Bisnis Indonesia Online
Senin, 06/10/2008 09:43 WIB
IHSG dibuka terjungkal 4,20% terseret komoditas
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pagi ini dibuka anjlok 4,20% atau -76,99 poin menjadi 1.755,51 pada pukul 9:31 WIB, terseret saham komoditas.
Anjloknya indeks pada awal pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia setelah libur Lebaran dalam sepekan ini disebabkan anjloknya indeks saham regional dan global. Indeks Nikkei 225 Jepang pagi ini terhempas 393 poin, hingga terendah sejak Oktober 2004, Hang Seng Hong Kong terjungkal 486 poin, Strait Times minus 66 poin, KLCI Kuala Lumpur turun 8 poin, Dow Jones AS terhempas 157 poin, dan Nasdaq minus 29 poin.
Saham sektor komoditas khususnya pertanian terhempas paling besar yakni minus 9,08% disusul tambang minus 8,14%, infrastruktur minus 6,99%, finansial hanya terkoreksi 2,70%. Hanya sektor konsumer yang mencatatkan kenaikan 0,13%.
Top losers dicatat saham Astra Agro Lestari (AALI) terjungkal 15,05% menjadi Rp11.000, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) minus 12,29% menjadi Rp8.200, Astra International (ASSI) minus 6,43% menjadi Rp16.000, United Tractors (UNTR) terjungkal 10,58% menjadi Rp8.450, London Sumatera (LSIP) terhempas 17,70% menjadi Rp2.925 dan Bumi Resources (BUMI) minus 13,28 menjadi Rp2.775.
Saham Bank International Indonesia (BNII) langsung melejit 53,22% menjadi Rp475 setelah pengehentian sementara (suspensi) saham ini sejak Senin, 29 September, dibuka kembali pada perdagangan pagi ini ketika akusisi saham oleh Malayan Banking Berhard tuntas dengan harga tanpa diskon Rp510 per lembar sahamnya membuat investor optimistis.
Saham BNII menjadi top gainers bersama saham Gudang Garam (GGRM) yang turun 1,69% menjadi Rp6.000.
Riset analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan investor di dalam negeri hendaknya tetap memperhatikan volatilitas harga saham yang masih akan tinggi sementara ini dan mengawasi capital inflow dari investor asing. Investor juga harus mencermati sentimen yang berlaku di bursa Hong Kong dan Shanghai karena dua bursa ini mencerminkan sentimen global terhadap pasar emerging countries dan sentimen terhadap sektor finansial Asia.
Perlambatan permintaan terhadap komoditas masih terjadi untuk beberapa waktu ke depan selain karena trend penguatan dollar AS. Investor masih boleh berharap pada sektor konsumer dan beberapa BUMN sebagai antisipasi bullish pada saham-saham ini. Selain itu investor juga dapat mengharapkan sentimen positif short term karena pengumuman laporan keuangan dari masing-masing emiten.
Harga minyak mentah untuk kontrak November pagi ini terkoreksi US$1,86 menjadi US$92,02 per barel. Bailout pemerintah AS terhadap institusi keuangan meski sudah disetujui DPR, masih direspon negatif investor global karena dinilai tidak akan dapat menyelamatkan perekonomian dari ancaman resesi. Bahkan Eropa mulai terjangkit resesi ini.
bisnis.com
Berita Lain
- BI rate turun 0,25%, IHSG ditutup naik 12 poin
- IHSG siang tertolong saham bank, rupiah menguat
- Saham bank angkat IHSG pagi +15 poin
- Bursa batasi trading limit Antaboga hingga 50%
- 'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'