Bisnis Indonesia Online


Selasa, 18/11/2008 10:56 WIB

Analis: Jual saham BUMI karena masih tertekan

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Secara teknikal pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih mengalami tekanan sehingga direkomendasikan jual. Bahkan pada perdagangan hari ini saham grup Bakrie ini terkoreksi hingga menyentuh batas bawah auto rejection dan di bawah Rp1.000.

"Dengan indikator EMA (5) dan EMA (20), saham BUMI masih membuat gap yang besar dan belum adanya tanda golden cross memotong antara kedua indikator ini. Kami merekomendasikan untuk jual saham BUMI," Riset Analis Reliance Securities Gina Novrina Nasution kepada Bisnis.com hari ini.

Dari sisi fundamental ekonomi, lanjut Gina, P/E saham BUMI sebesar 4,1, dan PBV sebesar 1,3 dengan kenaikan 169%. Secara teknikal, level support kedua pada Rp970, support satu Rp990, serta resisten satu Rp1.140 dan resisten dua Rp1.200.

Sejak awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini, saham BUMI terkoreksi Rp100 atau -9,52%, mentok batas bawah penghentian otomatis (auto rejection) sistem perdagangan BEI menjadi Rp950, posisi pertamanya di bawah level 1.000 setelah 2006.

Terkoreksinya saham BUMI hari ini seiring kabar buruk dari induk perusahaannya, PT Bakrie & Brothers Tbk, yang menyatakan gagal bayar setelah tidak mampu membayar utang Rp144,9 miliar kepada dua kreditor yaitu PT Recapital Securities dan PT Aldira. Utang Bakrie kepada Recapital, yang jatuh tempo pada Oktober 2008-September 2009, senilai Rp134,9 miliar, sedangkan pinjaman ke Aldira, yang jatuh tempo pada bulan ini Rp10 miliar.

Utang ke Recapital itu, yang semula Rp189 miliar, dijamin dengan 116,67 juta saham Bakrie Sumatera Plantations dan 45,95 juta saham Bumi Resources. Pinjaman ke Aldira dijamin dengan 11,45 juta saham Bakrie Plantations.

Selain dua kreditor itu, Bakrie masih berutang kepada tujuh lainnya a.l. Odickson Finance. Perusahaan induk investasi milik keluarga Bakrie itu mempunyai utang US$1,39 miliar (setara dengan Rp16,56 triliun) dan Rp545,81 miliar. Utang itu diperoleh dengan menjaminkan 5,13 miliar saham Bumi, 4,76 miliar saham PT Energi Mega Persada Tbk, 3,80 miliar saham PT Bakrieland Development Tbk, dan 394,96 juta saham Bakrie Plantations. Rasio kolateral terhadap utang itu 1,5-3 kali.

Pinjaman dan repo dengan jaminan saham Bumi kini default karena nilai kolateral anjlok di bawah syarat yang ditetapkan akibat rontoknya saham Bumi setelah pencabutan suspensi.

Terkait dengan penjualan 35% saham Bumi, Presiden Direktur Bakrie & Brothers Nalinkant Amratlal Rathod mengatakan perseroan akan membeli saham Bumi dari pasar untuk memenuhi penjualan saham itu. Pasalnya, penurunan harga Bumi memicu aksi jual paksa atas transaksi margin dan repo yang menggunakan jaminan saham Bumi, sehingga saham Bumi yang dipegang kreditor menjadi berkurang.

Jika itu terjadi, Bakrie mengalami gagal serah 35% saham Bumi ke calon pembeli sesuai dengan perjanjian. "Kami langsung ambil kalau San Miguel mengajukan penawaran. Saat ini, belum ada penawaran, meski ada penjajakan."

Bakrie berencana menggunakan hasil penjualan saham Bumi untuk melunasi utang pokok US$1,15 miliar dan Rp501,7 miliar, bunga pinjaman, dan biaya utang yang belum jatuh tempo.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • 3 Emiten gelar RUPSLB jelang libur
  • Bukaka berharap soal utang selesai 2009
  • Bukaka harapkan sepakat dengan kreditor
  • IGM dijual untuk renovasi pabrik Indofarma

Komentar

Beri Komentar