Cermati ADHI, TRIM, GZCO, MPPA, BBNI, BBRI

Jumat, 03/07/2009 08:17:12 WIBOleh: Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia setidaknya akan terpengaruh kondisi keuangan, aksi korporasi, maupun berita-berita seputar perusahaan seperti ADHI, TRIM, GZCO, MPPA, VRNA, BBNI, BBRI dan BCIC.

Harian Bisnis Indonesia hari ini memberitakan kedelapan emiten tersebut yakni:

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memasukkan obligasi PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dalam credit watch dengan implikasi negatif sehubungan dengan potensi kerugian yang cukup besar dari salah satu proyek perseroan di luar negeri sehingga dapat memengaruhi bisnis dan profil keuangan secara signifikan.

Dalam laporan Pefindo kemarin disebutkan obligasi yang masuk kategori itu adalah obligasi IV/2007 senilai Rp375 miliar dan sukuk mudharabah I/2007 senilai Rp125 miliar.

PT Trimegah Securities Tbk (TRIM) telah menyiapkan dana sebesar Rp91,35 miliar untuk melunasi obligasi perseroan yang jatuh tempo pada 12 Juli dan 13 Juli 2009.

Direktur Trimegah Karman Pamurahardjo mengatakan obligasi perseroan yang jatuh tempo terdiri dari dua seri yaitu obligasi I Trimegah Securities 2004 sebesar Rp41,35 miliar dan obligasi II Trimegah Securities 2007 seri B sebesar Rp50 miliar. "Untuk mendanai pelunasan obligasi tersebut kami menggunakan dana pinjaman jangka pendek yang sudah kami miliki," ujarnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia kemarin.

PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) memproyeksikan laba bersih triwulan II/2009 sedikitnya mencapai Rp60 miliar dengan pendapatan sebesar Rp220 miliar terkait dengan adanya keuntungan kurs dan peningkatan harga jual komoditas perseroan.

"Produksi yang naik diiringi dengan peningkatan harga jual komoditas serta keuntungan kurs turut menyumbang laba bersih perseroan," ujar Presiden Direktur Gozko Tjandra M. Gozali kepada Bisnis kemarin. Gozco mengincar laba sebesar Rp150 miliar pada tahun ini atau lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan 2008 yang sebesar Rp54,75 miliar.

Kenaikan laba itu, lanjutnya, juga disumbang oleh PT Palma Sejahtera yang mulai semester II tahun ini sudah mulai berkontribusi terhadap pendapatan kepada Gozco. Gozco baru menggelar akuisisi terhadap 100% saham Palma Sejahtera senilai Rp466 miliar. Akuisisi ini berkontribusi tambahan pendapatan sebesar Rp30 miliar hingga Rp50 miliar terhadap pendapatan Gozco yang pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp450 miliar.

Tjandra menuturkan akuisisi itu dilakukan terhadap 1% saham Palma Sejahtera senilai Rp1 miliar dan obligasi konversi senilai Rp465 miliar. Obligasi konversi ini wajib ditukarkan ke saham Palma sebanyak 300.000 lembar.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) terus mengkaji opsi pembiayaan kembali surat utang senilai US$150 juta atau setara dengan Rp1,5 triliun yang akan jatuh tempo pada 6 Oktober 2009.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Matahari Danny Kojongian mengatakan manajemen masih mengkaji sejumlah opsi untuk membiayai kembali surat utang global itu berdasarkan pertimbangan biaya, keuntungan, dan waktu. "Analisa internal masih terus dilakukan secara intensif untuk melihat berbagai kemungkinan, tetapi sampai hari ini belum ada komitmen dengan pihak mana pun. Kami juga belum pukul gongnya [memutuskan strategi pembiayaan kembali itu]," tuturnya melalui sambungan telepon, kemarin.

Opsi untuk melunasi surat utang itu adalah melalui penerbitan obligasi, penawaran umum terbatas (rights issue), dan pinjaman sindikasi. Namun, kata Danny, meskipun perusahaan tidak menempuh satu pun dari opsi tersebut, manajemen memiliki kas yang mencukupi untuk melunasi surat utang itu. "Posisi kas cukup besar," ujar Danny.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2009, Matahari tercatat mempunyai kas Rp1,22 triliun, turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,53 triliun. Jumlah kas itu masih kurang memadai dibandingkan dengan nilai surat utang yang akan jatuh tempo US$150 juta atau setara dengan Rp1,5 triliun (asumsi US$1= Rp10.000).

PT Verena Oto Finance Tbk (VRNA) tetap mempertahankan target yang realistis Rp700 miliar setelah mampu mencatatkan pembiayaan baru hingga Juni tahun ini mencapai 3.000 unit mobil atau setara dengan Rp200 miliar.

Pencapaian tersebut dinilai menggembirakan setelah pada akhir tahun lalu, anak usaha PT Bank Panin Tbk ini sempat mengalami tekanan akibat krisis ekonomi dunia meskipun laba bersih perseroan tahun lalu melonjak dari Rp6,4 miliar menjadi Rp11,9 miliar.

Direktur Verena Andi Harjono mengatakan keadaan saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan awal tahun di mana krisis ekonomi ternyata masih mendera sejumlah perusahaan multifinance sehingga kinerja perseroan sempat melambat. Namun, dengan sejumlah strategi pemasaran dan baiknya perseroan menekan tingkat kredit macet (non performing loan/NPL) membawa kinerja perusahaan dalam posisi yang positif pada saat ini. "Kami sudah hampir mencapai 80% dari target yang kami canangkan dan hal ini berkat usaha dan strategi yang kami jalankan setidaknya untuk mengefektifkan ekspansi bisnis," katanya kepada Bisnis, pekan ini.

Dia menegaskan perseroan berkomitmen menurunkan suku bunga kredit seiring dengan langkah perbankan yang bisa sesegera mungkin juga menurunkan beban bunga. "Bunga rendah itu bisa saja, tetapi kami akan turunkan jika dari perbankan juga begitu, kata Andi.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) siap membiayai lima perusahaan yang mengembangkan proyek ramah lingkungan senilai US$200 juta dengan menggandeng Green Works Asia dan Climate Change Capital Limited.

Dirut BNI Gatot M Suwondo mengatakan pihaknya tengah mengkaji sejumlah proyek ramah lingkungan khususnya terhadap industri yang bisa menekan polusi karbon seperti pengembangan pembangkit listrik. "Kami memberikan perhatian khusus kepada industri yang dapat menurunkan polusi karbon bekerja sama dengan perusahaan spesialis untuk proyek bebas karbon guna mendukung program Clean Development Mechanism," ujarnya seusai MoU BNI dengan Climate Change Capital Limited di Jakarta, kemarin.

Dia memaparkan Climate Change Capital Limited juga menyanggupi pendanaan sebesar US$1,18 miliar untuk mendukung program pengurangan polusi karbon di Asia Tenggara salah satunya proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berkapasitas 50 MW di Indonesia.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen untuk membiayai dua perusahaan pemerintah yakni PT PLN senilai Rp2,7 triliun dan PT Pertamina senilai Rp1,5 triliun masing masing untuk pembiayaan proyek pembangkit listrik dan belanja operasional.

Direktur BRI Asmawi Syam menuturkan pihaknya telah membuat komitmen untuk membiayai kedua BUMN tersebut yang akan ditandatangani pada bulan ini melalui pembiayaan bersama dengan bank lainnya. "Kedua proyek itu siap dibiayai dan dalam waktu dekat kita akan menandatangani kontraknya. Untuk PLN bentuknya kredit sindikasi tetapi untuk Pertamina menggunakan pola club deal dengan tiga atau empat bank lain," ujarnya seusai Grand Launching BRI Syariah di Jakarta, Rabu malam.

Asmawi menjelaskan untuk pembiayaan proyek pembangkit listrik PLN sebesar 10.000 megawatt berlokasi di Tarahan Lampung Selatan dengan nilai proyek mencapai Rp2,7 triliun. Pembiayaan itu, katanya, diperkirakan akan segera dikucurkan setelah kesepakatan kerja sama pembiayaan diresmikan kedua pihak sehingga tingkat serapan kreditnya akan lebih cepat.

Proyek itu, katanya, merupakan lanjutan dari beberapa proyek pembangkit listrik PLN sebelumnya seperti pembangkit listrik tenaga uap di Tanjung Awar-Awar Jawa Timur senilai Rp1,36 triliun dan di Labuan Rp1,18 triliun, Indramayu Rp1,06 triliun serta Rembang Rp1,91 triliun.

Dewan Perwakilan Rakyat akan meminta pertanggungjawaban pemerintah dan Bank Indonesia terkait dengan keputusan penyelamatan PT Bank Century Tbk (BCIC) yang diketahui menelan kerugian Rp7,28 triliun pada 2008.

Ketua Komisi XI DPR Hafis Zawawi mengatakan legislatif akan meminta klarifikasi dasar pertimbangan yang digunakan pemerintah dan BI dalam pengambilan keputusan penyelamatan Bank Century dibandingkan dengan opsi melikuidasi bank tersebut. "Kita tahu kalau waktu itu pemerintah dan BI yang tergabung dalam KSSK [Komite Stabilisasi Sistem Keuangan] memutuskan menyelamatkan dengan alasan berdampak sistemik. Namun, sistemik semacam apa?" ujarnya di Jakarta kemarin.

Audit yang dilakukan oleh kantor akuntan publik RSM AAJ Associates mengungkapkan Bank Century menelan kerugian Rp7,28 triliun pada 2008 yang berasal dari penyisihan aktiva produktif, agunan yang diambil alih, dan aset lain-lain sebesar Rp6,94triliun. Kondisi tersebut diperparah dengan pendapatan bunga bersih yang minus Rp134 miliar. Selain itu, beban operasional lain seperti administrasi dan gaji secara umum juga meningkat.

Hafis menilai keputusan untuk menyelamatkan Bank Century cenderung gegabah. Hal itu terbukti setelah disuntikkan dana sebagai modal sementara justru hanya dipakai untuk menutup penarikan dana pihak ketiga (DPK).
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika