Bisnis Indonesia Online
Senin, 08/09/2008 09:04 WIB
Bali Securities: Lirik saham berorientasi domestik
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Investor dianjurkan untuk masuk ke saham yang berorientasi ke pasar domestik karena masih berkembang. Harga saham ini kemungkinan tidak akan mengalami tekanan karena harga produk dan permintaannya dari dalam negeri tidak turun.
"Investor dianjurkan masuk ke saham-saham ini selain untuk mengurangi eksposure sentimen dari luar negeri, juga karena saham ini sudah menjadi sangat murah dan akan rebound mendahului saham lain setelah sentimen global mereda," kata Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna, hari ini.
Seperti direkomendasikan dalam investment guide sebelumnya, investor dianjurkan untuk menghindari volatilitas karena penurunan harga minyak kemarin dan selalu menjaga emosi. Hal ini penting karena penurunan saham ini lebih dikarenakan oleh faktor luar negeri, bukan oleh faktor internal dalam negeri.
Indeks harga saham gabungam (IHSG) masih diprediksi turun sebelum sentimen negatif bursa global dan regional mereda. Indeks sektoral secara umum masih ditentukan oleh indeks sektoral di luar negeri. Indeks sektoral ini dapat menguat tergantung dari volatilitas harga minyak yang menentukan nilai tukar mata uang dunia secara umum.
IHSG sempat turun 3% pada Jumat lalu, dan akhirnya ditutup pada level 2.022,56 melemah 52,67 poin (-2,54%). Indeks mengalami tekanan jual yang sangat kuat sehingga hampir tidak ada saham yang mengalami kenaikan.
Indeks mengalami tekanan jual pada saat penguatan dolar AS terjadi dan investor asing lebih memilih menjual saham Indonesia dan masuk ke mata uang AS itu. Hal ini dapat diketahui juga dari volume jual saham investor asing lebih besar dari volume belinya.
Rupiah pada akhir pekan juga turun tajam dan ditutup pada Rp9.329 per dolar AS bahkan sempat menyentuh Rp9.382, level terendah sejak 24 Januari yang saat itu menyentuh Rp9.380. Gubernur BI Boediono mengatakan pelemahan kurs ini merupakan gejala global oleh karena penguatan dolar AS yang menekan hampir semua mata uang dunia.
Kekhawatiran tentang perekonomian global minggu lalu memukul indeks pasar modal global. Indikator ekonomi negara maju tidak bertambah baik. Ekonomi Eropa, AS, dan Jepang mengalami kemunduran yang cukup serius sehingga membuat pasar modal di hampir semua negara anjlok.
Indikator ekonomi AS yang baru saja dikeluarkan, membuat anjloknya indeks utama Dow Jones turun 2,8%, S&P500 turun 3,2% dan Nasdaq turun 4,7% minggu kemarin. Bubble komoditas diisyaratkan sudah pecah, namun demikian hal ini malah akan meredam ancaman inflasi di negara-negara maju.
Ancaman inflasi mengendur sebagai akibat langsung dari penurunan harga minyak dunia dan komoditas lain. Khusus di AS, hal ini memberikan ruang bagi sektor seperti finansial untuk tumbuh mendahului sektor lain. "Namun demikian hampir semua analisis memberikan gambaran bahwa kita masih mengalami bear market yang belum dapat diketahui sampai kapan berakhir," tutur Ketut.(yn)
bisnis.com
Berita Lain
- BI rate turun 0,25%, IHSG ditutup naik 12 poin
- IHSG siang tertolong saham bank, rupiah menguat
- Saham bank angkat IHSG pagi +15 poin
- Bursa batasi trading limit Antaboga hingga 50%
- 'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'