JAKARTA (bisnis.com): Pemodal pada perdagangan hari ini diperkirakan memperhatikan bursa AS untuk menentukan momentum untuk kembali masuk ke pasar, atau melanjutkan pelepasan sejumlah saham unggulan.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diduga bergerak mengikuti bursa negara tersebut, setelah dua hari berturut-turut terkoreksi hingga 140 poin hingga ke level 2.475,57.
Kepala riset PT E-Capital Securities Aan Budiarto mengatakan perhatian pemodal seluruh dunia masih tertuju pada negara Eropa yang defisitnya dikhawatirkan membengkak guna mencegah gagal bayar (default) surat utang mereka.
"Ini tercermin pada pergerakan bursa Dow Jones, setelah berulang kali mengetes level psikologis 10.000 dan diduga tertembus ke bawah. Ini akan memengaruhi psikologi pemodal di bursa domestik," tuturnya, kemarin.
Aksi jual, lanjutnya, berpotensi kembali melanda bursa nasional, jika Dow Jones terjerembab ke level 9.000. "Ini akan menjadi sentimen yang sangat negatif bagi bursa Indonesia," tuturnya.
Volatilitas mata uang euro, lanjutnya, berpotensi terjadi kembali yang mencerminkan belum adanya kepastian dari pengambil kebijakan negara Spanyol, Portugis, dan Yunani untuk mengatasi risiko gagal bayar surat utang dan defisit neracanya.
Pada saat yang sama, indeks BISNIS-27 ikut terpuruk ke level terendahnya sejak awal tahun ini, dipicu aksi jual oleh motif cut loss pemodal di hampir seluruh konstituen BISNIS-27. Indeks BISNIS-27 ditutup di level 225,98 melemah 1,87% dari posisi penutupan akhir pekan lalu.
Saham pertambangan dan energi mendominasi koreksi indeks BISNIS-27 yang ditekan aksi jual pemodal asing seiring rupiah yang melanjutkan depresiasi terhadap dolar AS ke level Rp9.410 per US$.
Dari luar negeri, harga minyak dunia juga masih sulit naik dari level US$71 per barel, sehingga menambah sentimen negatif bagi saham pertambangan dan energi di Bursa Efek Indonesia.
Indeks BISNIS-27 tertekan oleh pesimisme pemodal terhadap pemulihan harga minyak dunia dan perkembangan perbaikan ekonomi global yang dinilai masih jauh dari harapan. Krisis surat utang yang melanda beberapa negara zona euro seperti Yunani, Spanyol, dan Portugal, memperkuat posisi dolar AS terhadap euro. Penguatan dolar AS tersebut memicu aksi jual terhadap kontrak harga minyak dunia, sehingga harga minyak dunia melemah ke level US$71 per barel. Harga batubara di Newcastle Australia pun anjlok 6,8% ke level US$ 91,83 per ton.
Pelemahan harga minyak dunia dan aksi jual secara signifikan yang dilakukan oleh pemodal asing disebabkan karena mereka memilih untuk memegang dolar AS, membuat harga saham pertambangan dan energi para konstituen BISNIS-27 semakin terperosok.
Motif cut loss dan adanya transaksi marjin memicu aksi jual investor atas saham-saham selain pertambangan dan energi seperti saham perbankan, infrastruktur, dan konsumsi.
Namun, menjelang penutupan sesi II perdagangan Senin kemarin, beberapa saham pertambangan seperti Bayan Resources Tbk (BYAN) dan International Nickel Indonesia Tbk (INCO) bergerak menguat. Investor tampak mulai kembali masuk ke bursa seiring harga saham dan posisi indeks BISNIS-27 yang berada di posisi
oversold.(htr)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »