Bisnis Indonesia Online


Rabu, 08/10/2008 08:41 WIB

Bali Sec: Lirik konsumsi, BUMN, utilitas dan bank

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Investor dianjurkan untuk tetap mengambil arahan investasi dalam jangka menengah dan panjang pada sektor konsumsi (UNVR, INDF), saham BUMN (TINS), Utilitas (PGAS, JSMR) dan Banking (BBCA, BBRI).

Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan investor diharapkan tetap tenang karena sebenarnya saham-saham Indonesia masih memiliki nilai yang tinggi terlepas harga saham sekarang ini. Justru kondisi ini memberikan peluang beli bagi investor dengan horizon investasi menengah dan panjang.

Indeks masih kehilangan sentimen positif karena ketakutan investor akan gejolak pasar saham global. Namun demikian jika dilihat bagaimana sentimen investor asing pada saat indeks harga saham gabungan (IHSG) turun tajam yang justru pada saat itu mereka banyak melakukan pembelian maka investor asing tampaknya tetap melihat saham-saham masih menarik.

Investor asing membukukan transaksi beli Rp1,2 triliun dan net buy Rp244 miliar dan termasuk besar disaat kondisi seperti ini. Hal ini memberikan isyarat bahwa saham-saham sudah murah dan investor asing masih yakin dengan fundamental saham dan fundamental ekonomi di dalam negeri.

Indeks Amerika, Eropa dan Asia masih akan bergejolak sebelum usaha pemulihan pasar kredit. Memang ini memerlukan waktu yang cukup
panjang, namun indikasi ke arah pemulihan sudah tampak. Hal ini tampak dari usaha bank central negara-negara maju yang mempunyai likuiditas melakukan intervensi ke pasar dan membantu korporasi membenahi balance sheet dan menghapus bad credit dan memberikan fresh fund ke perbankan sehingga likuiditas kembali normal.

Pada perdagangan kemarin IHSG ditutup melemah, turun 29 poin ke level 1.619 (-1,7,9%). Indeks tidak turun tajam seperti dua hari lalu setelah perdagangan saham-saham kelompok Bakrie seperti
BUMI, BNBR, ENRG, UNSP, BTEL dan ELTY diberhentikan sementara kemarin. BI rate kemarin dinaikan 0,25% menjadi 9,5%. Hal ini mendorong penguatan rupiah yang sempat mencapai 9.795 ke level Rp. 9.590.

Kemarin investor sempat sedikit lega sewaktu Indeks IHSG tidak turun tajam lagi seperti dua hari ini. Indeks hanya turun tipis pada pagi dan siang hari kemarin, turun hanya 1–5 poin. IHSG mendapat angin segar setelah beberapa saham sedikit mengalami kenaikan walaupun tidak banyak.

Berkurangnya tekanan jual juga dialami oleh Indeks regional pada pagi dan siang kemarin karena optimisme oleh penurunan suku bunga Australia, namun akhirnya Indeks Asia ditutup mix. Sementara itu indeks Dow turun sampai 5% kemarin malam.

Indeks kemarin sempat didominasi oleh kenaikan saham-saham BUMN. Pada penutupan perdagangan saham-saham BUMN naik (ANTM (+100), ADHI (+5), TINS (+140), TLKM (+50), JSMR (+10), dan BBNI (+20). Saham-saham BUMN lain juga sempat naik seperti PTBA, BMRI, namun akhirnya ditutup tetap atau turun.

Investor asing dari pagi setelah pembukaan bursa telah melakukan net buy sampai sore hari bursa tutup. Saham-saham yang lebih banyak dikumpulkan oleh investor asing ini adalah BNII, TLKM, BRPT, SMCB, PGAS dan BMRI.

Indeks Australia sempat turun tajam namun akhirnya berbalik arah menuju ke level positif setelah bank sentral menurunkan suku bunga 100 basis poin atau 1% menjadi 6% yang sebelumnya 7%. Hal-hal tersebut menyebabkan ada sedikit optimisme bahwa bank sentral lainnya juga akan menyusul menurunkan suku bunga masing-masing sehingga menyebabkan indeks Dow Jones Future naik.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Belanja online gairahkan Wall Street
  • IHSG bergerak terbatas tunggu hasil rapat BI
  • Saham di Wall Street dan Eropa akan pulih 2009
  • Saham Bumi tahan laju IHSG sore yang naik 1 poin

Komentar

Beri Komentar