Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 26/03/2008
Bank pilih pinjaman bilateral
JAKARTA: Perbankan mengalihkan rencana penerbitan obligasi valas menjadi pinjaman bilateral menyusul situasi pasar keuangan global yang tidak menentu. Hingga kemarin, sejumlah bank mengajukan izin pinjaman ke Bank Indonesia senilai US$5,37 miliar (sekitar Rp49,4 triliun).
Pinjaman valas itu didominasi oleh bank BUMN yang mencapai US$2,14 miliar, bank asing dan campuran sebesar US$1,72 miliar, dan bank swasta nasional senilai US$1,51 miliar.
Rencana itu diterapkan kalangan perbankan nasional setelah opsi penerbitan obligasi valas terganjal oleh ketidakpastian pasar finansial global. Padahal, kebutuhan mata uang asing diperlukan untuk menutupi utang yang jatuh tempo atau membiayai ekspansi usaha.
Deputi Direktur Internasional BI Dian Ediana Rae mengatakan kondisi perekonomian dunia yang gonjang-ganjing membuat kalangan perbankan nasional berpikir ulang untuk menerbitkan obligasi.
"Ketidakpastian pasar [finansial global] membuat perbankan ragu menerbitkan obligasi valas, karena yield [imbal hasil] belum bisa dilihat, sehingga dikhawatirkan cost of operation menjadi mahal," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya, sejumlah bank nasional-terdiri dari tiga bank BUMN dan dua bank swasta-telah memohon izin untuk menjual obligasi valuta asing senilai US$1,3 miliar.
Dari pengajuan pinjaman obligasi sebesar itu, menurut Dian, bank sentral baru mengizinkan sekitar US$500 juta. Namun, hingga saat ini belum ada rencana dari pihak terkait untuk merealisasikan rencana itu.
Dian menjelaskan kebutuhan dana berdenominasi valas biasanya muncul pada semester kedua untuk ekspansi usaha dan refinancing (menutupi utang). Namun, dia mengingatkan perbankan agar tetap berhati-hati apabila ingin merealisasikan langkah tersebut pada semester kedua.
"Kami minta perbankan agar tetap mengantisipasinya, dilihat saja perkembangan likuiditas pasar konvensional atau syariah."
Menurut dia, muara ketidaknyamanan pasar tersebut berawal dari krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang diiringi oleh kenaikan harga berbagai komoditas. Dampak tersebut memicu Federal Reserve menyesuaikan suku bunga untuk menekan laju inflasi.
"Kalau dilihat mungkin muaranya dari sana [krisis subprime mortgage], dan juga dampak harga minyak dunia serta perubahan kebijakan The Fed. Jadi, bank khawatir terjadi collaps."
Total rencana pinjaman bilateral perbankan domestik tahun ini meningkat cukup tajam dibandingkan dengan 2007 yang sekitar US$1,96 miliar. Realisasi pinjaman bank tahun lalu senilai Rp14,3 triliun, baik valas maupun rupiah.
Dian mengatakan sepanjang 2007 tidak ada pengajuan rencana penerbitan obligasi valas dari kalangan perbankan. Namun, lanjutnya, awal tahun ini sudah muncul rencana senilai US$1,3 miliar.
Tunda rencana
Head Treasury Bank Mandiri Sugiarto membenarkan bahwa bank BUMN itu tengah menunda rencana masuk pasar untuk mencari pinjaman valas dalam bentuk obligasi. Hal ini karena kondisi keuangan dunia sedang goncang.
Tahun ini, Bank Mandiri mengajukan pinjaman obligasi valas sebesar US$300 juta. Namun, Sugiarto belum bisa memastikan kapan rencana itu akan direalisasikan. Demikian pula mengenai besaran pinjaman bilateral, dia enggan menyebutkannya.
Belum lama ini, Mandiri mendapatkan komitmen pinjaman bilateral dari empat lembaga keuangan asing sebesar US$700 juta. Pinjaman itu direncanakan untuk membayar utang yang jatuh tempo dan ekspansi usaha.
Selain Mandiri, bank BUMN yang tengah memburu valas adalah Bank Negara Indonesia. Bank ini memerlukan valas sekitar US$550 juta, yang US$150 juta diperoleh dari Standard Chartered Bank.
Bank Rakyat Indonesia juga tengah menyiapkan rencana menghimpun dana sebesar US$150 juta untuk menutupi utang obligasi subordinasi yang jatuh tempo pada Oktober 2008.
Sukatmo Padmosukarso, Wakil Dirut Bank Internasional Indonesia, mengakui tahun ini banknya mencari pinjaman valas sebesar US$100 juta. "Tahun ini kalau pasarnya baik kami eksekusi, karena dana tersebut untuk balance management."
Business Head Treasury Bank Danamon Alfin Tolib mengatakan saat ini bank itu masih menunggu pasar tenang untuk menerbitkan obligasi senilai Rp1,2 triliun. Namun, lanjutnya, belum ada rencana pinjaman valas.
Aviliani, ekonom Indef, mengingatkan BI harus mewaspadai dan berhati-hati dalam memberikan izin kepada bank untuk meminjam valas. Hal ini karena bisa memengaruhi likuiditas rupiah dan makroekonomi. (11) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KRONIKA
Liberty terbuka bagi umum - KRONIKA
Mode Esmond buka program S1 - KRONIKA
3 WNI terima bintang jasa - KRONIKA
KPK telusuri 7 kasus korupsi - Putusan PK bermasalah agar dibatalkan