Bisnis Indonesia Online


Selasa, 18/11/2008 10:31 WIB

Suspensi saham BNBR dan Energi Mega dicabut

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): PT Bursa Efek Indonesia pagi ini membuka suspensi perdagangan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mulai sesi I hari ini.

Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Supandi mengatakan pencabutan penghentian sementara (suspensi) saham BNBR dan ENRG ini dilakukan untuk seluruh pasar setelah Bakrie & Brothers menyampaikan keterbukaan informasi mengenai rencana penjualan saham BNBR dan Energi Mega.

"Dengan mempertimbangkan adanya keterbukaan informasi ini, juga sebanyak 20 item pengumuman bursa yang terakhir pada 18 November, kami memutuskan untuk mencabut suspensi perdagangan saham BNBR dan ENRG," kata Supandi yang didampingi Kepala Divisi Pencatatan Sektor Jasa Umi Kalsum dalam pengumuman, hari ini.

Dia mengingatkan agar pihak-pihak yang berkepentingan selalu memperhatikan setiap keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha Bakrie.

Harga saham BNBR langsung terkoreksi Rp14 menjadi Rp131 pada pukul 10.05 WIB di BEI, sedangkan saham ENRG tidak berubah Rp350. Saham enam emiten grup Bakrie, termasuk BNBR dan ENRG disuspensi sejak 7 Oktober 2008 terkait masalah gadai saham. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dibuka suspensi sejak 3 November 2008.

Dalam keterbukaan informasinya kemarin, manajemen Bakrie & Brothers akhirnya menyatakan gagal bayar setelah tidak mampu membayar utang senilai Rp144,9 miliar kepada dua kreditornya yaitu PT Recapital Securities dan PT Aldira.

Utang Bakrie kepada Recapital, yang jatuh tempo pada Oktober 2008-September 2009, senilai Rp134,9 miliar, sedangkan pinjaman ke Aldira, yang jatuh tempo pada bulan ini, Rp10 miliar.

Utang ke Recapital itu, yang semula Rp189 miliar, dijamin dengan 116,67 juta saham Bakrie Sumatera Plantations dan 45,95 juta saham Bumi Resources. Pinjaman ke Aldira dijamin dengan 11,45 juta saham Bakrie Plantations.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Yuanita Rohali mengatakan gagal bayar itu karena perseroan tidak mampu menambah nilai jaminan (top-up) yang dipicu penurunan harga saham yang digadaikan. Selain dua kreditor itu, Bakrie masih berutang kepada tujuh lainnya a.l. Odickson Finance.

Perusahaan induk investasi milik keluarga Bakrie itu mempunyai utang US$1,39 miliar (setara dengan Rp16,56 triliun) dan Rp545,81 miliar.

Utang itu diperoleh dengan menjaminkan 5,13 miliar saham Bumi, 4,76 miliar saham PT Energi Mega Persada Tbk, 3,80 miliar saham PT Bakrieland Development Tbk, dan 394,96 juta saham Bakrie Plantations. Rasio kolateral terhadap utang itu 1,5-3 kali.

Pinjaman dan repo dengan jaminan saham Bumi kini default karena nilai kolateral anjlok di bawah syarat yang ditetapkan akibat rontoknya saham Bumi setelah pencabutan suspensi. Harga Bumi kemarin jatuh 9,48% ke Rp1.050.

Yuanita menjelaskan Bakrie & Brothers membayar US$118,7 juta dari total US$1,08 miliar utang kepada Odickson. Untuk mengatasi masalah gagal bayar itu, Bakrie & Brothers bernegosiasi utang dengan kreditornya.

Dalam riset UBS Investment Research yang dirilis pada 9 Oktober disebutkan apabila kreditor merestrukturisasi utang Bakrie, prosesnya akan panjang. Bakrie memerlukan enam tahun untuk merestrukturisasi utang US$1,1 miliar saat krisis 1998.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities, mengatakan dengan gagal bayar itu, kreditor akan lebih berhati-hati mengucurkan utang ke Bakrie.

Bakrie mempunyai utang ke Mandiri Sekuritas, Sarijaya Securities, dan Dinar Sekuritas yang jatuh tempo bulan depan. "Bakrie sebaiknya segera bernegosiasi dengan tiga kreditor itu. Lebih cepat lebih baik," ujarnya.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Saham Eropa melemah setelah rally 6 hari
  • S&P/ASX 200 menyelam 2,5% ke 3.685,10
  • Penurunan minyak tekan Wall Street
  • Pemodal waspadai profit taking lanjutan

Komentar

Beri Komentar