Bisnis Indonesia Online
Selasa, 07/10/2008 16:30 WIB
IHSG masih tertekan, rupiah menguat 25 poin
oleh : Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) sore ditutup turun 1,76% atau 29,02 poin menjadi 1.619,72 terseret saham tambang dan aneka industri sedangkan rupiah menguat 25 poin menjadi Rp9.560 per dolar AS.
Hanya sektor konsumer dan properti mencatat kenaikan harga masing-masing 0,3% dan 0,02%, sedangkan sektor tambang terkoreksi terbesar yakni minus 5,06% disusul aneka industri 2,56%, dan pertanian -1,87% serta finansial -1,45%.
Top losers hari ini dicatat saham Indo Tambangraya Megah (ITMG) terkoreksi 8,67% menjadi Rp15.800, BATI terhempas 23,40% menjadi Rp3.600, Astra International (ASII) minus 3,03% menjadi Rp6.150, Indosat (ISAT) minus 6,36% menjadi Rp5.150, Medco Energi (MEDC) minus 9,16% menjadi Rp2.725 dan Bayan Resources (BYAN) terjungkal 17,24% menjadi Rp1.200.
Namun saham tambang lainnya seperti Aneka Tambang (ANTM) mampu mencatat kenaikan harga yakni 9,43% menjadi Rp1.160, Timah (TINS) naik 12,28% menjadi Rp1.280.
Pelemahan IHSG hari ini tidak terlalu besar seperti kemarin yang terjungkal 10,03% yang dipicu kemelut sektor finansial di pasar global . Hari ini pelaku pasar domestik menyambut implementasi langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia dalam upaya untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan global ini bagi Indonesia salah satunya kenaikan BI rate sebesar 0,25% menjadi 9,5%.
Pasar saham di regional juga muilai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dipicu aksi bank sentral Australia memangkas suku bunga 1% menjadi 6% hari ini. Indeks Strait Times Singapura naik 11 poin, KLCCI Kuala Lumpur rebound 0,39 poin, sedangkan Nikkei 225 Jepang masih turun 317 poin namun sudah tidak berada di bawah level 10.000 lagi yakni menjadi 10.155.
bisnis.com
Berita Lain
- BI rate turun 0,25%, IHSG ditutup naik 12 poin
- IHSG siang tertolong saham bank, rupiah menguat
- Saham bank angkat IHSG pagi +15 poin
- Bursa batasi trading limit Antaboga hingga 50%
- 'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'