Bisnis Indonesia Online
Jumat, 18/07/2008 13:58 WIB
Peringkat utang Arpeni Pratama Ocean Line BB-
oleh : Pudji Lestari
JAKARTA (Bisnis.com): Fitch Ratings menegaskan peringkat utang denominasi mata uang asing dan lokal PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk pada level BB- dan peringkat nasionalnya A+, dengan outlook tetap negatif.
Pada saat yang sama, Fitch juga menetapkan peringkat BB- untuk utang tidak berjaminan senilai US$160 juta yang akan jatuh tempo pada 2013. Outlook negatif diberikan terkait tingkat utang perseroan yang tinggi dalam rangka menjaga belanja modal yang besar.
Penegasan peringkat ini dilakukan Fitch atas dasar perkembangan positif seiring dengan penguatan permintaan dan posisi pasar Arpeni di segmen transportasi batu bara di Indonesia. Jasa pengangkutan batu bara menyumbang 78% terhadap pendapatan dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) Arpeni.
Pasalnya, kini ada potensi yang lebih besar dari penerapan azas cabotage, di mana efektif pada Januari 2010 seluruh angkutan batu bara domestik harus diangkut oleh kapal berbendera Indonesia.
“Lebih jauh, adanya rencana PT Perusahaan Listrik Negara untuk menambah kapasitas pembangkit listrik batu bara sebesar 10.000 Megawatt pada 2010 akan melipatgandakan permintaan batu bara sektor ini menjadi sekitar 35 juta ton per tahun,” kata analis Fitch Buddhika Piyasena dalam keterangannya, hari ini.
Peringkat Arpeni ini cukup melegakan mengingat perseroan merupakan operator dry-bulk terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar pengangkutan batu bara domestik lebih dari 50%, dan satu-satunya penyedia solusi penuh pada bidang ini.
Model bisnis hubungan jangka panjang dan ketergantungan yang tinggi dengan perdagangan domestik mengisolasi Arpeni dari siklus angkutan laut global yang volatil.
Hingga saat ini belum ada pesaing berat bagi Arpeni di segmen pasar ini karena terbatasnya pendanaan yang diperlukan perusahaan angkutan laut domestik lain. (er)
bisnis.com
Berita Lain
- Saham Texmaco kembali dibuka, lalu di delisting
- Intiland kembangkan Industrial Park ke-2
- Bhakti Investama buyback 850.000 saham
- Anak perusahaan Adaro dapat utangan Rp2,76 triliun
- MIRA lunasi akuisisi APEX 9 September