Bisnis Indonesia Online


Selasa, 07/10/2008 09:04 WIB

Bali Sec: Koleksi saham berorientasi lokal

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Investor lebih baik mengkoleksi saham-saham yang berorientasi ke pasar domestik. Hal ini juga dilakukan oleh investor asing yang mulai mengkoleksi dengan kriteria ini seperti UNVR atau PGAS.

Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakansSaham-saham berorientasi domestik ini direkomendasi 'buy on weakness' karena bisa saja akan turun mengikuti sentimen negatif regional. Investor asing kemarin masih seimbang antara transaksi buy dan sell sehingga mengisyaratkan masih adanya sentimen positif pada bursa saham domestik.

Sementara saham-saham di sektor komoditas menjadi sektor yang akan mengalami penurunan lagi karena masing-masing berorientasi ekspor selain perlambatan permintaan komoditas dan trend penguatan nilai dolar AS.

Menurut Ketut, indeks saham Amerika Serikat dan Eropa masih diprediksi turun, demikian juga indeks Asia. Investor dianjurkan untuk tenang dan menghindari saham-saham yang berorientasi ekspor karena dipastikan perlambatan ekonomi negara maju.

Dia menambahkan pasar modal Amerika Serikat masih akan bergejolak sementara investor asing menunggu langkah-langkah lanjutan Federal Reserve untuk menstabilkan pasar keuangan, pasar kredit dan pasar modal disana. Investor masih mencermati pasar saham global yang masih bergejolak dan menunggu tindakan lanjutan dari pemerintah negara maju untuk mendukung stabilisasi pasar modal.

Pemerintah Eropa sedang mengkaji pembeliaan saham-saham perbankan yang bermasalah. Sementara pasar mengharapkan pemotongan suku bunga lagi. Pemerintah Amerika juga akan mendukung upaya-upaya lanjutan setelah bailout disahkan. Investor secara umum menilai harga saham sudah sangat murah khususnya saham-saham emerging countries yang memang ekonominya masih bisa tumbuh positif.

Saham-saham di bursa Shanghai secara khusus sangat murah setelah indeks saham turun ytd 60%. Dengan harga saham yang sudah turun jauh, investor masih melihat masih ada nilai yang tinggi. Hal tersebut juga berlaku di saham-saham dalam negeri.

Banyak saham-saham yang mempunyai fundamental bagus selain didukung oleh kondisi makro ekonomi yang relatif baik. Justru kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari kondisi ekonomi sewaktu krisis keuangan di tahun 1998. Investor masih bisa berharap adanya decoupling setelah kepastian Eropa dan Amerika menurun kondisi ekonominya sementara Asia masih bisa tumbuh walaupun melambat.

Investor masih menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke pasar ini dimana stabilisasi harga saham lebih terjaga dan efek program pemulihan disektor keuangan terjadi.
Investor direkomendasikan untuk tetap mencermati sentimen negatif global yang masih
kental.

Bursa saham Indonesia kemarin mengalami tekanan yang besar setelah tutup selama seminggu. Indeks ditutup melemah 183 point ke level 1.648 (-10,03%). Indeks mendapat tekanan yang lebih dalam lagi setelah pengumuman tingkat inflasi bulan September yang mencapai 0,97%. Namun demikian isu utama dari penurunan indeks ini adalah sentimen negatif global dan regional akibat krisis financial yang mulai mengancam ekonomi negara-negara maju.

Indeks Asia hampir semuanya turun tajam kemarin diatas 4%. Indeks Shanghai turun 5,23%, Hang Seng turun 4,97%, Nikkei turun 4,25%, STI turun 5,61%. Sementara semalam indeks Dow Jones turun 369 (-3,58%) dan FTSE 100 London turun 281 (-5,77%).

Pasar saham negara-negara maju mendapat tekanan yang sangat besar akibat krisis di sektor perbankan dan financial. Krisis ini mengancam fundamental ekonomi negara-negara maju. Ekonomi Amerika menuju resisi, pengangguran meningkat, perbankan kesulitan likuiditas dan memerlukan waktu agar program bail out membuahkan hasil, sementara perusahaan-perusahaan diprediksi akan membukukan penurunan laba.

Ekonomi Eropa menuju resisi, perbankan Eropa mendapatkan dirinya pada posisi yang sama dengan perbankan Amerika sehingga dikhawatirkan mengancam pasar kredit disana. Hal ini menyebabkan pemerintah Eropa berencana melakukan bailout untuk menyelamatkan bank-bank disana. Saham-saham di bursa saham global turun walaupun saham-saham tersebut sudah sangat murah dibandingkan valuasinya sebagai cerminan ketakutan investor terhadap kemungkinan krisis keuangan akan pulih dalam waktu yang lama.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Belanja online gairahkan Wall Street
  • IHSG bergerak terbatas tunggu hasil rapat BI
  • Saham di Wall Street dan Eropa akan pulih 2009
  • Saham Bumi tahan laju IHSG sore yang naik 1 poin

Komentar

Beri Komentar