Bisnis Indonesia Online


Selasa, 11/11/2008 12:01 WIB

PHEI kerja sama dengan BPAM

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (bisnis.com): PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) atau Indonesian Bond Pricing Agency mengharapkan dengan adanya nota kesepahaman dengan Bond Pricing Agency Malaysia (BPAM) dapat mempercepat persiapan lembaga itu menjadi penyedia nilai wajar obligasi kepada pelaku pasar modal.

Penandatanganan MoU antar kedua lembaga itu dilangsungkan di ruang Galeri Lt.1 Tower II Gedung Bursa Efek Indonesia pagi ini. Penandatangan dilakukan President Director PHEI Ignatius Girendroheru dan Chief Operating Officer BPAM Meor Amri Meor Ayob.

Ignatius mengatakan MoU meliputi dukungan dan asistensi dalam berbagai bentuk khususnya terkait dengan pegembangan PHEI sebagai lembaga penilai harga efek pertama di Indonesia.

"Kesepakatan juga meliputi pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan kebijakan dan strategi bisnis maupun pertukaran informasi dalam rangka pengembangan pasar surat utang antar kedua negara," tuturnya saat jumpa pers seusai penandatanganan MoU.

Acara penandatanganan dihadiri pula oleh Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah, Direktur BEI M.S Sembiring dan Bastian Purnama, Direktur PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia Hoesen, Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia Trisnadi Yulrisman, Direktur PHEI Hasan Fawzi, dan Director BPAM Suresh Menon.

Pada kesempatan itu, Meor mengatakan adalah suatu kebanggaan dapat terlibat kerja sama dengan PHEI mengingat industri penilai harga wajar obligasi adalah industri dengan lingkup yang kecil. Di Asia Tenggara, saat ini baru ada di Malaysia dan Indonesia.

"Di Bangkok, Thailand memang ada tapi itu bukan merupakan satu perusahaan melainkan hanya divisi dari asosiasi broker. Jadi kami senang sekali ada inisiatif serupa di Indonesia," katanya.

BPAM, kata dia, menyediakan nilai wajar obligasi yang untuk saat ini telah digunakan leh 75% lembaga keuangan yang ada di negeri jiran itu. BPAM mengeluarkan nilai wajar atas 1.976 instrumen obligasi setiap hari dari total ada sebanyak 2.881 instrumen obligasi konvensional ataupun sukuk bernilai US$172 miliar.

Di Malaysia, obligasi tersebut mempunyai struktur yang berbeda dari 0% sampai dengan struktur khusus. Selain itu, ada pula 17 macam sukuk dari yang berstruktur mudarabah hingga partner-based musyarakah. (tw)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • PNM diminta tagih dana di grup Bakrie
  • Sejumlah perusahaan siap terbitkan obligasi Rp10 triliun
  • Bumi akan terbitkan surat utang terbatas
  • Indorent lunasi obligasi lebih awal

Komentar

Beri Komentar