Bisnis Indonesia Online
Selasa, 15/07/2008 19:01 WIB
Makmur Sejahtera raup pinjaman US$121,8 juta
oleh : M. Munir Haikal
JAKARTA (Bisnis.com): Anak perusahaan PT Adaro Energy Tbk, PT Makmur Sejahtera Wisesa, meraup komitmen pinjaman senilai US$121,8 juta dari sindikasi bank yang dipimpin oleh International Finance Corporation (IFC) yang berkomitmen menyediakan pinjaman senilai US$25 juta.
Selain itu, IFC menyiapkan fasilitas pinjaman sindikasi sebesar US$96,8 juta bersama dengan lima bank yaitu ING Bank, Calyon, DBS Bank, KBC Bank, dan Cordiant Capital. Adaro Energy memiliki 95,59% saham di Makmur Sejahtera.
Direktur Corporate Affairs Adaro Energy Andre Johannes Mamuaya mengatakan pinjaman tersebut akan dipergunakan untuk membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik berkapasitas 60 megawatt (MW) di mulut tambang batu bara yang berlokasi di Kalimantan Selatan.
"Pembangkit listrik tersebut akan menjual kapasitas dan energi listrik kepada PT Adaro Indonesia berdasarkan perjanjian jual beli tenaga listrik yang berlangsung selama 13 tahun. Selain itu, pembangkit listrik itu akan menjual kelebihan produksi energi listrik ke jaringan listrik lokal dan pengguna energi listrik lainnya," ujarnya, malam ini.
Andre menuturkan Adaro menyediakan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik dan menjamin pembelian listrik yang dihasilkan. Sehingga, tuturnya, ekspansi ini akan mendukung peningkatan kapasitas produksi batu bara Adaro dari 40 juta ton menjadi 80 juta ton per tahun dalam waktu lima tahun ke depan.
“Pembangkit listrik akan menyediakan tenaga listrik untuk ban berjalan [conveyer belt] sepanjang 70 kilometer. Conveyer belt akan dibangun untuk mengangkut batu bara Adaro dari lokasi tambang ke tempat penyimpanan batubara di Sungai Barito, Kelanis.”
Dia menargetkan pembangkit listrik ini selesai pengerjaannya pada kuartal III 2010. Menurutnya, pembangunan dan pengoperasian disesuaikan dengan environmental and social guidelines yang ditetapkan oleh IFC. “Listrik yang dihasilkan akan mengurangi biaya impor minyak solar sampai dengan sebesar US$ 100 juta per tahun sehingga mengurangi biaya operasional Adaro secara substansial.”
Adam Sack, Country Manager IFC Indonesia, menambahkan proyek ini akan membantu mengatasi masalah terbatasnya pasokan listrik. (yn)
bisnis.com
Berita Lain
- Budi Acid bagi dividen interim Rp26 miliar
- CP Prima genjot modal dasar jadi Rp8 triliun
- Bakrieland tutup biaya investasi dari internal
- Astra Graphia akan tambah modal
- Sinar Mas dirikan tiga perusahaan baru