Bisnis Indonesia Online


Rabu, 20/08/2008 10:39 WIB

Saham tambang masih berpotensi naik

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Saham-saham tambang khususnya batu bara menjadi penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG) pagi ini pasca reboundnya harga minyak mentah.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi top gainers dan teraktif pagi ini di Bursa Efek Indonesia setelah naik 150 menjadi Rp5.100, disusul saham International Nickel (INCO) positif 175 menjadi Rp3.825. Saham Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) juga terkerek 600 menjadi Rp13.000, Indo Tambangraya Megah (ITMG) melejit 750 menjadi Rp23.050, Adaro Energy (ADRO) naik 20 menjadi Rp1.510.

Hampir seluruh saham tambang yang ditransaksikan di BEI mencatat kenaikan, dari 17 saham, 11 naik, 3 tidak bergerak, dan 3 turun.

Saham yang mencatat penurunan harga yakni ENRG negatif 10 menjadi Rp690, PKPK minus 50 menjadi 480 dan ATPK tergerus 25 menjadi Rp415. Saham yang tidak bergerak yakni APEX di level 2.175, CITA dan CITH Rp50, menurut data BEI pukul 10.20 WIB. Saham-saham yang naik BUMI, INCO, PTBA, ITMG, ADRO, TINS, ANTM, MEDC, BYAN, ELSA, dan CNKO. IHSG naik 19,25 poin menjadi 2.061,75.

Saham Bumi maih jauh dari level tertingginya tahun ini Rp8.750 pada 10 Juni dengan harga rata-rata tahun ini Rp6.760 dan terendah Rp4.700 pada 22 Januari.

Dalam setahun terakhir, 52 minggu, harga saham BUMI sudah tergerus 15% dengan level tertingginya Rp8.750 pada 10 Juni 2008 dan terendah Rp2.225 pada 21 Agustus 2007.

Riset analis PT Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan saham-saham komoditas memang mendapat tekanan yang besar karena faktor fundamental pasar. Permintaan terhadap produk komoditas diprediksi menurun seiring dengan perlambatan ekonomi global yang mencangkup stagflasi (pertumbuhan ekonomi yang stagnan) dan inflasi.

Kedua faktor ini biasanya jarang terjadi kecuali sekarang ini. Ekonomi normal yang seharusnya terjadi adalah pertumbuhan yang tinggi akan menimbulkan dampak inflasi, atau pertumbuhan yang tinggi membuat melejitnya laju inflasi. Hal ini disebabkan percepatan permintaan global tidak diimbangi dengan percepatan pasokan sehingga harga barang meningkat dan nilai uang akan menurun.
 
Selama beberapa waktu lalu, harga komoditas meroket, disertai dengan inflasi sebagai efek percepatan harga pangan dan energi. Harga pangan meroket biasanya tidak terpengaruh oleh harga energi kecuali jika pangan dikonversikan dengan energi, inilah yang terjadi. Sehingga menjadikan pertumbuhan industri mengancam inflasi yang jauh lebih parah.

"Pertumbuhan industri kita bersaing dengan pertumbuhan kebutuhan pangan. Ini yang membuat inflasi tinggi sekali. Vietnam mencatat inflasi diatas 20%, inflasi Zimbabwe mencapai ratusan ribu kali," kata Ketut.
 
Dengan kenaikan harga komoditas yang setinggi ini selain dipicu oleh ulah spekulan, maka ekonomi dunia tidak mendukung dan akhirnya melambat yang sebelumnya sudah terjadi keguncangan ekonomi di Amerika. Karena sudah tidak didukung oleh permintaan, maka tentu saja harga komoditas akan turun seiring dengan perlambatan permintaan, termasuk komoditas batu bara yang memang dominan sebagai pengganti minyak bumi.
 
Walaupun demikian permintaan batu bara tidak langsung turun begitu saja, justru batu bara lagi naik daun sebagai alternativ energi pengganti minyak untuk konsumsi pembangkit listrik. Rencana pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW menjadi contoh bahwa permintaan terhadap batu bara masih besar. Khususnya karena demand energi listrik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia  yang masih akan tinggi.
 
"Batu bara untuk kebutuhan domestik menjadi kemungkinan yang sudah pasti. Ini yang mestinya investor patut cermati," kata Ketut.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • IHSG mengekor bursa regional
  • Investor di Wall Street menahan diri
  • Suspensi saham BNBR dan Energi Mega dicabut
  • IHSG dan rupiah pagi ini terkoreksi seiring pasar Asia

Komentar

Beri Komentar