Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 10/05/2008
PEMBACA MENULIS
Pariwisata nasional minim promosi
Gelap. Itu kesan pertama ketika kembali ke Tanah Air ketika menginjakkan kaki di jalur imigrasi Bandara Soekarno-Hatta. Penerangan yang ada di sekitar bandara ataupun di tengah kota metropolitan sebagai pintu gerbang negara sungguh jauh jika dibandingkan dengan beberapa negara yang saya singgahi seperti Arab Saudi, Turki, China, dan Singapura. Gemerlapnya lampu-lampu di negara tersebut seolah tersenyum lebar menyambut turis. Namun, penerangan di negeri sendiri terlihat 'cemberut'.
Belum lagi sambutan yang ditampilkan di layar-layar TV selama antre di imigrasi bandara. Rupanya akibat minimnya video promosi pariwisata para pelancong disuguhi dengan sinetron yang tampil dengan kekerasan dan wajah bengis para artis. Sungguh sayang sekali alat komunikasi yang satu ini tidak dimanfaatkan secara maksimal menampilkan bagaimana indahnya alam Indonesia.
Pendingin udara pun rasanya tidak dapat mengakomodasi jumlah penjelajah dunia yang masuk, sehingga kesan bandara yang kuno ini semakin kuno karena panas dan pengap.
Belum lagi ketika keluar bandara dan mulai masuk jalan-jalan Jakarta yang penuh dengan sepeda motor bagaikan 'laron' terbang di perempatan, malunya hati melihat fakta tidak ada dukungan pada promosi pariwisata dalam rangka Visit Indonesia 2008. Negara lain sudah melaju dengan sarana transportasi massal yang bersih dan penggunanya yang disiplin.
Sebenarnya objek wisata yang dijual di luar negeri banyak dimiliki oleh Indonesia. Sebut saja Goa di Guilin, juga banyak dijumpai di Tanah Air, terutama di pantai selatan Jawa Tengah. Kesultanan Ottoman di Turki ada pula di Yogyakarta dan Solo. Masjid Biru di Istanbul tidak beda dengan Istiqlal di Jakarta.
Permasalahannya adalah komitmen untuk membenahi dan menjadikannya 'dagangan' yang menarik untuk dikunjungi. Iri rasanya melihat manusia berdatangan berduyun-duyun mengunjungi Kota Terlarang, antrean panjang pengunjung di Aya Sofia yang berubah fungsi dari gereja menjadi masjid. Keramaian bisa dijumpai pula saat berlayar di Guilin dengan sajian sayur mayur petani sekitar dan ikan danau yang dijajakan di atas perahu. Sebenarnya potensi Indonesia tidak kalah.
Jangan sumber dana atau anggaran dijadikan alasan. Jangan pula masalah lebarnya stakeholder dijadikan kendala. Coba benahi dari lingkup terkecil dahulu dengan mengajak masyarakat dan pemda setempat terlibat.
Aselina Trihastuti
Jatiwaringin, Jakarta
Program Desa Ternak Makmur Baznas
Bertempat di Desa Ajok Geres Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meresmikan program Desa Ternak Makmur yang merupakan garis besar program Baznas bertajuk Indonesia Makmur.
Program ini merupakan kerja sama antara Baznas dan Bamuis BNI. Acara ini ditandai dengan serah terima bantuan sebesar Rp106 juta dari Bamuis BNI kepada Baznas.
Desa Ternak Makmur merupakan program pendampingan kelompok peternak potensial dengan sistem dana bergulir untuk mengembangkan potensi ternak wilayah. Sesuai dengan namanya program ini mendampingi peternak agar memiliki kemampuan beternak yang baik dan ditempatkan dalam satu klaster.
Terdapat empat klaster yang sudah dibentuk yaitu Detem Mataram (NTB), Detem Lembata (NTT), Detem Cililin (Jabar), dan Detem Payakumbuh (Sumbar). Program Detem berhasil memberdayakan 268 kepala keluarga.
Saat ini sektor pertanian dan peternakan sedang digalakkan untuk mewujudkan ketahanan pangan. NTB merupakan daerah kaya ternak dan lahannya mendukung untuk budi daya ternak.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)
Jl Kebon Sirih Raya No. 57
Jakarta 10340
bisnis.com
Berita Lain
- Maskapai penerbangan domestik diminta garap rute Medan-Phuket
- Pemerintah berkeras naikkan tarif tol Sedyatmo
- Pembentukan BUMN pengelola lalu lintas udara dipercepat
- 'Hidupkan lagi inti-plasma pertanian'
- Depdag: Lonjakan harga dipicu ulah spekulan