JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia hari ini setidaknya akan terpengaruh kondisi keuangan, aksi korporasi maupun berita-berita seputar emiten seperti BUMI, JSMR, INKP, MAPI, BCIC, dan ADMF.
Harian Bisnis Indonesia hari ini memberitakan keenam emiten tersebut yakni:
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencari mitra strategis untuk mengembangkan tambang bijih besi dan timah hitam milik Herald Resources Limited. Seiring dengan langkah itu, Bumi juga mengincar tambang batu bara di Kalimantan milik BHP Billiton. Perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia itu juga berencana mengembangkan eksplorasi berlian di Libia.
"Upaya-upaya itu untuk meningkatkan pendapatan Bumi ke depan. BHP Billiton telah mengumumkan bahwa tambangnya di Kalimantan telah ditutup dan sedang mengambil langkah strategis ke depan berupa pencarian mitra strategis. Kami berminat terhadap unit tambang batu bara itu," kata Senior Vice President Investor Relations Bumi Resources Dileep Srivastava kepada Bisnis kemarin. Menurut dia, manajemen Bumi telah menyampaikan minatnya itu kepada BHP Billiton dan sedang menunggu tersebut.
Terkait dengan pengembangan Herald Resources, Bumi Resources menyetujui apabila manajemen Herald menawarkan saham Herald ke investor potensial. Calipso Investment Pte Ltd, yang sepenuhnya dimiliki oleh Bumi Resources, menguasai 84,2% saham Herald. Bumi mengakuisisi Herald pada tahun lalu senilai A$563 juta atau setara dengan US$454 juta.
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tidak merevisi target pendapatan tahun ini yang dipatok Rp3,7 triliun, terkait dengan adanya sumber pendapatan baru sebagai operator jalan tol Surabaya-Madura (Suramadu).
"Target pendapatan Jasa Marga pada tahun ini tidak kami revisi, karena kontrak sebagai operator tol Suramadu selama 18 bulan itu bernilai Rp10,8 miliar," ujar Direktur Keuangan Jasa Marga Reynaldi Hermansjah, kepada Bisnis, kemarin. Semula, Jasa Marga memungkinkan adanya revisi target pendapatan atas sumber pendapatan baru itu. Tahun lalu, Jasa Marga meraih pendapatan Rp3,3 triliun dan margin laba usaha 42%.
Reynaldi memaparkan BUMN itu membukukan laba bersih triwulan I/2009 senilai Rp196 miliar atau meningkat 4% dibandingkan dengan laba periode yang sama pada tahun lalu, yaitu Rp189 miliar. Dia mengatakan laba bersih perseroan meningkat seiring dengan adanya peningkatan pendapatan yang naik 4,2% dibandingkan dengan 3 bulan pertama pada tahun lalu.
Pada triwulan I/2009, perseroan mencatatkan peningkatan pendapatan Rp832,9 miliar dari Rp799,4 miliar pada 3 bulan pertama pada tahun lalu. Adapun, belanja modal tahun ini dipatok Rp4,7 triliun. Penggunaan belanja modal itu dialokasikan Rp2,35 triliun bagi pengembangan ruas tol baru. Sisanya, untuk peningkatan kapasitas dan operasional rutin.
Dividen itu setara dengan Rp52 per saham sesuai dengan rapat umum pemegang saham pada Mei lalu. Namun, Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Bambang Sulistyo melalui keterbukaan informasi bursa kemarin menyebutkan bahwa jumlah tersebut berubah.
"Perubahan itu berdasarkan jumlah saham yang telah dikeluarkan dalam perseroan per 23 Juni 2009, dikurangi dengan saham yang telah dibeli kembali sejumlah 24,52 juta saham dan menunjuk pada ketentuan UU Perseroan Terbatas yang mengatur bahwa saham yang dibeli kembali [buyback] tidak diperhitungkan dalam pembayaran dividen," ujarnya.
Harga saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada perdagangan kemarin ditutup di level Rp1.860 per saham, naik 6,9% dibandingkan dengan hari sebelumnya, yang merupakan kenaikan tertinggi sejak 9 Juni. Analis PT Optima Securities Ikhsan Binarto mengatakan kenaikan harga saham Indah Kiat kemarin didorong oleh pemberitaan tentang kemungkinan Indonesia bebas dari tuduhan dumping dari otoritas Australia atas kelompok usaha Sinar Mas.
"Berita itu memberikan sentimen positif terhadap harga saham Indah Kiat yang masuk dalam kelompok usaha itu [Sinar Mas], saya memperkirakan harga saham perseroan dapat meningkat hingga berada pada level Rp2.000 per saham," ujarnya kemarin. Harga saham Indah Kiat dalam 6 bulan ini tertinggi dicapai pada 9 Juni yang berada pada level Rp2.050 atau naik sekitar 15,17% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 8 Juni yaitu Rp1.780 per saham. Harga saham perseroan terendah terjadi pada 5 Mei yaitu Rp800 per saham.
Deputy Director PT Pindo Deli Arvind Gupta pada Selasa mengatakan dari hasil investigasi Australian Trade Measures Review Officer (TMRO) pada Januari lalu, tidak ditemukan adanya hubungan kausal antara ekspor produk kertas toilet dari Indonesia dan kerugian pada industri kertas di Australia. Dari hasil temuan itu, produk kertas toilet asal Indonesia berpotensi dibebaskan dari bea masuk anti dumping (BMAD) sebesar 33%-38% dari harga ekspor.
Ikhsan mengatakan jika otoritas Australia mencabut pengenaan bea masuk antidumping itu, diperkirakan kinerja kelompok usaha Sinar Mas khususnya Indah Kiat dapat terdongkrak karena tidak biaya tambahan atas produk yang dipasarkan di negara tersebut. Ikhsan mengatakan faktor lainnya yang ikut menggenjot harga saham Indah Kiat adalah keputusan Bursa Efek Indonesia yang memasukkan saham perseroan ke dalam daftar saham yang dapat ditransaksikan secara margin.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp90 miliar untuk menambah 20 gerai toko tahun ini. Group Head of Investor Relations Mitra Adiperkasa Ratih D. Gianda kemarin mengatakan, perusahaan juga menargetkan peningkatan penjualan sebelum beban penjualan konsinyasi sebesar Rp5,57 triliun-Rp5,82 triliun pada 2009 atau naik 15%-20% dibandingkan dengan 2008 yaitu Rp4,85 triliun.
PT Bank Century Tbk (BCIC) merugi Rp7,28 triliun pada 2008 menyusul berbagai persoalan yang dialami bank tersebut dan memaksa pemerintah melakukan penyelamatan. Audit yang dilakukan oleh kantor akuntan publik RSM AAJ Associates dan hasilnya dikirimkan kepada Bursa Efek Indonesia, kemarin, menyebutkan kerugian berasal dari penyisihan aktiva produktif, agunan yang diambil alih dam aset lain-lain Rp6,94triliun.
Hal tersebut diperparah dengan pendapatan bunga bersih yang minus Rp134 miliar. Beban operasional lain seperti administrasi dan gaji secara umum juga mengalami kenaikan. Dalam pernyataannya kepada manajemen Bank Century, akuntan publik Saptoto Agustomo mengatakan tidak mendapatkan bukti kompeten, catatan akuntansi dan laporan yang cukup untuk mendukung transaksi derivatif yang dilakukan bank sepanjang 2008.
"Kami juga tidak dapat memperoleh keyakinan memadai atas tagihan derivatif dan kewajiban derivatif yang disajikan Rp7,92 triliun dan tagihan komitmen transaksi opsi Rp38,17 miliar," tulis Saptoto.
Secara keseluruhan aset Bank Century juga tergerus hingga tinggal Rp5,5 triliun pada akhir 2008 dari tahun sebelumnya Rp14,25 triliun. Ini terjadi karena berkurangnya penempatan pada bank lain, kepemilikan efek-efek, hingga tagihan akseptasi. Dari sisi dana pihak ketiga, juga terjadi penurunan hingga separuhnya menjadi Rp5,09 triliun dari sebelumnya Rp10,25 triliun. Namun dari sisi kredit, justru terjadi kenaikan Rp400 miliar menjadi Rp3,9 triliun dari Rp3,5 triliun.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk menerima penghargaan dari Frost & Sullivan sebagai Automotive Finance Company of The Year (Indonesia) 2009.
Dalam siaran pers yang diterima Bisnis kemarin, penghargaan itu berdasarkan pertumbuhan pendapatan, pangsa pasar dan pertumbuhannya.
Jumlah aset pembiayaan yang dikelola Adira Finance atau net service assets (NSA) terus bertumbuh dalam periode 5 tahun. Pada 2008, NSA Adira sebesar Rp16,9 triliun, dan laba bersih sebesar Rp1 triliun.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »