Saham Astra di simpang jalan

Selasa, 09/02/2010 00:30:13 WIBOleh: Arif Gunawan S.

Ketika risiko resesi global membayangi laba PT Astra International Tbk, prospek bisnis non-otomotif yang kini menopang raja otomotif nasional tersebut pun membawa saham mereka ke persimpangan.

Bagi Astra,  sektor otomotif masih menjadi penyumbang terbesar laba konsolidasi sebesar 30%, namun dua segmen bisnis lain yakni pertambangan dan perkebunan sawit mulai berlomba-lomba mencetak rekor kinerja tertinggi mereka, menerjang resesi tahun lalu.

Sentimen positif dari kedua sektor tersebut pun memicu harga saham mereka di pasar berkode ASII melejit sebesar 229%, jauh meninggalkan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hanya naik 87%

Merespons realitas tersebut, dua perusahaan sekuritas memberikan rekomendasi berlawanan untuk prospek saham Astra tahun ini. PT Citigroup Securities Indonesia merekomendasikan jual, sedangkan PT NISP Sekuritas masih merekomendasikan beli.

Analis PT Citigroup Securities Indonesia Ella Nusantoro menilai tingginya kenaikan saham Astra tersebut patut diperhatikan, sehingga mempertahankan rekomendasi jual. Potensi kenaikan ke depan dinilai terbatas mengingat Bank Indonesia (BI) berpotensi menaikkan suku bunga pada semester kedua 2010.

“Kami masih berhati-hati memandang saham tersebut. Ekonom mengekspektasikan kenaikan sebesar 75 basis poin dari posisi sekarang 6,5%. Kami mempertahankan peringkat jual,” tuturnya dalam laporan riset per
14 Januari 2010.

Potensi yang bisa membuat saham ASII melampaui target, lanjutnya, adalah pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi, kuatnya harga komoditas yang memperkuat daya beli masyarakat, ketersediaan kredit motor dan mobil, berlanjutnya suku bunga rendah, dan terjaganya kekuatan rupiah.

Ella menilai kenaikan kinerja perseroan selama ini ditopang kinerja divisi alat berat dan penjualan mobil yang melampaui ekspektasi di tengah kuatnya pertumbuhan ekonomi dan rupiah.


Terpisah, a
nalis PT NISP Sekuritas Bagus Hananto memilih merekomendasikan beli, menyusul kenaikan harga komoditas akhir-akhir ini yang mempercerah prospek bisnis Astra di sektor alat berat dan pertambangan, dan perkebunan.

“Kuatnya kinerja operasi dan suku bunga rendah di tengah pertumbuhan ekonomi akan berdampak positif terhadap bisnis otomotif.  Di sisi lain, bisnis alat berat dan penambangan serta perkebunan akan mendapat berkah dari kenaikan harga komoditas,” paparnya dalam laporan riset per 19 Januari 2010.

Rekor
Bagus Hananto mencatat di tengah situasi sulit 2009 yang ditandai dengan turunnya penjualan industri mobil nasional sebesar 19,7%, Astra mengangkat pangsa pasar mobilnya di Indonesia menjadi 57,8% dari posisi 2008 sebesar 52,3%.

Meski demikian, 2009 tetaplah bukan tahunnya bisnis otomotif, karena penjualan Astra turun 11,6%. Sebaliknya, dua unit bisnis lain di bidang pertambangan dan perkebunan sawit justru membukukan rekor kinerja.

“PT United Tractors Tbk sepertinya membukukan rekor laba bersih tertinggi pada 2009, mengingat posisi laba bersih per September 2009 saja sudah mencapai Rp3 triliun, atau mengalahkan laba bersih setahun penuh 2008 senilai Rp2,7 triliun,” ujar Bagus.

United Tractors merupakan anak usaha Astra yang menggarap alat berat dan sektor pertambangan. Bisnis kontrak penambangan batu bara yang dikelola PT Pamapersada saat ini menjadi kontributor terbesar perusahaan tersebut.

Di sisi lain, Bagus mencatat anak usaha Astra yakni PT Astra Agro Lestari Tbk juga membukukan rekor produksi CPO sebesar 1,1 juta ton pada tahun lalu, atau naik 10,3% secara tahunan dari posisi 2008 sebesar 981.500 ton.

“Ini menandakan rekor baru produksinya, karena produksi CPO perseroan sebelumnya tidak pernah menembus angka 1 juta ton. Kami merevisi asumsi unit bisnis Astra berdasarkan kenaikan harga CPO dan batu bara,” ulasnya.

Asumsi harga rata-rata CPO pada 2010–2011, lanjutnya, berada pada kisaran US$750 per ton atau naik dari estimasi sebelumnya US$600 per ton. Pemulihan ekonomi global diinlainakan memacu kenaikan permintaan CPO, dan kenaikan harga minyak dunia kembali memicu substitusi biofuel yang juga berdampak positif terhadap harga CPO.

Berdasarkan estimasi kinclongnya kinerja sektor komoditas, Bagus memproyeksikan pendapatan Astra pada 2010 naik menjadi Rp111,8 triliun. Posisi itu tercatat 14,5% lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar Rp97,7 triliun.

Dia memperkirakan kontribusi bisnis alat berat dan penambangan akan membesar, sehingga menolong profitabilitas Astra. Dia mengekspektasikan laba bersih Astra naik 23,2% menjadi Rp12,5 triliun pada 2010 dan naik 21,1% menuju Rp14,2 triliun pada 2011.

Otomotif

Ella memperkirakan segmen mobil Astra masih akan menyumbang 30% laba bersih konsolidasi, dan mendongkrak laba bersih 2010 dan 2011 masing-masing 2% dan 3%. Dia menaikkan target penjualan mobil tahun ini sebesar 4% menjadi 535.000 unit, atau naik 10%.


Di sisi lain, target penjualan motor dinaikkan sebesar 3% dari estimasi sebelumnya, menjadi 6,4 juta unit atau pada 2010. Proyeksi baru itu mencerminkan pertumbuhan 10% secara tahunan.


“Produk motor Honda masih menguasai pasar dengan pangsa 46,2% disusul Yamaha sebesar 45,3%,” ujarnya
.

Agak berbeda, Bagus memperkirakan pasar motor makin ketat tahun ini yang bisa membahayakan posisi Astra. Yamaha Motor Indonesia, sebagai pesaing produk Honda yang dipasarkan Astra, tahun lalu berhasil menaikkan pangsa pasar menjadi 45,3% dari posisi 2008 sebesar 39,8%.

Kali ini, dinamika bisnis motor membawa manajemen Astra menuju persimpangan jalan. “Ini menggambarkan betapa ketatnya pasar motor ke depan, sehingga akan memaksa perseroan memilih antara pangsa pasar atau profitabilitas,” ujar Bagus.(htr)


Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika