PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mega Tbk. Direktur Operasional & Sekretaris Perusahaan CMNP Hudaya Arryanto kemarin, mengatakan perusahaan juga menetapkan kupon bunga obligasi konversi tersebut di bawah level 12%.

Pemegang saham PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) menyetujui rencana perseroan mengakuisisi PT Plaza Lifestyle Prima yang mengelola pusat perbelanjaan FX di Jakarta. Direktur Plaza Indonesia Hendra Hartono mengatakan pascaakuisisi tersebut, plaza FX diharapkan bisa menyumbang pemasukan pada tahun ini senilai Rp13,4 miliar atau tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Nilai akuisisi tersebut Rp141 miliar, atau setara dengan Rp1 juta per saham. Transaksi ini disetujui publik dalam rapat umum pemegang saham luar biasa [RUPSLB]," tuturnya kepada pers kemarin. Perseroan membeli saham PT Spektrum Duta Korporasi di PT Sarana Mitra Investama, yang mengendalikan Plaza Lifestyle. Setelah akuisisi, struktur pemegang saham Sarana Mitra adalah PT Plaza Indonesia Realty Tbk sebesar 80,57%, disusul PT Vuana Graha 14,57%, dan PT Grande Amarta sebesar 4,86%.

Plaza Lifestyle bergerak di bidang usaha pengelolaan pusat perbelanjaan dan pengembangan apartemen, salah satunya Plaza FX. PT Sarana Mitra Investama memiliki 73,91% saham perseroan dengan nilai nominal Rp1 juta per saham. Plaza FX sendiri berdiri di atas lahan seluas 45.631 m2, dengan sembilan lantai dan mulai beroperasi pada Juli 2008.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melalui anak usahanya PT Medco Energi Mining Internasional mengakuisisi dua perusahaan batu bara terafiliasi senilai US$886.013. Penandatanganan perjanjian pengikatan jual beli saham terhadap PT Duta Tambang Sumber Alam dan PT Duta Tambang Rekayasa itu terlaksana pada 26 Juni 2009.

Direktur Keuangan Medco Darwin Cyril Noerhadi mengatakan akuisisi ini sebagai persiapan bagi Medco untuk masuk ke bisnis pertambangan batu bara. "Namun, detail kandungan cadangan batu bara keduanya belum bisa saya sebutkan. Saya sedang tidak pegang datanya karena sekarang di Amerika," ujarnya melalui sambungan telepon, kemarin.

Transaksi ini mempunyai hubungan afiliasi karena secara tidak langsung dikendalikan oleh pengendali yang sama. Pasalnya, kedua perusahaan pertambangan target akuisisi tersebut dimiliki oleh PT Medco Mining, perusahaan yang dikendalikan oleh PT Medco Duta dan PT Medco Intidinamika. Medco Duta dan Medco Intidinamika dikuasai oleh Encore International Ltd, pemegang saham tak langsung Medco Energi Internasional melalui Encore Energy Pte Ltd sebanyak 50,71%.

Terkait dengan hal itu, manajemen Medco Energi meminta penilai independen PT Alpro Dinamika menilai kewajaran transaksi ini. Alpro menilai transaksi ini wajar. Namun, menurut mereka, transaksi ini bukan merupakan transaksi benturan kepentingan sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No IX.E.1. tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.

Perseroan juga telah meminta pendapat dari segi hukum dari kantor konsultan hukum Hadiputranto Hadinoto & Partners. Mereka menyatakan transaksi ini merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam peraturan Bapepam-LK No. IX.E.1. Namun, tak perlu menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa. Harga saham Medco yang berkode MEDC itu ditutup turun 1,63% atau Rp50 ke level Rp3.025 pada perdagangan kemarin.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika