Bisnis Indonesia Online
Kamis, 21/08/2008 09:18 WIB
Bali Securities: Indosat & Barito patut dikoleksi
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Di tengah kembali naiknya harga minyak mentah, analis merekomendasikan untuk beli saham Barito Pacific (BRPT) dan Indosat (ISAT).
Riset analis PT Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan saham Barito pacific (BRPT) sudah murah sehingga patut dikoleksi, namun dalam jangka pendek berpotensi bearish (terkoreksi). Begitu juga dengan saham Indosat (ISAT).
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana membeli 51% saham PT Star Energy tahun ini senilai Rp5,1 triliun (US$555 juta). Perseroan berencana menambah bisnisnya pada sektor minyak dan gas sehingga memutuskan mengakuisisi perusahaan itu.
Rencana akuisisi ini merupakan yang kedua bagi Barito dalam setahun ini setelah perseroan membeli 76% saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) pada Juni. Barito yang berkantor pusat di Jakarta dengan operasional perkayuannya di Kalimantan, mulai memasuki industri petrokimia dengan mengakuisisi PT Chandra Asri pada Desember tahun lalu.
Setelah kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) mendapat angin segar dengan kenaikan harga minyak menjadi US$115 per barel, indeks menguat 27 poin atau 1,33% ke level 2.069,70. Kenaikan ini hanya dipicu oleh kenaikan harga minyak dan pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Selain itu sentimen positif dari saham-saham China yang naik signifikan karena spekulasi pemerintah akan memperkenalkan aturan baru untuk mendukung bursa.
Faktor dalam negeri juga turut mengangkat IHSG kemarin, seperti jumlah surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah tahun ini mencapai Rp117 triuliun, dan rencana penerbitan SUN tahun depan sebesar Rp110 triliun, atau turun Rp7 triliun. Pembayaran bunga utang pemerintah diproyeksi mencapai Rp109,3 triliun pada 2009.
Indeks kemarin didorong oleh beberapa saham di berbagai sektor. Sektor pertambangan dan perkebunan sendiri naik 3% dan 1%. Kenaikan ini belum signifikan dibandingkan dengan penurunan yang terjadi selama beberapa hari.
Ketut menambahkan indikasi yang masih bersifat sementara ini juga terlihat dari belum pulihnya kepercayaan investor akan pasar saham. Investor asing terlihat masih belum sepenuhnya percaya pada arah pasar saham ke depan dan lebih banyak wait and see. Selain itu investor hanya bertransaksi pada beberapa saham. Ini mengindikasikan investor sangat selektif masuk ke saham tertentu saja. Memang investor hanya sedikit mempunyai pilihan saham yang kira-kira aman dan mendapat sentimen positif di dalam jangka pendek.
Indeks dalam jangka pendek masih dalam kategori bearish karena pengaruh sentimen global akan perkembangan masalah ekonomi Amerika. Sementara itu harga minyak belum dapat dipastikan akan turun dalam waktu dekat. Masih ada ruang harga minyak berada pada level di atas US$100 karena pembatasan produksi OPEC, di samping kemungkinan stimulus pemerintah China untuk menggerakkan ekonominya berhasil dengan baik.
"IHSG diprediksikan belum pulih karena sentimen negatif dari luar negeri, sementara itu laporan ekonomi Amerika masih diprediksi menuju ke resesi dalam waktu dekat," tutur Ketut.
Kondisi ekonomi saat ini dikatakan oleh para ekonom akibat kebijakan pemotongan suku bunga tajam yang terburu-buru. Penguatan indeks kemarin belum dapat dikatakan menjadi indikasi kegairahan investor, baik domestik maupun asing pada bursa saham Indonesia, namun lebih disebabkan oleh momentum koreksi terhadap penurunan tajam beberapa hari kemarin yang membuat investor merasa beberapa saham sudah mengalami penurunan tajam, sehingga memutuskan membeli untuk dipertahankan dalam jangka menengah.(er)
bisnis.com
Berita Lain
- BI rate turun 0,25%, IHSG ditutup naik 12 poin
- IHSG siang tertolong saham bank, rupiah menguat
- Saham bank angkat IHSG pagi +15 poin
- Bursa batasi trading limit Antaboga hingga 50%
- 'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'