Bisnis Indonesia Online


Kamis, 04/12/2008 09:28 WIB

'Buy on weakness INCO, BYAN, BMRI dan DVLA'

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Dengan sentimen yang beredar pagi ini, IHSG perkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Sejumlah saham direkomendasikan beli saat harga murah (buy on weakness) yakni INCO, BYAN, BMRI dan DVLA.

Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan IHSG akan bergerak dengan titik support 1186-1179 dan titik resistance pada level 1202-1212.

Pardomuan merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham karena aksi korporasi yang berpotensi mengangkat harga.

Biomedis, Medichem Pharmaceuticals, Pediatrica, Therapharma, Unam Brands, United American Pharmaceutical, dan Westmont Pharmaceutical telah diakuisisi lisensinya oleh PT Darya Varia Tbk (DVLA). Dengan akuisisi lisensi produk baru ini perseroan memperkirakan penjualan akan meningkat 50% pada 2009. Akuisisi lisensi dengan 7 perusahaan tersebut diharapakan bisa meningkatkan market shares yang saat ini hanya menguasai 3% dan menempati urutan 17 di Indonesia.

PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco) akan membangun fasilitas pengolahan pelindian dengan tekanan tinggi (high pressure acid leach/HPAL) di Pomalaa untuk menghasilkan , sebagai produk antara dengan kapasitas produksi tahunan sekitar 30.000 metrik ton. Perseroan juga sedang mempelajari pilihan untuk membangun fasilitas pabrik pemurnian di Bahodopi dengan kapasitas sekitar 30.000 metrik ton per tahun untuk mengolah nikel hidroksida yang dihasilkan di Pomalaa.

Di Bahodopi, Perseroan juga merencanakan untuk menambang bijih nikel saprolitik. Bijih nikel dari Bahodopi ini kemudian akan dicampur dengan bijih nikel dari daerah Sorowako sebagai pasokan bahan baku untuk pabrik pengolahan pyrometallurgical yang telah ada saat ini di Sorowako.

Perseroan akan melaporkan kepada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM) berkenaan dengan kajian kelayakan secara ekonomis dan teknis atas pembangunan fasilitas-fasilitas pengolahan di Pomalaa dan Bahodopi selambat-lambatnya April 2009. Proyek-proyek ini diharapkan dapat diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun dengan catatan seluruh izin-izin yang diperlukan dapat diperoleh tepat waktu.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) akhirnya menyelesaikan penelaahan terhadap laporan keuangan kuartal III-2008. Hasilnya, laba bersih perseroan hanya Rp31,84 miliar atau turun drastis 85,1% dibandingkan kuartal III-2007 sebesar Rp214,06 miliar. Laba usaha produsen batubara terbesar kedelapan di Tanah Air itu juga turun dari Rp376,36 miliar menjadi Rp130,03 miliar atau sebesar 65,4%. Penurunan tersebut akibat meningkatnya beban usaha sebesar 41,7% menjadi Rp516,27 miliar dari sebelumnya Rp364,12 miliar.

Meski Bayan Resources membukukan pendapatan pada kuartal III-2008 sebesar Rp3,41 triliun atau naik 30,6%, laba kotor perseroan tetap tergerus dari Rp740,49 miliar menjadi Rp646,3 miliar. Hal itu disebabkan meningkatnya biaya pendapatan sebesar 48,1% menjadi Rp2,77 triliun. Penurunan laba perseroan juga karena penurunan produksi batu bara dan volume penjualan. Total produksi batu bara perseroan hingga akhir 2008 di bawah target yang sebelumnya ditetapkan sebanyak sembilan juta ton. Begitu juga dengan volume penjualan yang kurang dari target sebesar 9,9 juta ton. Sementara itu, Bayan Resources terpaksa menunda rencana akuisisi tambang batu bara yang ditargetkan tahun ini.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tahun depan akan mengakuisisi sebuah perusahaan asuransi umum. Saat ini perseroan baru melakukan proses due dilligence dengan perusahaan asuransi tersebut. dengan asuransi ini, sinergi bisnis Bank Mandiri dibidang kredit akan semakin kuat. awal 2009, hal itu bisa direalisasikan, dan sekarang proses due dilligence-nya sedang  dilaksanakan.

Pada sesi perdagangan kemarin indeks ditutup menguat tipis 0,098% (1,168 poin) karena minimnya sentimen dari dalam negeri. Sementara tekanan jual pada saham Bumi Resources memberikan tekanan cukup dalam ke IHSG. Pardomuan menambahkan, investor cenderung wait and see dan hanya melakukan trading. Hal ini tercermin dengan IHSG yang hanya bergerak pada range terbatas serta nilai transaksi yang di bawah Rp1 triliun.

Pasar yang sepi transaksi juga dikarenakan karena investor menunggu kebijakan BI untuk menurunkan tingkat suku bunga. Sementara indeks Dow ditutup menguat 2,05%(172,60 poin) akibat dari sentimen positif kenaikan pada aplikasi Kredit Pemilikan Rumah yang merupakan penguatan tertinggi dalam seminggu yakni 112% seiring dengan usaha pemerintah untuk membeli mortgage-backed securities serta menurunkan tingkat suku bunga, meski data ekonomi yang dirilis masih menunjukkan pelemahan.

Pagi ini Nikkei dibuka menguat karena sentimen positif dari bursa AS, dan update terakhir Nikkei pada posisi menguat 0,23% (18,16 poin)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Penurunan minyak tekan Wall Street
  • Pemodal waspadai profit taking lanjutan
  • 'Jual saham: AALI, LSIP, SGRO, BBCA, BBRI, dan ISAT'
  • APEI dukung pengunduran revisi MKBD

Komentar

Beri Komentar