Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 13/05/2008

Kurnia Luwuk lunasi utang dana reboisasi HTI di Toili

MAKASSAR:  PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS), pemegang 60% saham dari PT Berkat Hutan Pusaka yang bergerak di bidang hutan tanaman industri (HTI) di Kab. Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, telah melunasi pinjaman dana reboisasi kepada pemerintah.

Erwin Yatim, Direktur PT Berkat Hutan Pusaka (BHP), mengatakan  utang dana DR yang dilunasi pihak  KLS sebagai pemegang saham sebesar Rp6,6 miliar pinjaman dana reboisasi (DR) kepada pemerintah dari Rp8,2 miliar, sedangkan sisanya adalah kewajiban dari pihak Inhutani I.

Sebagaimana diketahui, saham PT KLS pada PT BHP sebesar 60%, sedangkan 40% adalah milik Inhutani I.

"Jadi KLS sudah tidak punya utang lagi kepada negara. Kalau Inhutani I mau menjual sahamnya sebesar 40%, kemungkinan PT KLS bisa membelinya, sehingga seluruh pinjaman DR akan dilunasi oleh KLS," katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Erwin mengatakan pihak KLS tidak ingin menanggung beban utang kepada negara sehingga melunasi seluruh kewajibannya kepada negara. "Karena itu kami akan membicarakan lagi bagaimana kelanjutan dari HTI tersebut setelah dengan pihak Inhutani I," tegasnya.

Erwin menjelaskan potensi kayu yang ada di HTI tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan komersial. Namun, katanya, keputusan ini harus dibicarakan dalam rapat pemegang saham antara KLS dan Inhutani I.

Erwin mengatakan areal hutan tanaman industri (HTI) milik PT BHP di dataran Toili ini telah dirambah masyarakat. Luas areal yang dirambah diperkirakan  sudah mencapai 3.000 hektare.

"Perambahan ini dilakukan sejak tiga tahun terakhir oleh masyarakat sekitarnya untuk mengambil hasil kayu."

Oleh M. Noor Korompot
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Industri kakao kurangi produksi
  • Era emas kakao di ujung tanduk
  • BUDI DAYA
    Lahan nganggur agar digarap petani
  • BUDI DAYA
    Tim Deptan & MUI ke Selandia Baru