Bisnis Indonesia Online
Jumat, 05/09/2008 16:33 WIB
Kehabisan sentimen positif, IHSG anjlok 52 poin
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) penutupan akhir pekan ini merosot 52,67 poin atau 2,54% menjadi 2.022,56 dengan 170 saham turun harga.
Penurunan terbesar terjadi pada saham sektor tambang terjungkal 78 poin disusul pertanian 58 poin, industri dasar minus 9 poin dan finansial 6 poin.
Hanya 18 saham yang mencatat kenaikan harga, 170 turun dan 54 tidak berubah. Nilai transaksi sore ini sebesar Rp3,058 triliun dengan volume transaksi 1,704 miliar kali.
Astra Agro Lestari (AALI) tercatat sebagai saham top loser hari ini yakni terpuruk 700 menjadi 16.100, Astra International (ASII) terjungkal 500 menjadi Rp20.000, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) terjungkal 450 menjadi Rp11.750, Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) terpuruk 420 menjadi Rp1.320, dan United Tractors (UNTR) minus 350 menjadi Rp9.750.
Saham-saham perbankan juga tergerus, dpimpin Bank Rakyat Indonesia (BBRI) terjungkal 500 menjadi Rp5.800, Bank Danamon (BDMN) minus 150 menjadi Rp5.150, Bank Mandiri (BMRI) terjungkal 75 menjadi Rp2.725 sedangkan Bank Central Asia (BBCA) tidak berubah pada Rp3.250.
Namun saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) mampu mencatat top gainer yakni naik 250 menjadi Rp24.900, Telkom (TLKM) naik 50 menjadi Rp7.600, dan Global Mediacom (BMTR) naik 5 menjadi Rp400.
Saham-saham di pasar regional dan dunia juga terpuruk dipimpin Hang Seng Indeks Hong Kong terjungkal 456 poin hingga menjadi 19.933, Nikkei 225 Jepang terhempas 345 poin menjadi 12.212, DJIA New York terjungkal 344 poin, Nasdaq minus 74 poin, FTSE Ingrris minus 76 poin, KLCI Kuala Lumpur minus 14 poin dan Strait Times Singapura minus 57 poin.
Head of Research PT Paramitra Alfa Securities Pardomuan Sihombing mengatakan longsornya indeks hari ini karena harga minyak mentah dunia yang juga terkoreksi tajam, kenaikan suku bunga yang menjadi tanda-tanda naiknya laju inflasi.
Dia menambahkan kalau Dow Jones AS nanti malam kembali jeblok, IHSG berpotensi terhempas hingga level 1.860 pada bulan ini. "Namun setelah mencapai level tersebut, nanti akan membal lagi keatas. Investor yang ingin investasi 3-5 tahun kedepan, sekaranglah waktu yang tepat," kata Pardomuan.
Riset analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan bursa saham dalam negeri kehilangan sentimen pada saat pasar sudah mengantisipasi kenaikan 25 basis poin BI rate menjadi 9,25%.
Volume transaksi investor asing masih kecil seperti hari-hari sebelumnya. Sedangkan volume transaksi investor domestik tidak banyak berubah. Transaksi yang terjadi kebanyakan di sektor pertambangan dan perkebunan. Ini adalah indikasi bahwa sektor perkebunan dan pertambangan masih terkonsolidasi akibat gejolak harga minyak.
Sementara itu sektor lain tidak banyak bergejolak kemungkinan karena saham-saham tersebut sudah mencapai bottom atau sudah terkoreksi jauh sehingga investor lebih baik bersifat menunggu.
Efek penurunan harga minyak ini dapat disamakan dengan kondisi pertengahan bulan Juli pada saat penurunan tajam harga minyak dari puncaknya US$147 per barel pada 11 Juli 2008. Saat itu indeks pertambangan dan perkebunan turun tajam menyeret semua saham.
Namun setelah terkonsolidasi selama beberapa hari indeks naik lagi didorong oleh saham-saham sektor finance dan sektor lainnya. Saham naik pada saat harga minyak turun, namun setelah melewati masa konsolidasi.
Indeks sektoral diharapkan terkonsolidasi dulu setelah gejolak harga minyak sedikit mereda dan efek kenaikan BI rate.
Kemungkinan indeks akan naik kembali pertengahan minggu depan pada saat investor domestik menemukan volatilitas harga saham terjaga. Pada saat ini diharapkan harga minyak tidak turun tajam lagi karena ada indikasi OPEC tidak menurunkan output produksinya dan tetap menjaga supplai.
Jika hal tersebut terjadi maka sektor diluar perkebunan dan pertambangan akan mengalami kenaikan tajam. Kenaikan sektor-sektor tersebut pada periode 18/8/2008-29/8/2008 dapat dijadikan referensi.
Setelah konsolidasi akibat penurunan tajam harga minyak waktu itu, sektor finance naik 9%, sektor property naik 7%, sektor infrastruktur naik 10%, sektor consumer naik 8% dan sektor manufaktur naik 8%. Dengan demikian dengan mengikuti asumsi harga minyak tinggi menekan industri lain, maka jika harga minyak turun industri-industri ini mengalami kenaikan saham-saham kira-kira 7-10%.
bisnis.com
Berita Lain
- BI rate turun 0,25%, IHSG ditutup naik 12 poin
- IHSG siang tertolong saham bank, rupiah menguat
- Saham bank angkat IHSG pagi +15 poin
- Bursa batasi trading limit Antaboga hingga 50%
- 'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'